Arsip untuk 'Kreatifitas & Inovasi'Kategori

Shoot, Shoot on Goal atau Ball Possession?

Rabu, 26 Juli, 2006

Oleh: Charly Buchari

Any change, even a change for the better, is always accompanied by drawbacks and discomforts Arnold BennetIf we don’t change, we don’t grow. If we don’t grow, we aren’t really living – Gail Shenny

Sebagaimana dengan diskusi sebelumnya, kita telah melihat bahwa kemenangan sebuah tim pada ajang Piala Dunia 2006 di Jerman kemarin—secara statistika—umumnya ditentukan oleh banyaknya shoot, shoot on goal dan ball possession. Setelah melihat kembali, muncul sebuah pertanyaan iseng namun cukup bermanfaat jika ditinjau lagi yaitu tentang elemen apa yang paling menentukan kemenangan tim dari ketiga elemen tersebut, apakah shoot, shoot on goal atau ball possession? Mungkin implementasi kepada kehidupan kita adalah sikap apa yang paling perlu kita tonjolkan untuk memperbesar peluang kita untuk mengatasi masalah dan keadaan buruk yang menunggu di depan kita, apakah kita harus memposisikan lebih banyak mencoba dengan cara apa saja, memperbanyak cara “cerdas” atau menyediakan waktu lebih lama untuk “menguasai” permasalahan?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, penulis telah melakukan sebuah uji statistika yaitu bernama uji korelasi nonparametrik dengan memanfaatkan metode Kendall’s tau-b dengan menggunakan aplikasi SPSS ver 13.0 terhadap 51 pertandingan yang menghasilkan hasil ekstrim yaitu menang dan kalah, jadi tidak memasukkan pertandingan yang berhasil akhir seri. Dari 51 pertandingan tersebut, dicatat seluruh shoot, shoot on goal, dan ball possession apakah lebih banyak, sama atau lebih sedikit untuk setiap status yaitu menang dan kalah. Dengan kata lain, untuk status tim menang dicatat apakah shoot, shoot on goal dan ball possession tim menang lebih banyak, sama atau lebih sedikit jika dibandingkan dengan tim kalah. Demikian juga untuk perlakuan tim yang kalah atau status kalah dibandingkan dengan tim menang. Untuk summary hasil uji statistika dan penjelasan angka pada uji tersebut dapat dilihat berikut ini:

Nonparametric Correlations

shoot Shoot on goal Ball possession status
Kendall’s tau_b Shoot Correlation coeff

Sig. (2-tailed)

N

1

.000

.102

.711

.000

102

.478

.000

102

.492

.000

102

Shoot on goal Correlation coeff

Sig. (2-tailed)

N

.711

.000

102

1

.000.

102

.339

.000

102

.671

.000

102

Ball Possession Correlation coeff

Sig. (2-tailed)

N

.478

.000

102

.339

.000

102

1

.000

.102

.199

.038

102

Status Correlation coeff

Sig. (2-tailed)

N

.492

.000

102

.671

.000

102

.199

.038

102

1

.000.

102

· Angka korelasi antara status dengan shoot adalah +0,492 dengan signifikansi 0,000. Ini berarti menang atau kalah sebuah tim bergantung kepada jumlah shoot yang dilakukan, jika lebih banyak shoot yang dilakukan berarti kemungkinan menang akan lebih banyak. Signifikansi 0,000 yang lebih kecil daripada 0,05 berarti hubungan tersebut benar-benar signifikan. Sedangkan angka korelasi 0,492 merupakan nilai kekuatan korelasinya, karena nilainya hampir mendekati 0,5 berarti korelasinya cukup.

· Angka korelasi antara status dengan shoot on goal adalah +0,671 dengan signifikansi 0,000. Ini berarti menang dan kalah sebuah tim sangat bergantung kepada jumlah shoot on goal yang dilakukan. Semakin banyak shoot on goal yang terjadi semakin besar kemungkinan menang sebuah tim. Angka korelasi 0,671 yang lebih besar dari 0,5 berarti memiliki kekuatan korelasi kuat dan angka signifikansi 0,000 yang masih dibawah 0,05 berarti angka tersebut benar-benar signifikan.

· Angka korelasi antara status dengan ball possession adalah +0,199 dengan signifikansi 0,038. Ini berarti menang dan kalah sebuah tim bergantung pada lamanya tim ”memegang” bola, Semakin lama berarti semakin memperbesar peluang menang. Angka korelasi 0,199 jauh lebih kecil dari 0,5 berarti kekuatan korelasinya tidaklah begitu besar sedangkan angka signifikansi 0,038 yang masih di bawah 0,05 menunjukkan kekuatan korelasi tersebut ada namun tidak begitu signifikan.

Kesimpulan dari uji tersebut menunjukkan bahwa shoot on goal menempati korelasi paling besar atas kemenangan sebuah tim. Dengan memperbesar peluang shoot on goal berarti peluang kemenangan akan lebih besar, dan sebaliknya jika peluang ini lebih rendah mengindikasikan kemenangan akan tidak lebih mudah untuk didapatkan.

Kerja Cerdas itu lebih baik

Statistika menunjukkan shoot, shoot on goal dan ball possession dapat memiliki hubungan positif untuk meningkatkan peluang kemenangan sebuah tim. Jika ditilik lebih lanjut, ternyata shoot on goal merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap menang-kalahnya sebuah tim jika dibandingkan dengan 2 faktor lainnya. Posisi kedua ditentukan oleh shoot dan terakhir oleh ball possession. Secara analogis kita bisa melihat bahwa menerapkan penyelesaian yang mengarah ke sumber “masalah” merupakan sebuah langkah paling efektif untuk memperbesar kemungkinan mengatasi masalah, selanjutnya diikuti dengan banyaknya cara yang dilakukan tanpa melihat apakah itu mengena kepada sumber masalah atau tidak dan yang terakhir bergantung kepada waktu yang diperlukan untuk “menguasai” dan dipakai untuk mengatasi masalah.Aha! Rupanya cukup sederhana untuk menyelesaikan masalah ya, kita seyogyanya harus menemukan apa yang menjadi “sumber” utama atas hambatan yang dihadapi dalam mencapai tujuan kita. Analisa SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, Treat) mungkin salah satu tool paling umum yang kita jumpai untuk menganalisa primary source of problem.Setelah mampu menganalisa dan menentukan sumber masalah, kita perlu untuk menyusun bermacam alternatif cara efektif dan mengarah kepada sumber masalah tersebut. Semakin banyak alternatif cara efektif diharapkan akan memperbesar peluang keberhasilan. Analisa SWOT diri dan sumber daya diri (resources) akan juga banyak membantu dalam menerapkan cara ini.Semua langkah ini merupakan gambaran umum dan makro atas manifestasi kerja cerdas, sesuai dengan falsafah sepakbola “tidak ada yang pasti di dalam sepakbola.” Banyak hal yang mempengaruhi sebuah keberhasilan dan kemenangan, tetapi setidaknya faktor tersebut merupakan umumnya yang menentukan sebuah kemenangan, jadi dengan belajar kepada sepakbola bahwa kerja cerdas merupakan faktor yang umumnya menentukan sebuah keberhasilan menghadapi masalah dan situasi buruk dan tentunya ditunjang faktor penentu lainnya. Siap untuk menang? Mari kerja cerdas dengan shot on goal! Gooooooooll……….!

Belajar Nilai Sepak Bola = Belajar Nilai Keunggulan!

Rabu, 26 Juli, 2006

Oleh : Charly Buchari
“If you have always done it that way, it is probably wrong.” – Charles Kettering
“99 percent of success is built on failure.” – Charles Kettering

Putaran final Piala Dunia Jerman 2006 telah usai, tidak sedikit yang bergembira karena tim jagoan mereka keluar menjadi kampiun pemegang lambang supremasi internasional tertinggi tersebut. Namun, tidak sedikit pula yang bersedih karena jagoan yang dielu-elukan harus pulang lebih dulu sebelum mencapai babak final. Banyak hal yang bisa kita ambil dari ajang yang dikemas secara profesional tersebut. FIFA sebagai pemegang otoritas penuh atas penyelenggaraan ajang 4 tahunan tersebut cukup dapat dibilang sukses, FIFA mengemas setiap pertandingan sebagai sebuah momen yang sangat disayangkan untuk dilewatkan oleh penonton. Tidak itu saja, FIFA pun mengemas detail pertandingan dan menampilkan informasi dan update terbaru kondisi tim dan lainnya.
Tontonan menarik ini seakan menjadi sebuah sarana hiburan yang hampir tidak dilewati oleh penggemar bola, FIFA sendiri mengklaim piala dunia saat ini ditonton lebih dari 1 milyar pasang mata di seluruh dunia. Kegembiraan, kesedihan dan emosi para pemain seakan-akan menular kepada setiap penonton. Decak kagum dan teriakan histeris tidak lagi aneh saat terdengar di malam-malam yang biasanya hening itu.
Setelah ajang tersebut selesai, selain peristiwa selebrasi Italia sebagai Juara Dunia 2006 tidak ada lagi yang dapat kita rasakan selain rasa senang dan puas atas suguhan yang fenomenal tersebut. Betul kah tidak ada lagi yang bisa kita ambil dari ajang internasional tersebut untuk kehidupan pribadi kita? tentu saja masih ada! Bahkan kita dapat menempatkan nilai-nilai sepak bola tersebut pada sikap kita sehari-hari. Menarik ya?
Penulis telah mengumpulan beberapa data statistik resmi semua pertandingan yang dibuat oleh badan sepak bola dunia yaitu FIFA pada situs resminya yaitu di www.fifaworldcup.com dan mensarikan beberapa statistik menjadi sumber analogi atas kehidupan sehari-hari kita. Dalam kesempatan ini, penulis mengambil 3 komponen data statistik yang dianggap bisa mewakili analogi tersebut. Data tersebut adalah Shooting (Jumlah tembakan yang dilakukan), Shoot on Goal (Jumlah tembakan yang mengarah ke gawang lawan), dan Ball Possession (lamanya tim menguasai bola dalam pertandingan tersebut).
Dari 51 kemenangan di putaran final Piala Dunia 2006, berdasarkan statistik resmi milik FIFA tersebut didapat sebagai berikut:
 37 kemenangan (72,55%) didapat setelah melakukan tembakan lebih banyak dari lawan, 12 kemenangan (23,53%) didapat walaupun melakukan tembakan lebih sedikit dari lawan mereka sedangkan 2 kemenangan (3,92%) didapat walaupun melakukan tembakan sama dengan tembakan lawan.
 41 kemenangan (80,39%) didapat setelah melakukan tembakan terarah ke gawang lebih banyak dari lawan, 7 kemenangan (13,73%) diraih walaupun melakukan tembakan terarah ke gawang lebih sedikit dari lawan dan 3 kemenangan (5,88%) didapat setelah melakukan tembakan terarah ke gawang sama dengan lawan mereka.
 28 kemenangan (54,90%) didapat setelah menguasai bola lebih lama dari lawan, sedangkan 18 kemenangan (35,29%) didapat walaupun menguasai bola tidak lebih lama dari lawan dan 5 kemenangan (9,80%) didapat setelah menguasai bola sama lamanya dengan lawan.

Sebelum masuk ke data-data tersebut dan bagaimana implementasinya kepada sikap hidup kita, mari kita menggambarkan pertandingan itu sendiri dengan beberapa kondisi kehidupan kita. Pertama, pertandingan itu kita gambarkan sebagai sebuah kondisi kehidupan dimana kita dihadapkan pada sebuah keadaan dan permasalahan. Kita adalah sebuah tim yang harus menghadapi sebuah tim lawan. Tujuan kita adalah mengalahkan tim tersebut dengan mengimplementasikan strategi dan mengoptimalkan kemampuan kita. Dalam kehidupan kita, lawan adalah kondisi atau secara ekstrim sebagai masalah yang harus diselesaikan, dalam kurun waktu tertentu kita memiliki pilihan yaitu mengatasi masalah itu, tidak menyelesaikannya hingga berlarut-larut sehingga harus dibantu dan “dipaksakan” oleh kondisi lainnya (analogi untuk perpanjangan waktu dan pinalti) atau bahkan harus mengaku kalah tidak mampu menyelesaikannya.
Selanjutnya, shooting adalah penggambaran atas usaha kita melakukan penetrasi kepada masalah yang dihadapi, semakin banyak kita melakukan shooting berarti kita semakin banyak mencoba untuk melakukan berbagai cara untuk mengatasi masalah. Shoot on goal merupakan implementasi dari usaha yang efektif untuk menanggulangi masalah, kita berusaha melakukan penyelesaian dengan berfokus “langsung” ke arah sumber masalah yang diharapkan dapat segera mengatasi masalah. Dan terakhir, yaitu ball possession. Ini merupakan gambaran atas waktu yang diperlukan untuk mengimplementasikan strategi dan “menahan” efek-efek masalah tersebut pada implementasi strategi tersebut, semakin banyak kita memiliki waktu untuk menerapkan rencana penyelesaian kita maka diharapkan kita dapat lebih baik melakukan “serangan” langsung ke sumber masalah.

Penerapan Football Value
Kita kembali kepada data-data statistik tersebut, lebih dari 50% kemenangan itu ditentukan dan didapat jika kita menguasai ketiga elemen penting tersebut. Dari shooting, 72,55% kemenangan ditentukan oleh jumlah tembakan lebih banyak dari lawan, lalu 80,39% kemenangan didapat setelah melakukan tendangan ke arah gawang lebih banyak dan 54,90% kemenangan mencatatkan waktu penguasaan bola lebih lama dari lawan.
Jika kita menganalogikannya kepada sikap cara hidup manusia, lebih dari 50% jaminan atas kesuksesan dalam mengatasi keadaan buruk dan masalah terletak pada banyaknya usaha kita untuk melakukan bervariasi cara penyelesaian, melakukan lebih banyak cara efektif yang memang didasarkan atas tujuan mengatasi “sumber masalah” dan terakhir harus lebih banyak menguasai waktu yang tersedia untuk membuat rencana dan menerapkannya.
Memang, tidak semua keberhasilan mengatasi masalah ditentukan oleh faktor ini. Tetapi setidaknya saat kita dapat menguasai ketiga faktor ini minimal kita telah mencapai minimal 50% jalan untuk mengatasi setiap masalah dan keadaan buruk yang dapat menghadapi tujuan. Secara logika, kalau kita hanya berusaha dengan biasa-biasa saja, seperti halnya dengan statistik kemenangan di atas, potensi untuk menangnya pun tergolong kecil, hanya di bawah 10% saja. Jika kita hanya melakukan “serangan” yang biasa-biasa saja hanya 3,92% saja potensi kemenangan kita, dari segi penerapan cara efektif pun kita hanya berpeluang 5,88% saja untuk menang dan terakhir jika kita memberikan cukup waktu masalah tersebut berkembang sehingga hampir menyamai waktu kita, kesempatan untuk menang pun hanya 9,80% saja.
Kalau begitu, lebih baik kalah dari ketiga hal tersebut saja jika ingin memiliki kemungkinan untuk menang lebih besar, jika kita mengacu kepada data tersebut! Ada benarnya memang, walaupun potensi kemenangan akan tercapai lebih besar dari hanya melakukan yang “biasa-biasa” saja, jika kita tidak unggul sama sekali dari masalah dan kondisi tersebut, kita juga harus kembali melihat bahwa kemungkinan untuk berhasilnya pun masih di bawah 50% dan juga berarti potensi kekalahannya lebih besar dari 50%!
Dari hal tersebut, mungkin akan bijak bagi kita untuk selalu lebih unggul dari masalah yang kita hadapi dengan cara melakukan bervariasi penyelesaian dan implementasi strategi dan rencana lebih efektif. Belajar dari sepak bola pun terasa nikmat seperti memainkan dan menontonnya bukan? Mari belajar lebih banyak dari sepak bola, walaupun kita tidak dapat menjadi bintang sepakbola, kita bisa menjadi “bintang” di bidang kita dengan belajar dari sepak bola! “GOOOOOOOOLLLLLL……….!!!”

maximize your brain!

Senin, 22 Mei, 2006

oleh Charly Buchari

Sistem pendidikan kita, dan masyarakat modern pada umumnya, bersikap tidak adil terhadap separuh bagian otak. Dalam sistem pendidikan kita saat ini, perhatian yang diberikan kepada belahan otak kanan sangat minimal dibandingkan dengan pelatihan yang berlimpah terhadap belahan otak kiri.

(Roger Sperry, Penerima Hadiah Nobel Laureate Bidang Fisiologi dan Ilmu kedokteran)

Left Brain(Logical, Judging, Evaluating) Right brain(Creative, Idea-generating)
Deals with:

  • Language
  • Logic
  • Linearity (step-by-step approaches)
  • Numbers and sequence
  • Analysis
Deals with:

  • Images/imaginationColors/geometry
  • Pattern, face, and map recognition
  • Rhythm/music
  • Dimension
  • Parallel processing

Pada awal era 1970-an, Dr. Roger Sperry, seorang penerima Nobel untuk bidang fisiologi dan kedokteran, merintis riset yang melahirkan gagasan populer tetnang pemikiran “otak kiri” dan “otak kanan”. Beliau dan koleganya menyimpulkan bahwa kedua belahan otak cenderung mengkhususkan diri pada pemikiran tertentu. Otak kiri bertanggung jawab terutama untuk memproses hal-hal  yang berkait dengan logika, bahasa, perincian, pola pikir matematis dan analisis, sedangkan otak kanan memproses hal-hal yang terkait dengan ritme, warna, hubungan spasial, imajinasi, dan sintesis.Dengan sistem pendidikan yang “lebih” menekankan pada kegiatan “otak kiri” maka “kreativitas dan inovasi” terkubur dengan sendirinya. Sehingga di dunia kerjapun, keteraturan dan efisiensi sering kali mendapat penghargaan dengan mengorbankan imajinasi dan kreatifitas. Akibatnya kita mungkin menyikapi tugas pekerjaan sehari-hari dengan lebih berdasarkan bias “otak kiri” tanpa adanya daya kreatififitas untuk membuat inovasi dalam tugas pekerjaan tersebut.Tidak pernah ada kata “terlambat”, inovasi dan kreatifitas merupakan hal-hal yang tidak tabu untuk dilakukan, pembebasan dan implementasi pemikiran inovatif dan kreatif akan lebih membuat “sehat” pribadi personal secara psikologis dan memberikan manfaat jangka panjang bagi institusi dimana kita bekerja.Selamat berinovasi dan berkreatifitas!sumber:

  1. J. Gelb, Michael: Present Ourself!
  2. Alfaro-LeFevre: Critical Thinking and Clinical Judgment: A Pratical Approach

miliki kreatifitas untuk menjadi inovatif!

Senin, 22 Mei, 2006

oleh: charly buchari 

“Money never starts an idea; it is the idea that starts the money.”– William J. Cameron

“Imagination is more important than knowledge.”– Albert Einstein

“If you can dream it, you can do it.”– Walt Disney

“The best way to predict the future is to create it.”–Alan Kay

Budaya adalah Total gabungan dari nilai, norma, asumsi, kepercayaan dan cara hidup yang dikembangkan oleh sebuah kelompok orang dan ditransmisikan dari satu generasi ke generasi lainnya.

Inovasi adalah :

  • Adopsi sebuah praktek, proses, atau paradigma baru oleh sebuah komunitas – tidak hanya sebuah produk atau jasa baru.
  • Proses adaptasi, pengaturan atau percepatan dari hal yang telah ada dengan tujuan memberikan nilai tambah.

Kreatifitas adalah Usaha untuk membuat sesuatu menjadi ada dan bersifat unik dimana berasal dari orisinilitas pemikiran yang umumnya tidak muncul dengan cara yang biasa.

Banyak perusahaan yang berupaya untuk menciptakan budaya yang baik untuk mencapai visi dan misi-nya, salah satu budaya yang banyak dikembangkan oleh perusahaan adalah inovatif. Jika kita berada pada satu dari sekian banyak institusi pekerjaan yang salah satu budayanya adalah inovatif, maka bersyukurlah dan itu adalah berita bagus! Kalau ada berita bagus tentu ada berita buruknya, berita buruknya adalah banyak dari kita menginginkan budaya itu segera terwujud dalam satu malam saja!

Menurut pendapat berbagai ahli, proses inovasi lebih banyak ditentukan oleh bentuk kreatifitas. Jadi hal ini harus menjadi primary mainframe semua elemen dalam institusi yang ingin menumbukan budaya inovatif.

Memulai proses kreatifitas elemen krusial terkecil institusi—yaitu Sumber Daya Manusia-nya—merupakan langkah konkrit, memulai dengan menciptakan kreatifitas pada bidang kerja setiap hari pada akhirnya akan memberikan sebuah hasil efisien dan maksimal.

Pengungkapan ide kreatif pada suatu forum dan memberikan reward atas ide kreatif yang dinilai meningkatkan efektifitas kerja akan mendorong ide kreatif lain yang lebih kreatif tentunya!

Semoga bermanfaat dan selamat menjadi pribadi inovatif!

Pustaka:

1. Creating A Culture of Innovation dari www.ideachampion.com

2. Quote of The Day dari www.ideachampion.com

culture : creativity booster!

Jumat, 12 Mei, 2006

oleh: Charly Buchari 

“What is now proved was once only imagined.” – William Blake

“Discovery is seeing what everybody else has seen, and thinking what nobody else has thought”. – Albert Szent-Gyorgi

 

Diyakini banyak orang bahwa kultur atau budaya merupakan hal penting untuk menciptakan sebuah kepribadian personal. Ada pepatah mengatakan: "Jika ingin jadi harimau, masuklah ke kandang harimau dan engkau akan mengaum!" Pola pikir dan kepribadian akan banyak ditempa oleh yang namanya lingkungan yang memiliki kultur tertentu.

Bagaimana dengan kreativitas? jika ingin punya kreatifitas dan inovasi tinggi tentunya kita harus berada pada sebuah lingkungan berkultur inovatif dan kreatif. Tapi bagaimana kita dapat mengidentifikasi lingkungan berkultur kreatif? Kreativitas tumbuh di lingkungan yang memiliki kultur yang tidak takut akan kesalahan atau dipandang aneh, karena kultur itulah yang menyuburkan timbulnya pertanyaan dan menghormati buah pikiran. Kreativitas subur di kultur yang punya rasa ingin tahu, penuh pertanyaan, menghargai buah pikiran dan ceria. Kreativitas selalu terjadi pada orang yang menatap ke depan nun di sebelah sananya tikungan jalan dan berupaya mengantisipasi kekurangan dan masalah yang dihadapi untuk mencapai satu visi/tujuan yang dicanangkan sebelumnya.

Sekecil apapun inovasi yang dihasilkan, semua itu tentu didorong oleh kultur. Contoh inovasi yang terkesan "remeh" namun berarti besar bagi orang lain dapat dilihat pada sebuah hotel. Ceritanya: Pada suatu pagi, seorang penghuni hotel harus check out sangat pagi sekali sebelum mendapat hidangan sarapan pagi. Pihak hotel-pun melalui resepsionis sudah menyiapkan bungkusan kecil yang dikemas cukup menarik yang berisi makanan ringan, setidaknya si penghuni hotel pun tidak kelaparan untuk sementara waktu, hingga dia menemukan toko makanan atau resto yang telah buka. Kesan dihargai/empati hotel bagi penghuni hotel adalah salah satu buah hasil inovasi kecil.

Mungkin kita bisa menyebutkan kebutuhan adalah ibu dari invention/penemuan dan inovasi tetapi kita juga dapat menyatakan bahwa ayah dari inovasi itu sendiri adalah rasa keingintahuan, absurditas, ketidakpuasan, keceriaan, pertimbangan, imajinasi atau kombinasi dari hal-hal tersebut.

Tips kreatif:

 

1. Ciptakan waktu untuk menjadi kreatif . Idealnya lakukan tiga bulan setahun, di luar kantor (di hotel di luar kota). Lakukan brainstorminhg . Cari tahu apa saja guna batu bata, katung teh, atau apa saja yang tidak berkaitan dengan yang kita lakukan di kantor. Hal ini diyakini akan membentuk suatu sikap yang dibutuhkan untuk terciptanya kreatifitas dan inovasi (seperti rasa ingin tahu). Jika sikap ini telah menjadi kebiasaan maka dapat diterapkan pada hal-hal yang kita hadapi di kantor. Suatu penyelesaian atas jawaban-jawaban itu tentunya tidak bersifat imajiner tetapi dapat dilakukan/diwujudkan( workable, doable ). 

 

2. Start an 'Idea of the Month Club.' Ajaklah seluruh karyawan mulai mempertanyakan dan memandang sesuatu dengan kritis dengan menanyakan: "Bagaimana membuat hal ini lebih baik? Bagaimana kita memperbaiki pengalaman buruk pelanggan? Bagaimana cara saya memberikan nilai tambah pada produk ini?" Ditambah dengan dukungan dan perhatian dari institusi kerja berupa reward untuk inovasi dan hasil kreatifitas yang dapat diwujudkan/diterapkan, akan membuat kultur itu akan mengental dan menstimulasi ide-ide kreatif dan inovatif lanjutan untuk mencapai visi/tujuan yang telah dicanangkan.

 

3. Berinvestasi dalam kreativitas . Di toko buku banyak terdapat buku dan yang lainnya yang baik untuk melepaskan diri Anda dan karyawan Anda dari keterikatan rutinitas keseharian kantor. Ada banyak mainan. Bersenang-senanglah! Karena diyakini bahwa imajinasi akan lebih tergambarkan dengan melakukan hal yang disenangi, ini berarti berinvestasi untuk kreativitas.

 

sumber:

1. Artikel: kreativitas subur di kultur yang tidak takut salah atau berbeda ( http://www.pasarinfo.com/artikelhtml/772/5516.asp)2. Quate of The Day (www.ideachampion.com)

Multi-capacity vs Expert

Kamis, 11 Mei, 2006

oleh : Charly Buchari

“Hebat ya si Arsandi itu!” Puji Samsul.
“Iya, tidak salah lagi dia memang multi talenta! kita mau bertanya hal apa saja dia faham, dari masalah ekonomi, sosiologi, teknologi sampe teologi aja dia tahu.” Ujar Ardi lagi.
“Tapi sayang dia tidak seperti Burhan.” Timpal Firman datar.
“Maksudmu?” tanya kedua temannya hampir bersamaan.
“Walaupun Burhan tidak tahu banyak hal tapi dia tahu Teknologi Informasi sampai ke akar-akarnya, makanya dia dikenal sebagai seorang ahli dan berhasil di bidang itu!”
“Tapi Arsandi juga bisa dibilang berhasil, buktinya tulisan-tulisannya banyak beredar di surat kabar dan majalah terkenal.”
“Ya tapi dia hanya menulis dan tidak tahu mendalam seperti Burhan untuk semua bidang yang dia tahu.” kata Firman lagi.

Sewaktu kita menempatkan diri kita sebagai sebuah standar ukur atas prestasi, kita akan menemukan orang-orang yang di atas standar dan kebalikannya kita akan menemukan yang kurang dari kita. Seorang yang positif akan tidak segan memberikan pujian dan penghargaan atas prestasi yang dianggap lebih tersebut. Penggalan percakapan di atas merupakan sebuah manifestasi orang-orang positif terhadap prestasi rekan-rekannya, walaupun dengan cara pandang prestasi yang berbeda.

Menurut Motivator terkenal Tung Desem Waringin, manusia akan cenderung–secara sadar atau tidak–akan berusaha untuk mencapai apa yang dia inginkan ataupun orang lain harapkan atas dirinya. Dan beberapa orang akan termotivasi sangat besar di saat mereka sangat faham dan menyadari secara detail apa yang menjadi tujuannya, sehingga usaha mereka akan selalu fokus atas tujuan akhir tersebut.

Secara garis besar dengan melihat jumlah bidang yang dikuasai, kita dapat menggolongkan jenis prestasi menjadi dua kelompok, yaitu: multi-capacity dan expert. Apa sih yang membedakannya? Secara sederhana kita bisa menggunakan dua kata kunci yaitu “Paham” dan “Hal”. Mari kita definisikan dua kelompok tersebut dengan memanfaatkan dua kata kunci tersebut. Andi adalah multi-capacity, jadi Andi sedikit “paham” atas banyak “hal”, dan saat kita menggambarkan Andi banyak “paham” atas sedikit “hal” dan dia akan digolongkan pada kelompok expert. Semakin banyak hal yang dia pahami dengan kapasitas pengetahuan yang mencukupi maka dia akan mencapai predikat multi-capacity dan kebalikannya semakin sedikit yang dia ketahui dan mendalam maka dia akan disebut sebagai expert.

“What is our prefer?”
Sebuah pilihan memiliki sebuah sifat inheren yang kita sebut sebagai resiko, baik itu resiko yang kita anggap merugikan diri kita ataupun sebaliknya akan memberikan menguntungkan. Contohnya, Sewaktu kita lapar kita dihadapi dua pilihan yang memungkinkan yaitu makan atau tidak makan. Resiko jika kita makan adalah kita tidak lapar lagi tentunya, resiko jika tidak makan adalah kita akan tetap lapar tentunya. Bedanya resiko itu ada yang disukai dan tidak disukai.

Menjadi multi-capacity dan expert juga merupakan pilihan, siapapun dari kita memiliki hak untuk memilih apakah ingin menjadi multi-capacity atau menjadi expert tergantung kepada kita lebih “siap” dan “nyaman” di predikat apa, dan tentunya juga tergantung kepada kesesuaian dengan cita-cita kita. Siap berarti bersedia menanggung resiko yang diperkirakan ataupun tidak, menikmati seluruh proses untuk mencapai predikat multi-capacity ataupun expert menunjukkan kenyamanan dan diharapkan tentunya menunjang cita-cita tujuan kita seperti karir.

Multi-capacity
Secara kasat mata, seorang multi-capacity akan mampu melihat banyak hal dan menganalisanya sebagai sebuah pembelajaran dan proses pembentukan fakta dan kesimpulan, tentunya mereka memiliki kemampuan analisa yang sangat baik dan ini merupakan added value kelompok ini. Ciri kemampuan analisa mereka ditunjang oleh kemampuan teknik komprasi dan generalisasi yang luar biasa. Mereka mampu memandang banyak hal dan mengintisarikan ciri ataupun fitur yang serupa menjadi sebuah kelompok sehingga mampu memberikan penjelasan dan penyelesaian atas kelompok yang memiliki ciri yang sama.

Golongan multi-capacity walaupun tanpa pendidikan yang khusus, mereka mampu melakukan analisa terhadap hal-hal yang baru sekalipun, mereka hanya memerlukan “basic knowledge” atas bidang yang diamati dan mereka memiliki kemampuan untuk mengembangkan analisa mereka dengan teknik generalisasi dan komparasi berdasarkan basic knowledge tersebut.

Yang menjadi penghambat bagi orang-orang multi-capacity adalah basic knowledge itu sendiri, mereka perlu mengetahui lebih banyak basic knowledge yang beragam untuk memperkuat analisa terhadap sesuatu hal, semakin banyak berkubang dengan satu basic knowledge berarti menghilangkan kesempatan untuk mendapatkan basic knowledge bidang lain.

Expert
Dengan membalikkan keadaan multi-capacity, kita akan menemukan karakteristik kumpulan orang-orang ini. Mereka dengan bersahaja mampu menjelaskan dengan deskriptif tentang hal-hal yang berkaitan dengan bidang yang dikuasainya, mengetahui detail merupakan sebuah nilai tambah bagi diri mereka, hal-hal kecil tidak luput dari pandangan mereka. Golongan ini seakan-akan merasa tidak rela jika melewatkan setitik hal yang menyangkut bidang mereka, dan ini menjadi motivasi mereka untuk lebih mendalam mempelajari hal-hal yang bersinggungan dengan minat mereka. Dengan jalur inipun mereka akan mengetahui banyak hal, mereka akan melihat bermacam bidang dari sudut pandang bidang yang digelutinya seakan-akan mereka adalah bidang itu sendiri. Mereka menjadi rujukan banyak orang atas masalah ataupun kondisi yang menyangkut di bidang mereka, pada akhirnya mereka mampu memberikan dan menciptakan suatu teori dan forecast/ramalan.

Egoisme dan pemujaan atas diri sendiri dan bidang yang digeluti merupakan resiko siluman yang membayangi kelompok ini, individualistis adalah sebuah kesan yang dilontarkan masyarakat kepada orang yang ekstrim. Dengan perimbangan ilmu yang mereka kuasai mereka akan melihat hal-hal baru sebagai sebuah peluang untuk diamati melalui sudut pandang ilmu yang mereka miliki.

Unsur cita-cita merupakan sebuah muara sekaligus hulu bagi kehidupan kita, menjadi multi-capacity ataupun expert ditentukan oleh karakteristik cita-cita tersebut. Saat kita bercita-cita menjadi manajer umum, kita dituntut mengetahui banyak hal terhadap elemen-elemen divisi yang dipimpin, karakteristik multi-capacity lebih melekat pada posisi ini, dan di sinilah kita memulai langkah kita, membayangkan dan menggambarkan posisi manajer umum secara detail, melakukan usaha-usaha untuk menjadi multi-capacity dan akhirnya bermuara menjadi manajer umum pada kenyataannya. Saat anda berkeinginan menjadi seorang ilmuwan besar seperti Albert Enstein, anda memulai langkah awal anda dengan membayangkan secara detail dan lengkap anda sebagai ilmuwan, melakukan usah-usaha untuk memperdalam pengetahuan dan ilmu sebagai expert dan akhirnya menjadi seorang ilmuwan ataupun seorang teoritis.

Dan pada akhirnya semua di tangan anda, bagaimana anda menggambarkan diri anda dan mencari bagaimana anda bisa mencapai keinginan anda tersebut, dan tentunya diharapkan mencapai apa yang anda cita-citakan. Ingin menjadi multi-capacity ataupun expert merupakan pilihan, dan semua pilihan memiliki resiko. Jika anda lebih toleran pada resiko pada salah satu kelompok tersebut, maka pilihlah karena itu yang akan lebih menjamin diri anda lebih sukses. Jika anda setuju dengan penggambaran ini, untuk sementara kita dapat menimbang kembali cita-cita kita.