Arsip untuk 'Manajemen'Kategori

Ngomong Sendiri

Selasa, 12 September, 2006

Oleh : Charly Buchari
Pernah menonton film lawas Indonesia yang berjudul “Badut-Badut Kota”? Mungkin tidak banyak yang menontonnya. Secara garis besar film yang diperankan oleh Dede Yusuf ini menceritakan sepasang suami-istri yang hidup di bawah garis marjin kehidupan di kota Jakarta, sang suami berprofesi sebagai seorang badut. Suatu hari, dengan sikap jujurnya sang suami menemukan “segepok” dokumen dan uang milik seorang kaya dan mengembalikannya. Singkat cerita, saat ditawarkan sang orang kaya uang atas jasanya mengembalikan dokumen dan uang tersebut, sang suami menolak. Dia hanya ingin tahu ilmu yang membuat sang orang kaya menjadi makmur. Melihat kesungguhan sang suami, orang kaya tadipun membagikan ilmu wirausahanya kepadanya. Setelah mendapatkan ilmu sang orang kaya, pasangan suami-istri itu pun memutuskan membuka sebuah warung makan. Dengan bantuan modal sang orang kaya, disediakannyalah sebuah lokasi warung makan dan perangkat yang diperlukannya. Tetapi, tidak begitu banyak orang yang datang ke warung makan tersebut. Sang suami berjalan mengitari bangunan-bangunan besar di pusat kota sembari mempromosikan warung makannya, namun dirasa cukup tidak efektif mempromosikan ke satu-satu orang saja dengan media brosur kertas.
Hingga pada suatu saat, sang suami duduk di sebuah lobi gedung perkantoran di pusat kota. Beberapa orang berpakaian necis menghampiri meja announcer yang dijaga seorang wanita, setelah tidak beberapa lama sang wanita mengumumkan sebuah panggilan yang kira-kira berbunyi: “kepada driver Bapak Suhardi dari PT Rahayu Putra harap menuju lobi.” Tak lama sebuah kendaraan roda empat menghampiri pintu depan lobi, lelaki tadi pun naik mobil dan segera menghilang. Setelah memperhatikan beberapa fenomena tersebut, sang suami pemilik warung makan itu pun mencoba hal yang sama. Pesannya pun tidak jauh dari yang sudah-sudah, hanya mengganti namanya dan dari Rumah Makan miliknya. Jadi, dari saat itu sang suami tersebut hanya mengitari gedung-gedung perkantoran hanya menyampaikan pesan tersebut kepada announcer dan segera berpindah ke gedung perkantoran lainnya. Alhasil, rumah makannya pun semakin sering terdengar oleh orang-orang dan efeknya membuat rumah makannya semakin ramai, dan bisa disimpulkan sebagai happy ending.
Ide mempromosikan rumah makan seperti cerita film tersebut mungkin cukup unik, masih mengenai usaha mempromosikan rumah makan baru namun kali ini merupakan cara yang sudah menjadi rahasia umum namun tetap efektif. Sang pemilik rumah makan meminjam kendaraan roda empat milik kolega dan sahabatnya dan memarkirkannya di tempat parkir rumah makannya selama beberapa malam untuk memberikan kesan bahwa rumah makan tersebut selalu ramai dan dipenuhi oleh para pengujung. Hasilnya pun cukup luar biasa, banyak orang yang lewat di depan rumah makan tersebut menjadi penasaran dan mampir untuk mencoba masakan rumah makan tersebut, biaya iklan? Tidak ada sama sekali! Cerdik ya.
Itu di Indonesia, usaha sejenis pun juga dianut oleh pemasar di luar negeri. Kita dapat ambil contoh perusahaan London’s Cake Creative Consultancy di Newcastle, mereka mengumpulkan kaleng-kaleng kosong Kratingdaeng, lalu kaleng-kaleng kosong tersebut ditempatkan di berbagai tong sampah dekat dengan bar dan pub di penjuru negeri. Hal ini mengesankan bahwa Kratingdaeng sangat diminati oleh banyak orang. Efeknya dalam waktu singkat Kratingdaeng pun menjadi populer di Eropa.
Gaya pemasaran ini cukup efektif, secara kasat mata calon konsumen terpengaruh dengan fakta bahwa produk tersebut cukup baik karena “terlihat” memang begitu. Pengaruh “fakta yang terlihat” ini sungguh menjadi daya tarik tersendiri bagi calon konsumen baru untuk mencoba produk yang ditawarkan tersebut. Kesan dan fakta yang “berkata” tersebut sebenarnya merupakan advertising yang murah dan elegan, para pemasar hanya perlu mencari kesan atau keadaan yang bagaimana yang dapat menunjukkan bahwa produk mereka adalah baik dan sedang digandrungi oleh target konsumen mereka. Setelah menemukan kesan atau keadaan tersebut, tinggal dikondisikan dan dikomunikasikan secara wajar kepada target konsumen dan sim salabim! Hasilnya pun luar biasa! Seakan berkebalikan dengan pemasaran umumnya dimana berupaya “meneriakkan dengan kencang” mengenai produk yang ditawarkan kepada target konsumennya, semakin sering dan kencang meneriakkannya maka diharapkan banyak target konsumen yang segera “terpengaruh” untuk mencoba dan tujuan akhirnya sebagai konsumen mereka. Namun, semakin sering dan kencang meneriakkannya berarti semakin deras pula budget yang perlu dianggarkan. Semakin sering mengiklankan produk di media massa seperti televisi dan media cetak berarti memperbesar pendanaan terhadapnya, yang sangat disayangkan bahwa karena terlalu banyak produk yang menggunakan cara ini, konsumen pun cenderung “mengacuhkan” teriakan-teriakan yang ada walaupun masih ada kemungkinan sub conscious/bawah sadar konsumen terpengaruh oleh seringnya gempuran iklan tersebut.
Dengan berpedoman prinsip diversifikasi cara pemasaran, sebagai pendamping kegiatan teriakan lantang, menciptakan kesan dan fakta yang bisa ngomong sendiri tidaklah salah untuk dimanfaatkan. Mari bersiap dan berinovasi!

Angkringan

Selasa, 12 September, 2006

Oleh : Charly Buchari
Setiap ingin bersantai sejenak untuk melepaskan kepenatan kerja di Jakarta dan memiliki waktu libur cukup panjang seperti akhir pekan, saya memilih untuk mengunjungi Jogja tempat saya pernah menuntut ilmu. Dan, malam hari adalah waktu paling tepat bagi saya untuk mengarungi kota yang begitu indah dengan kerlipan lampu dan keramaian khas Jogja. Selain meyakini kota Jogja sebagai kota budaya dan pendidikan, saya menyebut kota ini sebagai kota makanan. Bermacam jenis makanan, dari yang tradisional hingga makanan wong londo (orang barat) pun tersedia. Jika saya di Jogja malam hari, makan di angkringan tidak pernah saya lewatkan. Secara sederhana, angkringan bisa digambarkan sebagai sebuah tempat makan dimana gerobak makan disulap sekalian sebagai meja makan dan dilengkapi dengan bangku panjang. Hidangannya beragam, dari sayur, gorengan, sate dan minuman hangat seperti teh, jahe, jeruk, susu dan lainnya.
Warung angkringan ini selalu penuh oleh berbagai kalangan, dari pelajar hingga eksekutif kantoran. Biasanya konsumen selalu berinteraksi satu dengan yang lain. Ada saja yang dibicarakan, dari keadaan sekitar hingga politik negara. Selain itu, konsumen dengan mudah memilih makanan dan minuman yang disediakan, dan tidaklah diharamkan untuk melakukan eksperimen dengan “membuat” sesuatu yang baru. Saya sendiri pernah meminta kepada penjual untuk membuat minuman susu jahe dingin, dari namanya bisa dibayangkan minuman itu terdiri dari susu cair biasa ditambah jahe yang cukup pedas dan ditambah dengan es batu. Setelah dicoba minuman ini pun menjadi favorit saya jika datang ke angkringan. Sate telur puyuh yang sudah digoreng dengan kuah semur manis pun sering diminta oleh konsumen untuk dibakar atau dipanggang dulu di bara api tempat memasak air sebelum dihidangkan. Banyak bentuk yang tidak biasa jika kita amati perilaku konsumen atas makanan mereka.
Suasana akrab antar konsumen dengan penjual sebagai “moderator” perbincangan berubah menjadi sebuah forum diskusi dan tukar-fikiran yang cukup hangat, walaupun konsumen yang ada belumlah saling kenal sebelumnya. Selagi berinteraksi, tetap saja makanan menjadi sasaran para konsumen sesaat giliran berbicara mereka sedang digunakan oleh konsumen lainnya. Tidak jarang para konsumen meninggalkan warung angkringan tersebut setelah menghabiskan waktu hingga 1 hingga 2 jam lamanya, dengan resiko membayar harga makanan cukup banyak.
Konsep community dan customization yang ditempuh oleh banyak para penjual warung angkringan ini terbukti efektif menarik banyak konsumen untuk kembali datang ke warung mereka di masa mendatang. Loyalitas konsumen terbentuk dengan sendirinya karena didukung oleh budaya customization di sana, setiap konsumen diperbolehkan memilih dan mencoba untuk melakukan suatu hal baru dari bahan makanan dan minuman yang tersedia, dan juga memiliki kesempatan yang sama dengan yang lain untuk mengungkapkan sebuah topik pembicaraan dan mengutarakan pendapatnya masing-masing. Komunitas pun terbentuk dan tentunya tetap menjadi pelanggan setia bagi warung angkringan tersebut, selama komunitas tersebut memiliki kesempatan untuk “melakukan” apa yang diinginkan dan merasa nyaman atas keadaan di sana, maka aliran keuntungan pun tetap mengalir.
Adaptasi konsep angkringan ini oleh para pemain bisnis yang lebih modern bisa kita lihat kepada usaha pabrikan mobil Mercedes Benz, yang menyediakan jasa customization atas keinginan mobil dari para konsumen mereka, dan pabrikan mobil Jerman ini pun tidak segan-segan memberikan dukungan penuh kepada kelompok komunitas pengguna produk mereka berupa memberikan akses penuh untuk mengungkapkan keinginan mereka dan mimpi mereka atas produk Mercedez Benz ke depannya. Pabrikan ponsel dengan market share terbesar di Indonesia yaitu NOKIA pun melakukan hal yang sama untuk produk premium mereka. Communicator adalah produk NOKIA yang ditujukan kepada pengguna dari kalangan eksekutif dan profesional, NOKIA memberikan akses kepada komunitas pengguna produk communicator ini untuk mencoba produk ataupun software baru khusus bagi anggota komunitas ini, mereka bebas memberikan masukan dan testimonial atas produk tersebut. Customization pun menjadi senjata andalan NOKIA untuk memberikan kepuasan dan meningkatkan loyalitas konsumen mereka.
Dalam dunia asuransi pun ini bukan hal baru. Kita mengenal dengan taylor product dimana tertanggung memiliki kesempatan untuk mengajukan benefit dan/atau jaminan atas resiko yang ingin dialihkan kepada penanggung. Secara mendasar, rasio kecukupan bilangan besar memang harus dipenuhi untuk memenuhi konsep customization tersebut, sebagai alternatif banyak perusahaan asuransi yang memberikan konsep limited customization dimana calon tertanggung diberikan hak untuk memilih beberapa resiko perluasan yang ingin dipertanggungkan selain resiko dasar. Dengan memperhatikan kondisi industri perasuransian di Indonesia yang sedang berkembang ini, diharapakan konsep customization ini menjadi sebagai salah satu senjata penting untuk lebih menggalakkan perindustrian asuransi. Dengan didukung oleh akses cukup luas bagi komunitas pengguna jasa asuransi ini akan mempertinggi loyalitas konsumen yang telah ada dan diharapkan akan menjadi “agen rahasia” kepada calon tertanggung lainnya. Tugas para praktisi perasuransian tinggal mencari langkah aplikatif untuk menerapkan konsep community dan customization ini kepada pasarnya. Mari bersiap dan berinovasi!

Sepuluh (10) Kepribadian Orang Sukses

Jumat, 25 Agustus, 2006

oleh Charly Buchari

“The best way to predict the future is to create it.” – Alan Kay 

Suatu kesuksesan memiliki banyak definisi dan variasi tolok ukur. Beberapa dari kita meyakini, bahwa kesuksesan berarti mencapai posisi tertinggi di kantor, variasi lainnya bermakna memiliki kecukupan finansial tertentu. Ada sebagian lagi mewujudkan kesuksesan sebagai sebuah predikat penghargaan dari kolega dan khalayak atas prestasinya. Dari bermacam definisi dan tolok ukur itu, satu hal yang dapat disimpulkan bahwa kesuksesan merupakan pencapaian impian melalui sebuah proses terstruktur dan terencana. Contohnya, si A mendefinisikan sukses jika dia mampu mencapai manajer pemasaran di tempat kerjanya. Usaha untuk “memuluskan” kesuksesan tersebut, A memutuskan untuk belajar kembali di institusi pendidikan S2 dan mengikuti beberapa seminar pemasaran. Tentu saja, banyak hal yang perlu dipersiapkan, baik itu material dan sikap pribadinya. Bentuk material berupa dana dan waktu merupakan hal yang pasti harus dipersiapkan, lalu perlu juga ditunjang dengan sikap pribadi dalam menyikapi proses pencapaian kesuksesan itu sendiri. 

Merujuk kepada Jennie S. Bev yaitu seorang konsultan, entrepreneur, penulis dan edukator bertempat tinggal di San Francisco Bay Area dan merupakan seorang Indonesia yang “sukses” berkompetisi pada iklim “ketat” Amerika. Beliau mengedepankan 10 unsur kepribadian seorang sukses (baik dari segi keuangan dan prestasi) yang berdasarkan pada komunikasi dan pergaulannya dengan para billionaire dan beberapa pengusaha sukses. Sepuluh sikap itu adalah sebagai berikut: 

Satu, keberanian untuk berinisiatif. Kekuatan yang sebenarnya tidak lagi menjadi rahasia atas kesuksesan orang-orang terknenal yaitu mereka selalu punya ide-ide cemerlang! Seorang Donald Trump yang “mendunia” karena superioritasnya di bidang Real Estate awalnya berproses dari status bangkrut dan akhirnya berpredikat Raja Real Estate, adalah contoh dari seorang yang jenius dan berani berinisiatif. Kita tentu mengenal serial TV The Apprentice, kontes Miss Universe, Online University bernama TrumpUniversity.com, bahkan di negara asalnya boneka Donald adalah sebuah icon dan produk laris selain buku-buku bestseller-nya. Dan inisiatif adalah kekayaan semua orang, tinggal orang itu mau atau tidak untuk berinisiatif mengemukakan ide-idenya. 

Dua, tepat waktu. Sebuah hal yang pasti untuk semua orang di dunia ini tanpa terkecuali adalah bahwa kita memiliki jumlah waktu yang sama yaitu 24 jam sehari. Seorang yang menepati janji dan tepat waktu menunjukkan bahwa dia adalah seorang yang memiliki kemampuan mengatur/manage sesuatu yang paling terbatas tersebut. Kemampuan untuk hadir sesuai janji adalah kunci dari semua keberhasilan, terutama keberhasilan berbisnis dan berinteraksi. Memberikan perhatian lebih terhadap waktu merupakan pencerminan dari respek terhadap diri sendiri dan kolega dan mitra kita. 

Tiga, senang melayani dan memberi. Sebuah rumus sukses dari banyak orang sukses adalah mampu memimpin, namun sebuah additional attribute dari sikap kepemimpinan adalah kebiasaan melayani dan memberi. The more you give to others, the more respect you get in return. Dan, keikhlasan adalah kunci untuk sifat ini. Kebaikan lain akan terus mengalir tanpa henti saat kita mampu memberi dan melayani dengan ikhlas. Ini mungkin bisa dibilang sebagai bonus saja! Tetapi, setidaknnya dengan memberi dan melayani berarti menunjukkan kepada teman, kolega serta rekan kita betapa suksesnya diri kita sehingga membuat orang lebih yakin bermitra dan bergaul dengan diri kita.  

Empat, membuka diri terlebih dahulu. Barangkali kita pernah bertemu orang yang selalu mau tahu tentang hal pribadi orang lain namun dia terus menutup diri agar jati dirinya tidak terbuka. Mereka biasanya hidup dalam ketakutan dan kecurigaan, dan selalu berprasangka buruk kepada siapa saja yang dijumpainya. Sikap ini adalah unsur yang tidak dimiliki banyak orang sukses. Rasa percaya dan kebesaran hati untuk membuka diri terhadap lawan bicara merupakan cermin bahwa kita nyaman dengan diri sendiri, lantas tidak ada yang perlu ditutupi, itulah yang dicari oleh para partner sejati dan sebagian besar dari kita akan setuju bahwa tidak banyak orang yang mau bekerja sama dengan orang yang misterius, betul kan? 

Lima, senang bekerja sama dan membina hubungan baik. Kemampuan bekerja sama dalam tim adalah salah satu kunci keberhasilan utama. Kembali kita mengambil contoh Donald Trump. Dalam serial TV The Apprentice, Trump memiliki tim yang loyal dan menjadi perpanjangan tangan dirinya dalam menemukan para calon “orang kepercayaan” yang baru. Pada akhirnya, Trump akan memiliki sebuah tim yang sangat loyal dan bervisi sama dengan menciptakan jaringan kerja yang baik, sehingga jalan menuju sukses itu semakin terbuka lebar. 

Enam, senang mempelajari hal-hal baru. Ciputra dan Aburizal Bakrie adalah seorang yang bisa dikatakan sebagai orang sukses dalam bidangnya yaitu commerce. Tapi saat mereka mendirikan universitas, apakah mereka beralih sebagai seorang pendidik? Atau mereka sendiri sebenarnya adalah profesor? Jelas tidak, mereka tetap seorang entrepreneur, namun dengan kegemarannya mencari hal-hal baru serta langsung menerapkannya, maka dunia bisnis semakin terbuka luas baginya. Dunia bisnis ibarat sebagai tempat bermain yang laus dan tidak terbatas. Jadi senang belajar dan mencari hal baru adalah sebuah sikap kesuksesan. 

Tujuh, jarang mengeluh, profesionalisme adalah yang paling utama. Lance Armstrong pernah berkata, “There are two kinds of days: good days and great days.” Hanya ada dua macam hari: hari yang baik dan hari yang sangat baik. Adalah baik jika kita tidak pernah mengeluh, walaupun suatu hari mungkin kita akan jatuh dan gagal. Mengapa? Karena setiap kali gagal, itu adalah kesempatan bagi diri kita untuk belajar mengatasi kegagalan itu sendiri sehingga tidak terulang lagi di kemudian hari. Hari di mana kita gagal tetap sebagai a good day (hari yang baik). 

Delapan, berani menanggung resiko. Jelas, tanpa ini tidak ada kesempatan sama sekali untuk menuju sukses. Sebenarnya setiap hari kita menanggung resiko, walaupun tidak disadari penuh. Resiko hanyalah akan berakibat dua macam: be a good or a great day. Jadi, jadi tidak perlu dikhawatirkan lagi bukan? Kegagalan pun hanyalah kesempatan belajar untuk tidak mengulangi hal yang sama di kemudian hari dan tentunya ambang kepada kesuksesan akan lebih dekat. 

Sembilan, tidak menunjukkan kekhawatiran (berpikir positif setiap saat). Berpikir positif adalah environment atau default state di mana keseluruhan eksistensi kita berada. Jika kita gunakan pikiran negatif sebagai default state, maka semua perbuatan kita akan berdasarkan ini (kekhawatiran atau cemas). Dengan pikiran positif, maka perbuatan kita akan didasarkan oleh getaran positif, sehingga hal positif akan semakin besar kemungkinannya. Semakin positif kita menyikapi hambatan, semakin besar kesempatan kita menemukan penyelesaian atas hambatan tersebut. 

Sepuluh, “comfortable in their own skinMenutup-nutupi sesuatu maupun supaya tampak “lebih” dari lawan bicaranya. Pernah bertemu dengan orang sukses yang rendah diri alias tidak nyaman dengan diri mereka sendiri? Tidak ada tentunya. Kenyamanan menjadi diri sendiri tidak perlu ditutup-tutupi supaya lawan bicara tidak tersinggung karena setiap orang mempunyai tempat tersendiri di dunia yang tidak bisa digantikan oleh orang lain. Saya adalah saya, mereka adalah mereka. Dengan menjadi diri saya sendiri, saya tidak akan mengusik keberadaan mereka. Jika mereka merasa tidak nyaman, itu bukan karena kepribadian saya, namun karena mindset yang berbeda dan kekurangmampuan mereka dalam mencapai kenyamanan dengan diri sendiri. Sikap dasar orang sukses tersebut di atas barangkali dapat menjadi cerminan dan memuluskan langkah kita untuk mencapai kesuksesan yang kita impikan, tinggal kita yang memutuskan. Siap untuk sukses? Sampai bertemu lagi di puncak gunung kesuksesan!

Word Of Mouth/Buzz Marketing

Kamis, 10 Agustus, 2006

Beberapa dekade belakangan ini, cukup banyak inovasi dan sistem baru pemasaran yang digunakan beberapa institusi ataupun perorangan. Inti dari pemasaran yang ada adalah bagaimana membuat barang atau jasa yang dijual dapat diketahui oleh target pasar, dan sangat jamak banyak produsen barang atau jasa mengiklankan dan mempromosikan di media yang dapat dilihat secara massal seperti televisi, radio, koran, majalah dan lainnya. Produsen “berharap” banyak orang yang melihat dan memperhatikan “ajakan” tersebut, dengan penuh-sesaknya iklan menuntut mereka untuk menghasilkan sebuah iklan yang eye-catching yang pada akhirnya mengajak target pasar mereka untuk membeli atau memanfaatkan produk mereka.Tulisan advetorial atau article-like advertisement adalah sebuah metode lain yang belakangan muncul. Sering kali kita membaca sebuah media dimana terdapat sebuah kolom yang berupa artikel dimana menjelaskan sebuah fenomena yang sedang trend ataupun sebuah cara hidup yang baik dan pada ujung-ujungnya dengan jelas menyebutkan bahwa produk atau jasa merekalah yang memenuhi kriteria tersebut. Tidak eye-catching? Tidak juga. Buktinya karena judul yang menarik dan terlihat sebagai sebuah berita atau artikel, banyak pembaca yang “terhanyut” kepada artikel tersebut. Ini juga didukung oleh rasa “bosan” dengan iklan-iklan yang terus muncul di setiap halaman dan membuat pembaca mengabaikan iklan-iklan tersebut dan memfokuskan kepada artikel atau kolom tertentu saja. 

Make a buzz!Di Yogyakarta, foto copy merupakan sebuah jasa yang cukup ramai apalagi jika berada di lingkungan kampus, seperti halnya mahasiswa lain saya pernah memfoto-copy materi di sebuah agen foto copy di dekat kampus. Sembari menunggu, saya memperhatikan tulisan-tulisan ataupun gambar yang menempel di dinding ruang kerja foto copy tersebut. Di sebuah tulisan yang cukup besar di satu sisi dinding menuliskan: “Jika anda puas katakan kepada orang lain, dan jika anda tidak puas katakan kepada kami.” Sederhana ya, mungkin kita juga sering melihatnya ya. Dari rangkaian kata-kata tersebut banyak interpretasi orang terhadapnya tetapi secara sederhana dan paling umum juga diinginkan oleh penyedia jasa adalah katakanlah kepada orang lain bahwa jasa foto copy kami lebih baik dari yang lain, jika anda tidak merasa sama atau lebih buruk dari yang lain maka beritahu kepada kami apa yang kurang.Ini adalah metode luar biasa! Selain konsumen berperan sebagai penikmat jasa atau produk, tetapi juga menjadi seorang agen pengiklan dan tenaga marketing gratis bagi jasa mereka. Selain itu mereka juga menjadi seorang free-of-charge advisor yang tentunya mempermudah produsen mengetahui kekurangan jasa atau produk mereka di mata pelanggan. Konsep ini diadopsi oleh industri-industri barang atau jasa yang lebih besar untuk memasarkan produk atau jasa mereka, yang tentunya dengan inovasi dan ide-ide yang lebih brilian.Hampir semua industri tidak menampikkan untuk mengimplementasikan konsep tersebut, dan menempatkannya sebagai salah satu metode marketing mereka selain metode lainnya. Dan tidak jarang menyebutkan bahwa ini adalah metode utama mereka. Pernah mendengar J.CO donuts and Coffee, Dapur Cokelat, Burger Blenger dan Roti Boy? Awal “kebesaran” mereka adalah word of mouth atau buzz marketing. Pelanggan menjadi advisor dan juga pemasar bagi calon konsumen lainnya. Setiap produk atau jasa yang diberikan dikemas dalam sebuah cerita! Betul hanya sebuah cerita! Cerita bahwa produk ini unik dan pantas dan cocok bagi target pasar. Mungkin kita mendengar cerita bahwa Burger Blenger dikemas dengan harga yang “pas” dan lebih lagi nyaman di lidah dan perut, J.Co donuts adalah donat premium yang tidak sama dengan donat lainnya, Starbucks adalah tempat yang nyaman dan ekslusif untuk minum kopi, Circle-K adalah toko 24 jam yang memberikan kenyamanan bagi siapa saja, Ayam Ny Suharti dengan resep nenek-moyang dan banyak cerita lainnya. Cerita-cerita ini begitu hebat dan membuat konsumen tertarik untuk mencoba bahkan “terperangkap” atas cerita itu sendiri.Sebuah artikel di majalan MIX edisi 07/III/20 Juli-20 Agustus 2006 menyampaikan beberapa kiat sederhana untuk menunjang sistem pemasaran word of mouth atau buzz marketing ini, ada tiga langkah utama untuk menerapkan sistem pemasaran ini yaitu sebagai berikut:·        Create a story. Syarat utama untuk membuat produk kita menjadi pembicaraan adalah bagaimana menciptakan sebuah cerita yang menarik tentang produk atau usaha kita. Cerita menarik tersebut bisa berupa tentang sejarah dan ide munculnya produk, proses pembuatan produk, sang pembuat produk atau pemilik dan atau keunikan produk.·        Share the story. Cerita yang menarik akan menjadi percuma saat tidak bisa didengar dan diketahui oleh banyak orang. Untuk itu, buat beberapa medium yang memungkinkan pelanggan yang mengetahui cerita tersebut untuk menceritakannya kepada orang lain. Contoh sederhana adalah dengan membuat kemasan, kantong plastik, goody bag dan sebagainya yang bisa digunakan pelanggan berulang-ulang dan menarik perhatian.·        The best buzzer is your employee. Jangan lupakan karyawan sebagai pelanggan pertama yang paling berpotensi dan dipercaya. Ingatkan selalu kepada karyawan untuk menceritakan tentang produk dan merek yang dijual kemanapun mereka pergi. Cara sederhana adalah dengan membekali mereka seragam, tas, dan berbagai peralatan yang bisa membuat mereka menjadi iklan berjalan. 

Konsistensi dan disiplin memang kunci dari segala banyak keberhasilan dan kesuksesan, tidak terkecuali untuk sistem pemasaran ini. Dengan menyandingkan beberapa sistem peasaran dengan sistem ini, diharapkan dapat memberikan hasil maksimal bagi produsen dan tentunya juga tidak “mengacuhkan” kebutuhan konsumen. Bbbbbuuuuuuuzzzzzzzzzzzzzzzzzz….. prepare your buzz!

Psycho-Marketing

Jumat, 12 Mei, 2006

Oleh Charly Buchari 

“If you can dream it, you can do it.”– Walt Disney

“The best way to predict the future is to create it.”– Alan Kay

Berapa harga rata-rata satu porsi makanan cepat saji yang sering kita nikmati hampir setiap harinya, 5 ribu, 10 ribu, 20 ribu atau 50 ribu? Pergeseran nilaipun bergeser, nominal 5 ribu hingga 10 ribu pun sekarang menjadi nilai yang tidak besar lagi, bahkan di beberapa kalangan angka tersebut sebagai “uang receh.”

Mari kita jalan-jalan ke sebuah restoran pizza untuk sekedar “mengganjal” perut ini. Sudahlah jamak bagi kita kalau kita datang pada sebuah restoran cepat saji akan ditawarkan bermacam-macam paket makanan, mungkin saja namanya Pake Hemat 1, Paket Hemat 2, Paket Combo dan sebagainya. Jika kita memilih paket hemat 1 barangkali kita akan mendapatkan paket standar, paket hemat 2 mungkin makanan seperti yang di paket hemat 1 ditambah jenis lain, dan seterusnya.

Ada yang unik di sebuah restoran pizza, terdapat 2 paket menarik yang mereka tawarkan. Pertama paket A dimana terdapat pizza standar seharga Rp 5.000,00 dan konsumen dapat menambahkan jenis bahan lain dengan harga Rp 500,00 per jenis bahan tambahannya. Paket lainnya yang dinamakan pake B adalah paket full/lengkap seharga Rp. 10.000,00 dan konsumen juga memiliki hak untuk mengurangi jenis bahan yang tidak diinginkan dan harga pizza akan berkurang Rp 500,00 untuk setiap jenis bahan yang dikurangi. Timbul pertanyaan atas paket yang unik tersebut, mengapa restoran pizza tersebut menerapkan strategi ini dan paket mana yang paling laku.

Sorang ahli pemasaran Irwin Levin dan beberapa rekannya melakukan penelitian di beberapa negara termasuk negara asal pizza yaitu Italia, menemukan sebuah hasil fenomena yang unik, ternyata Paket B lebih menguntungkan dari Paket A bagi restoran pizza yang dijadikan sampel tersebut. Berdasarkan tulisan Harry Susianto, Pengajar Perilaku Ekonomi Fakultas Psikologi UI di Tabloid KONTAN No. 27 Tahun X edisi 10 April 2006, bahwa manusia lebih cenderung mempertahankan yang dikuasainya dari pada melepaskannya, terdapat sensasi “rugi” jika harus melepas banyak hal yang akan didapatkan walaupun dengan kompensasi membayar lebih.

Pada kasus pizza di atas, untuk konsumen yang memilih paket A, mereka lebih cenderung menambahkan jenis bahan yang lebih sedikit yang berarti menambahkan lebih sedikit, bentuk ekualitasnya, konsumen telah memiliki sebuah barang yang dianggap sesuai dengan standar mereka, dan memiliki kesempatan menambahkan hal-hal ekstra yang mereka fikir pada saat itu “tidak diperlukan” maka konsumen akan cenderung menambah sedikit saja atau bahkan tidak menambah sama sekali. Untuk konsumen yang memilih paket B, mereka cenderung mengurangi jenis bahan yang telah ada, secara umum, konsumen pada jenis ini telah menganggap hal tersebut sesuai dengan kebutuhannya atau dengan kata lain sesuai dengan standar mereka, dan mereka akan lebih cenderung mempertahankan standar tersebut dengan cara mengurangi fitur-fitur lebih sedikit atau bahkan tidak mengurangi sama sekali walaupun dengan kompensasi membayar lebih tinggi. Pada prakteknya dalam sistem pemasaran, penghasil barang atau jasa mengemas sebuah paket ultimate atas produk mereka yang memberikan fitur lebih dari standar dan memberikan pilihan konsumen untuk mengurangi fitur yang telah ada pada produk barang atau jasa tersebut dengan kompensasi pengurangan harga produk tersebut. Dengan pizza, teori tersebut sukses berat, mau mencoba untuk bidang produksi barang atau jasa kita sekarang?