Arsip untuk September, 2006

Ngomong Sendiri

Selasa, 12 September, 2006

Oleh : Charly Buchari
Pernah menonton film lawas Indonesia yang berjudul “Badut-Badut Kota”? Mungkin tidak banyak yang menontonnya. Secara garis besar film yang diperankan oleh Dede Yusuf ini menceritakan sepasang suami-istri yang hidup di bawah garis marjin kehidupan di kota Jakarta, sang suami berprofesi sebagai seorang badut. Suatu hari, dengan sikap jujurnya sang suami menemukan “segepok” dokumen dan uang milik seorang kaya dan mengembalikannya. Singkat cerita, saat ditawarkan sang orang kaya uang atas jasanya mengembalikan dokumen dan uang tersebut, sang suami menolak. Dia hanya ingin tahu ilmu yang membuat sang orang kaya menjadi makmur. Melihat kesungguhan sang suami, orang kaya tadipun membagikan ilmu wirausahanya kepadanya. Setelah mendapatkan ilmu sang orang kaya, pasangan suami-istri itu pun memutuskan membuka sebuah warung makan. Dengan bantuan modal sang orang kaya, disediakannyalah sebuah lokasi warung makan dan perangkat yang diperlukannya. Tetapi, tidak begitu banyak orang yang datang ke warung makan tersebut. Sang suami berjalan mengitari bangunan-bangunan besar di pusat kota sembari mempromosikan warung makannya, namun dirasa cukup tidak efektif mempromosikan ke satu-satu orang saja dengan media brosur kertas.
Hingga pada suatu saat, sang suami duduk di sebuah lobi gedung perkantoran di pusat kota. Beberapa orang berpakaian necis menghampiri meja announcer yang dijaga seorang wanita, setelah tidak beberapa lama sang wanita mengumumkan sebuah panggilan yang kira-kira berbunyi: “kepada driver Bapak Suhardi dari PT Rahayu Putra harap menuju lobi.” Tak lama sebuah kendaraan roda empat menghampiri pintu depan lobi, lelaki tadi pun naik mobil dan segera menghilang. Setelah memperhatikan beberapa fenomena tersebut, sang suami pemilik warung makan itu pun mencoba hal yang sama. Pesannya pun tidak jauh dari yang sudah-sudah, hanya mengganti namanya dan dari Rumah Makan miliknya. Jadi, dari saat itu sang suami tersebut hanya mengitari gedung-gedung perkantoran hanya menyampaikan pesan tersebut kepada announcer dan segera berpindah ke gedung perkantoran lainnya. Alhasil, rumah makannya pun semakin sering terdengar oleh orang-orang dan efeknya membuat rumah makannya semakin ramai, dan bisa disimpulkan sebagai happy ending.
Ide mempromosikan rumah makan seperti cerita film tersebut mungkin cukup unik, masih mengenai usaha mempromosikan rumah makan baru namun kali ini merupakan cara yang sudah menjadi rahasia umum namun tetap efektif. Sang pemilik rumah makan meminjam kendaraan roda empat milik kolega dan sahabatnya dan memarkirkannya di tempat parkir rumah makannya selama beberapa malam untuk memberikan kesan bahwa rumah makan tersebut selalu ramai dan dipenuhi oleh para pengujung. Hasilnya pun cukup luar biasa, banyak orang yang lewat di depan rumah makan tersebut menjadi penasaran dan mampir untuk mencoba masakan rumah makan tersebut, biaya iklan? Tidak ada sama sekali! Cerdik ya.
Itu di Indonesia, usaha sejenis pun juga dianut oleh pemasar di luar negeri. Kita dapat ambil contoh perusahaan London’s Cake Creative Consultancy di Newcastle, mereka mengumpulkan kaleng-kaleng kosong Kratingdaeng, lalu kaleng-kaleng kosong tersebut ditempatkan di berbagai tong sampah dekat dengan bar dan pub di penjuru negeri. Hal ini mengesankan bahwa Kratingdaeng sangat diminati oleh banyak orang. Efeknya dalam waktu singkat Kratingdaeng pun menjadi populer di Eropa.
Gaya pemasaran ini cukup efektif, secara kasat mata calon konsumen terpengaruh dengan fakta bahwa produk tersebut cukup baik karena “terlihat” memang begitu. Pengaruh “fakta yang terlihat” ini sungguh menjadi daya tarik tersendiri bagi calon konsumen baru untuk mencoba produk yang ditawarkan tersebut. Kesan dan fakta yang “berkata” tersebut sebenarnya merupakan advertising yang murah dan elegan, para pemasar hanya perlu mencari kesan atau keadaan yang bagaimana yang dapat menunjukkan bahwa produk mereka adalah baik dan sedang digandrungi oleh target konsumen mereka. Setelah menemukan kesan atau keadaan tersebut, tinggal dikondisikan dan dikomunikasikan secara wajar kepada target konsumen dan sim salabim! Hasilnya pun luar biasa! Seakan berkebalikan dengan pemasaran umumnya dimana berupaya “meneriakkan dengan kencang” mengenai produk yang ditawarkan kepada target konsumennya, semakin sering dan kencang meneriakkannya maka diharapkan banyak target konsumen yang segera “terpengaruh” untuk mencoba dan tujuan akhirnya sebagai konsumen mereka. Namun, semakin sering dan kencang meneriakkannya berarti semakin deras pula budget yang perlu dianggarkan. Semakin sering mengiklankan produk di media massa seperti televisi dan media cetak berarti memperbesar pendanaan terhadapnya, yang sangat disayangkan bahwa karena terlalu banyak produk yang menggunakan cara ini, konsumen pun cenderung “mengacuhkan” teriakan-teriakan yang ada walaupun masih ada kemungkinan sub conscious/bawah sadar konsumen terpengaruh oleh seringnya gempuran iklan tersebut.
Dengan berpedoman prinsip diversifikasi cara pemasaran, sebagai pendamping kegiatan teriakan lantang, menciptakan kesan dan fakta yang bisa ngomong sendiri tidaklah salah untuk dimanfaatkan. Mari bersiap dan berinovasi!

Angkringan

Selasa, 12 September, 2006

Oleh : Charly Buchari
Setiap ingin bersantai sejenak untuk melepaskan kepenatan kerja di Jakarta dan memiliki waktu libur cukup panjang seperti akhir pekan, saya memilih untuk mengunjungi Jogja tempat saya pernah menuntut ilmu. Dan, malam hari adalah waktu paling tepat bagi saya untuk mengarungi kota yang begitu indah dengan kerlipan lampu dan keramaian khas Jogja. Selain meyakini kota Jogja sebagai kota budaya dan pendidikan, saya menyebut kota ini sebagai kota makanan. Bermacam jenis makanan, dari yang tradisional hingga makanan wong londo (orang barat) pun tersedia. Jika saya di Jogja malam hari, makan di angkringan tidak pernah saya lewatkan. Secara sederhana, angkringan bisa digambarkan sebagai sebuah tempat makan dimana gerobak makan disulap sekalian sebagai meja makan dan dilengkapi dengan bangku panjang. Hidangannya beragam, dari sayur, gorengan, sate dan minuman hangat seperti teh, jahe, jeruk, susu dan lainnya.
Warung angkringan ini selalu penuh oleh berbagai kalangan, dari pelajar hingga eksekutif kantoran. Biasanya konsumen selalu berinteraksi satu dengan yang lain. Ada saja yang dibicarakan, dari keadaan sekitar hingga politik negara. Selain itu, konsumen dengan mudah memilih makanan dan minuman yang disediakan, dan tidaklah diharamkan untuk melakukan eksperimen dengan “membuat” sesuatu yang baru. Saya sendiri pernah meminta kepada penjual untuk membuat minuman susu jahe dingin, dari namanya bisa dibayangkan minuman itu terdiri dari susu cair biasa ditambah jahe yang cukup pedas dan ditambah dengan es batu. Setelah dicoba minuman ini pun menjadi favorit saya jika datang ke angkringan. Sate telur puyuh yang sudah digoreng dengan kuah semur manis pun sering diminta oleh konsumen untuk dibakar atau dipanggang dulu di bara api tempat memasak air sebelum dihidangkan. Banyak bentuk yang tidak biasa jika kita amati perilaku konsumen atas makanan mereka.
Suasana akrab antar konsumen dengan penjual sebagai “moderator” perbincangan berubah menjadi sebuah forum diskusi dan tukar-fikiran yang cukup hangat, walaupun konsumen yang ada belumlah saling kenal sebelumnya. Selagi berinteraksi, tetap saja makanan menjadi sasaran para konsumen sesaat giliran berbicara mereka sedang digunakan oleh konsumen lainnya. Tidak jarang para konsumen meninggalkan warung angkringan tersebut setelah menghabiskan waktu hingga 1 hingga 2 jam lamanya, dengan resiko membayar harga makanan cukup banyak.
Konsep community dan customization yang ditempuh oleh banyak para penjual warung angkringan ini terbukti efektif menarik banyak konsumen untuk kembali datang ke warung mereka di masa mendatang. Loyalitas konsumen terbentuk dengan sendirinya karena didukung oleh budaya customization di sana, setiap konsumen diperbolehkan memilih dan mencoba untuk melakukan suatu hal baru dari bahan makanan dan minuman yang tersedia, dan juga memiliki kesempatan yang sama dengan yang lain untuk mengungkapkan sebuah topik pembicaraan dan mengutarakan pendapatnya masing-masing. Komunitas pun terbentuk dan tentunya tetap menjadi pelanggan setia bagi warung angkringan tersebut, selama komunitas tersebut memiliki kesempatan untuk “melakukan” apa yang diinginkan dan merasa nyaman atas keadaan di sana, maka aliran keuntungan pun tetap mengalir.
Adaptasi konsep angkringan ini oleh para pemain bisnis yang lebih modern bisa kita lihat kepada usaha pabrikan mobil Mercedes Benz, yang menyediakan jasa customization atas keinginan mobil dari para konsumen mereka, dan pabrikan mobil Jerman ini pun tidak segan-segan memberikan dukungan penuh kepada kelompok komunitas pengguna produk mereka berupa memberikan akses penuh untuk mengungkapkan keinginan mereka dan mimpi mereka atas produk Mercedez Benz ke depannya. Pabrikan ponsel dengan market share terbesar di Indonesia yaitu NOKIA pun melakukan hal yang sama untuk produk premium mereka. Communicator adalah produk NOKIA yang ditujukan kepada pengguna dari kalangan eksekutif dan profesional, NOKIA memberikan akses kepada komunitas pengguna produk communicator ini untuk mencoba produk ataupun software baru khusus bagi anggota komunitas ini, mereka bebas memberikan masukan dan testimonial atas produk tersebut. Customization pun menjadi senjata andalan NOKIA untuk memberikan kepuasan dan meningkatkan loyalitas konsumen mereka.
Dalam dunia asuransi pun ini bukan hal baru. Kita mengenal dengan taylor product dimana tertanggung memiliki kesempatan untuk mengajukan benefit dan/atau jaminan atas resiko yang ingin dialihkan kepada penanggung. Secara mendasar, rasio kecukupan bilangan besar memang harus dipenuhi untuk memenuhi konsep customization tersebut, sebagai alternatif banyak perusahaan asuransi yang memberikan konsep limited customization dimana calon tertanggung diberikan hak untuk memilih beberapa resiko perluasan yang ingin dipertanggungkan selain resiko dasar. Dengan memperhatikan kondisi industri perasuransian di Indonesia yang sedang berkembang ini, diharapakan konsep customization ini menjadi sebagai salah satu senjata penting untuk lebih menggalakkan perindustrian asuransi. Dengan didukung oleh akses cukup luas bagi komunitas pengguna jasa asuransi ini akan mempertinggi loyalitas konsumen yang telah ada dan diharapkan akan menjadi “agen rahasia” kepada calon tertanggung lainnya. Tugas para praktisi perasuransian tinggal mencari langkah aplikatif untuk menerapkan konsep community dan customization ini kepada pasarnya. Mari bersiap dan berinovasi!