Belajar Nilai Sepak Bola = Belajar Nilai Keunggulan!

Rabu, 26 Juli, 2006

Oleh : Charly Buchari
“If you have always done it that way, it is probably wrong.” – Charles Kettering
“99 percent of success is built on failure.” – Charles Kettering

Putaran final Piala Dunia Jerman 2006 telah usai, tidak sedikit yang bergembira karena tim jagoan mereka keluar menjadi kampiun pemegang lambang supremasi internasional tertinggi tersebut. Namun, tidak sedikit pula yang bersedih karena jagoan yang dielu-elukan harus pulang lebih dulu sebelum mencapai babak final. Banyak hal yang bisa kita ambil dari ajang yang dikemas secara profesional tersebut. FIFA sebagai pemegang otoritas penuh atas penyelenggaraan ajang 4 tahunan tersebut cukup dapat dibilang sukses, FIFA mengemas setiap pertandingan sebagai sebuah momen yang sangat disayangkan untuk dilewatkan oleh penonton. Tidak itu saja, FIFA pun mengemas detail pertandingan dan menampilkan informasi dan update terbaru kondisi tim dan lainnya.
Tontonan menarik ini seakan menjadi sebuah sarana hiburan yang hampir tidak dilewati oleh penggemar bola, FIFA sendiri mengklaim piala dunia saat ini ditonton lebih dari 1 milyar pasang mata di seluruh dunia. Kegembiraan, kesedihan dan emosi para pemain seakan-akan menular kepada setiap penonton. Decak kagum dan teriakan histeris tidak lagi aneh saat terdengar di malam-malam yang biasanya hening itu.
Setelah ajang tersebut selesai, selain peristiwa selebrasi Italia sebagai Juara Dunia 2006 tidak ada lagi yang dapat kita rasakan selain rasa senang dan puas atas suguhan yang fenomenal tersebut. Betul kah tidak ada lagi yang bisa kita ambil dari ajang internasional tersebut untuk kehidupan pribadi kita? tentu saja masih ada! Bahkan kita dapat menempatkan nilai-nilai sepak bola tersebut pada sikap kita sehari-hari. Menarik ya?
Penulis telah mengumpulan beberapa data statistik resmi semua pertandingan yang dibuat oleh badan sepak bola dunia yaitu FIFA pada situs resminya yaitu di www.fifaworldcup.com dan mensarikan beberapa statistik menjadi sumber analogi atas kehidupan sehari-hari kita. Dalam kesempatan ini, penulis mengambil 3 komponen data statistik yang dianggap bisa mewakili analogi tersebut. Data tersebut adalah Shooting (Jumlah tembakan yang dilakukan), Shoot on Goal (Jumlah tembakan yang mengarah ke gawang lawan), dan Ball Possession (lamanya tim menguasai bola dalam pertandingan tersebut).
Dari 51 kemenangan di putaran final Piala Dunia 2006, berdasarkan statistik resmi milik FIFA tersebut didapat sebagai berikut:
 37 kemenangan (72,55%) didapat setelah melakukan tembakan lebih banyak dari lawan, 12 kemenangan (23,53%) didapat walaupun melakukan tembakan lebih sedikit dari lawan mereka sedangkan 2 kemenangan (3,92%) didapat walaupun melakukan tembakan sama dengan tembakan lawan.
 41 kemenangan (80,39%) didapat setelah melakukan tembakan terarah ke gawang lebih banyak dari lawan, 7 kemenangan (13,73%) diraih walaupun melakukan tembakan terarah ke gawang lebih sedikit dari lawan dan 3 kemenangan (5,88%) didapat setelah melakukan tembakan terarah ke gawang sama dengan lawan mereka.
 28 kemenangan (54,90%) didapat setelah menguasai bola lebih lama dari lawan, sedangkan 18 kemenangan (35,29%) didapat walaupun menguasai bola tidak lebih lama dari lawan dan 5 kemenangan (9,80%) didapat setelah menguasai bola sama lamanya dengan lawan.

Sebelum masuk ke data-data tersebut dan bagaimana implementasinya kepada sikap hidup kita, mari kita menggambarkan pertandingan itu sendiri dengan beberapa kondisi kehidupan kita. Pertama, pertandingan itu kita gambarkan sebagai sebuah kondisi kehidupan dimana kita dihadapkan pada sebuah keadaan dan permasalahan. Kita adalah sebuah tim yang harus menghadapi sebuah tim lawan. Tujuan kita adalah mengalahkan tim tersebut dengan mengimplementasikan strategi dan mengoptimalkan kemampuan kita. Dalam kehidupan kita, lawan adalah kondisi atau secara ekstrim sebagai masalah yang harus diselesaikan, dalam kurun waktu tertentu kita memiliki pilihan yaitu mengatasi masalah itu, tidak menyelesaikannya hingga berlarut-larut sehingga harus dibantu dan “dipaksakan” oleh kondisi lainnya (analogi untuk perpanjangan waktu dan pinalti) atau bahkan harus mengaku kalah tidak mampu menyelesaikannya.
Selanjutnya, shooting adalah penggambaran atas usaha kita melakukan penetrasi kepada masalah yang dihadapi, semakin banyak kita melakukan shooting berarti kita semakin banyak mencoba untuk melakukan berbagai cara untuk mengatasi masalah. Shoot on goal merupakan implementasi dari usaha yang efektif untuk menanggulangi masalah, kita berusaha melakukan penyelesaian dengan berfokus “langsung” ke arah sumber masalah yang diharapkan dapat segera mengatasi masalah. Dan terakhir, yaitu ball possession. Ini merupakan gambaran atas waktu yang diperlukan untuk mengimplementasikan strategi dan “menahan” efek-efek masalah tersebut pada implementasi strategi tersebut, semakin banyak kita memiliki waktu untuk menerapkan rencana penyelesaian kita maka diharapkan kita dapat lebih baik melakukan “serangan” langsung ke sumber masalah.

Penerapan Football Value
Kita kembali kepada data-data statistik tersebut, lebih dari 50% kemenangan itu ditentukan dan didapat jika kita menguasai ketiga elemen penting tersebut. Dari shooting, 72,55% kemenangan ditentukan oleh jumlah tembakan lebih banyak dari lawan, lalu 80,39% kemenangan didapat setelah melakukan tendangan ke arah gawang lebih banyak dan 54,90% kemenangan mencatatkan waktu penguasaan bola lebih lama dari lawan.
Jika kita menganalogikannya kepada sikap cara hidup manusia, lebih dari 50% jaminan atas kesuksesan dalam mengatasi keadaan buruk dan masalah terletak pada banyaknya usaha kita untuk melakukan bervariasi cara penyelesaian, melakukan lebih banyak cara efektif yang memang didasarkan atas tujuan mengatasi “sumber masalah” dan terakhir harus lebih banyak menguasai waktu yang tersedia untuk membuat rencana dan menerapkannya.
Memang, tidak semua keberhasilan mengatasi masalah ditentukan oleh faktor ini. Tetapi setidaknya saat kita dapat menguasai ketiga faktor ini minimal kita telah mencapai minimal 50% jalan untuk mengatasi setiap masalah dan keadaan buruk yang dapat menghadapi tujuan. Secara logika, kalau kita hanya berusaha dengan biasa-biasa saja, seperti halnya dengan statistik kemenangan di atas, potensi untuk menangnya pun tergolong kecil, hanya di bawah 10% saja. Jika kita hanya melakukan “serangan” yang biasa-biasa saja hanya 3,92% saja potensi kemenangan kita, dari segi penerapan cara efektif pun kita hanya berpeluang 5,88% saja untuk menang dan terakhir jika kita memberikan cukup waktu masalah tersebut berkembang sehingga hampir menyamai waktu kita, kesempatan untuk menang pun hanya 9,80% saja.
Kalau begitu, lebih baik kalah dari ketiga hal tersebut saja jika ingin memiliki kemungkinan untuk menang lebih besar, jika kita mengacu kepada data tersebut! Ada benarnya memang, walaupun potensi kemenangan akan tercapai lebih besar dari hanya melakukan yang “biasa-biasa” saja, jika kita tidak unggul sama sekali dari masalah dan kondisi tersebut, kita juga harus kembali melihat bahwa kemungkinan untuk berhasilnya pun masih di bawah 50% dan juga berarti potensi kekalahannya lebih besar dari 50%!
Dari hal tersebut, mungkin akan bijak bagi kita untuk selalu lebih unggul dari masalah yang kita hadapi dengan cara melakukan bervariasi penyelesaian dan implementasi strategi dan rencana lebih efektif. Belajar dari sepak bola pun terasa nikmat seperti memainkan dan menontonnya bukan? Mari belajar lebih banyak dari sepak bola, walaupun kita tidak dapat menjadi bintang sepakbola, kita bisa menjadi “bintang” di bidang kita dengan belajar dari sepak bola! “GOOOOOOOOLLLLLL……….!!!”

Tinggalkan Balasan