BLOG CHARLY BUCHARI

Icon

Creative & Inovative for better life

Ngomong Sendiri

Oleh : Charly Buchari
Pernah menonton film lawas Indonesia yang berjudul “Badut-Badut Kota”? Mungkin tidak banyak yang menontonnya. Secara garis besar film yang diperankan oleh Dede Yusuf ini menceritakan sepasang suami-istri yang hidup di bawah garis marjin kehidupan di kota Jakarta, sang suami berprofesi sebagai seorang badut. Suatu hari, dengan sikap jujurnya sang suami menemukan “segepok” dokumen dan uang milik seorang kaya dan mengembalikannya. Singkat cerita, saat ditawarkan sang orang kaya uang atas jasanya mengembalikan dokumen dan uang tersebut, sang suami menolak. Dia hanya ingin tahu ilmu yang membuat sang orang kaya menjadi makmur. Melihat kesungguhan sang suami, orang kaya tadipun membagikan ilmu wirausahanya kepadanya. Setelah mendapatkan ilmu sang orang kaya, pasangan suami-istri itu pun memutuskan membuka sebuah warung makan. Dengan bantuan modal sang orang kaya, disediakannyalah sebuah lokasi warung makan dan perangkat yang diperlukannya. Tetapi, tidak begitu banyak orang yang datang ke warung makan tersebut. Sang suami berjalan mengitari bangunan-bangunan besar di pusat kota sembari mempromosikan warung makannya, namun dirasa cukup tidak efektif mempromosikan ke satu-satu orang saja dengan media brosur kertas.
Hingga pada suatu saat, sang suami duduk di sebuah lobi gedung perkantoran di pusat kota. Beberapa orang berpakaian necis menghampiri meja announcer yang dijaga seorang wanita, setelah tidak beberapa lama sang wanita mengumumkan sebuah panggilan yang kira-kira berbunyi: “kepada driver Bapak Suhardi dari PT Rahayu Putra harap menuju lobi.” Tak lama sebuah kendaraan roda empat menghampiri pintu depan lobi, lelaki tadi pun naik mobil dan segera menghilang. Setelah memperhatikan beberapa fenomena tersebut, sang suami pemilik warung makan itu pun mencoba hal yang sama. Pesannya pun tidak jauh dari yang sudah-sudah, hanya mengganti namanya dan dari Rumah Makan miliknya. Jadi, dari saat itu sang suami tersebut hanya mengitari gedung-gedung perkantoran hanya menyampaikan pesan tersebut kepada announcer dan segera berpindah ke gedung perkantoran lainnya. Alhasil, rumah makannya pun semakin sering terdengar oleh orang-orang dan efeknya membuat rumah makannya semakin ramai, dan bisa disimpulkan sebagai happy ending.
Ide mempromosikan rumah makan seperti cerita film tersebut mungkin cukup unik, masih mengenai usaha mempromosikan rumah makan baru namun kali ini merupakan cara yang sudah menjadi rahasia umum namun tetap efektif. Sang pemilik rumah makan meminjam kendaraan roda empat milik kolega dan sahabatnya dan memarkirkannya di tempat parkir rumah makannya selama beberapa malam untuk memberikan kesan bahwa rumah makan tersebut selalu ramai dan dipenuhi oleh para pengujung. Hasilnya pun cukup luar biasa, banyak orang yang lewat di depan rumah makan tersebut menjadi penasaran dan mampir untuk mencoba masakan rumah makan tersebut, biaya iklan? Tidak ada sama sekali! Cerdik ya.
Itu di Indonesia, usaha sejenis pun juga dianut oleh pemasar di luar negeri. Kita dapat ambil contoh perusahaan London’s Cake Creative Consultancy di Newcastle, mereka mengumpulkan kaleng-kaleng kosong Kratingdaeng, lalu kaleng-kaleng kosong tersebut ditempatkan di berbagai tong sampah dekat dengan bar dan pub di penjuru negeri. Hal ini mengesankan bahwa Kratingdaeng sangat diminati oleh banyak orang. Efeknya dalam waktu singkat Kratingdaeng pun menjadi populer di Eropa.
Gaya pemasaran ini cukup efektif, secara kasat mata calon konsumen terpengaruh dengan fakta bahwa produk tersebut cukup baik karena “terlihat” memang begitu. Pengaruh “fakta yang terlihat” ini sungguh menjadi daya tarik tersendiri bagi calon konsumen baru untuk mencoba produk yang ditawarkan tersebut. Kesan dan fakta yang “berkata” tersebut sebenarnya merupakan advertising yang murah dan elegan, para pemasar hanya perlu mencari kesan atau keadaan yang bagaimana yang dapat menunjukkan bahwa produk mereka adalah baik dan sedang digandrungi oleh target konsumen mereka. Setelah menemukan kesan atau keadaan tersebut, tinggal dikondisikan dan dikomunikasikan secara wajar kepada target konsumen dan sim salabim! Hasilnya pun luar biasa! Seakan berkebalikan dengan pemasaran umumnya dimana berupaya “meneriakkan dengan kencang” mengenai produk yang ditawarkan kepada target konsumennya, semakin sering dan kencang meneriakkannya maka diharapkan banyak target konsumen yang segera “terpengaruh” untuk mencoba dan tujuan akhirnya sebagai konsumen mereka. Namun, semakin sering dan kencang meneriakkannya berarti semakin deras pula budget yang perlu dianggarkan. Semakin sering mengiklankan produk di media massa seperti televisi dan media cetak berarti memperbesar pendanaan terhadapnya, yang sangat disayangkan bahwa karena terlalu banyak produk yang menggunakan cara ini, konsumen pun cenderung “mengacuhkan” teriakan-teriakan yang ada walaupun masih ada kemungkinan sub conscious/bawah sadar konsumen terpengaruh oleh seringnya gempuran iklan tersebut.
Dengan berpedoman prinsip diversifikasi cara pemasaran, sebagai pendamping kegiatan teriakan lantang, menciptakan kesan dan fakta yang bisa ngomong sendiri tidaklah salah untuk dimanfaatkan. Mari bersiap dan berinovasi!

Filed under: Manajemen

4 Responses

  1. hari mengatakan:

    not too bad

  2. KUSTORO mengatakan:

    apakah hal itu bisa diterapkan pada usaha penrbitan majalah ang lagi turun oplagnya?

  3. Thomas Daniel Permana mengatakan:

    bisa < Bung Kustoro

  4. lasman silalahi mengatakan:

    pa,bagaimana pa ya,kalau kita memulai usaha kita di tempat yang susah dujamgkau angkutan………?apakah nanti usha kita itu bisa lancar……?

Leave a Reply