Arsip untuk Juli, 2006

Shoot, Shoot on Goal atau Ball Possession?

Rabu, 26 Juli, 2006

Oleh: Charly Buchari

Any change, even a change for the better, is always accompanied by drawbacks and discomforts Arnold BennetIf we don’t change, we don’t grow. If we don’t grow, we aren’t really living – Gail Shenny

Sebagaimana dengan diskusi sebelumnya, kita telah melihat bahwa kemenangan sebuah tim pada ajang Piala Dunia 2006 di Jerman kemarin—secara statistika—umumnya ditentukan oleh banyaknya shoot, shoot on goal dan ball possession. Setelah melihat kembali, muncul sebuah pertanyaan iseng namun cukup bermanfaat jika ditinjau lagi yaitu tentang elemen apa yang paling menentukan kemenangan tim dari ketiga elemen tersebut, apakah shoot, shoot on goal atau ball possession? Mungkin implementasi kepada kehidupan kita adalah sikap apa yang paling perlu kita tonjolkan untuk memperbesar peluang kita untuk mengatasi masalah dan keadaan buruk yang menunggu di depan kita, apakah kita harus memposisikan lebih banyak mencoba dengan cara apa saja, memperbanyak cara “cerdas” atau menyediakan waktu lebih lama untuk “menguasai” permasalahan?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, penulis telah melakukan sebuah uji statistika yaitu bernama uji korelasi nonparametrik dengan memanfaatkan metode Kendall’s tau-b dengan menggunakan aplikasi SPSS ver 13.0 terhadap 51 pertandingan yang menghasilkan hasil ekstrim yaitu menang dan kalah, jadi tidak memasukkan pertandingan yang berhasil akhir seri. Dari 51 pertandingan tersebut, dicatat seluruh shoot, shoot on goal, dan ball possession apakah lebih banyak, sama atau lebih sedikit untuk setiap status yaitu menang dan kalah. Dengan kata lain, untuk status tim menang dicatat apakah shoot, shoot on goal dan ball possession tim menang lebih banyak, sama atau lebih sedikit jika dibandingkan dengan tim kalah. Demikian juga untuk perlakuan tim yang kalah atau status kalah dibandingkan dengan tim menang. Untuk summary hasil uji statistika dan penjelasan angka pada uji tersebut dapat dilihat berikut ini:

Nonparametric Correlations

shoot Shoot on goal Ball possession status
Kendall’s tau_b Shoot Correlation coeff

Sig. (2-tailed)

N

1

.000

.102

.711

.000

102

.478

.000

102

.492

.000

102

Shoot on goal Correlation coeff

Sig. (2-tailed)

N

.711

.000

102

1

.000.

102

.339

.000

102

.671

.000

102

Ball Possession Correlation coeff

Sig. (2-tailed)

N

.478

.000

102

.339

.000

102

1

.000

.102

.199

.038

102

Status Correlation coeff

Sig. (2-tailed)

N

.492

.000

102

.671

.000

102

.199

.038

102

1

.000.

102

· Angka korelasi antara status dengan shoot adalah +0,492 dengan signifikansi 0,000. Ini berarti menang atau kalah sebuah tim bergantung kepada jumlah shoot yang dilakukan, jika lebih banyak shoot yang dilakukan berarti kemungkinan menang akan lebih banyak. Signifikansi 0,000 yang lebih kecil daripada 0,05 berarti hubungan tersebut benar-benar signifikan. Sedangkan angka korelasi 0,492 merupakan nilai kekuatan korelasinya, karena nilainya hampir mendekati 0,5 berarti korelasinya cukup.

· Angka korelasi antara status dengan shoot on goal adalah +0,671 dengan signifikansi 0,000. Ini berarti menang dan kalah sebuah tim sangat bergantung kepada jumlah shoot on goal yang dilakukan. Semakin banyak shoot on goal yang terjadi semakin besar kemungkinan menang sebuah tim. Angka korelasi 0,671 yang lebih besar dari 0,5 berarti memiliki kekuatan korelasi kuat dan angka signifikansi 0,000 yang masih dibawah 0,05 berarti angka tersebut benar-benar signifikan.

· Angka korelasi antara status dengan ball possession adalah +0,199 dengan signifikansi 0,038. Ini berarti menang dan kalah sebuah tim bergantung pada lamanya tim ”memegang” bola, Semakin lama berarti semakin memperbesar peluang menang. Angka korelasi 0,199 jauh lebih kecil dari 0,5 berarti kekuatan korelasinya tidaklah begitu besar sedangkan angka signifikansi 0,038 yang masih di bawah 0,05 menunjukkan kekuatan korelasi tersebut ada namun tidak begitu signifikan.

Kesimpulan dari uji tersebut menunjukkan bahwa shoot on goal menempati korelasi paling besar atas kemenangan sebuah tim. Dengan memperbesar peluang shoot on goal berarti peluang kemenangan akan lebih besar, dan sebaliknya jika peluang ini lebih rendah mengindikasikan kemenangan akan tidak lebih mudah untuk didapatkan.

Kerja Cerdas itu lebih baik

Statistika menunjukkan shoot, shoot on goal dan ball possession dapat memiliki hubungan positif untuk meningkatkan peluang kemenangan sebuah tim. Jika ditilik lebih lanjut, ternyata shoot on goal merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap menang-kalahnya sebuah tim jika dibandingkan dengan 2 faktor lainnya. Posisi kedua ditentukan oleh shoot dan terakhir oleh ball possession. Secara analogis kita bisa melihat bahwa menerapkan penyelesaian yang mengarah ke sumber “masalah” merupakan sebuah langkah paling efektif untuk memperbesar kemungkinan mengatasi masalah, selanjutnya diikuti dengan banyaknya cara yang dilakukan tanpa melihat apakah itu mengena kepada sumber masalah atau tidak dan yang terakhir bergantung kepada waktu yang diperlukan untuk “menguasai” dan dipakai untuk mengatasi masalah.Aha! Rupanya cukup sederhana untuk menyelesaikan masalah ya, kita seyogyanya harus menemukan apa yang menjadi “sumber” utama atas hambatan yang dihadapi dalam mencapai tujuan kita. Analisa SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, Treat) mungkin salah satu tool paling umum yang kita jumpai untuk menganalisa primary source of problem.Setelah mampu menganalisa dan menentukan sumber masalah, kita perlu untuk menyusun bermacam alternatif cara efektif dan mengarah kepada sumber masalah tersebut. Semakin banyak alternatif cara efektif diharapkan akan memperbesar peluang keberhasilan. Analisa SWOT diri dan sumber daya diri (resources) akan juga banyak membantu dalam menerapkan cara ini.Semua langkah ini merupakan gambaran umum dan makro atas manifestasi kerja cerdas, sesuai dengan falsafah sepakbola “tidak ada yang pasti di dalam sepakbola.” Banyak hal yang mempengaruhi sebuah keberhasilan dan kemenangan, tetapi setidaknya faktor tersebut merupakan umumnya yang menentukan sebuah kemenangan, jadi dengan belajar kepada sepakbola bahwa kerja cerdas merupakan faktor yang umumnya menentukan sebuah keberhasilan menghadapi masalah dan situasi buruk dan tentunya ditunjang faktor penentu lainnya. Siap untuk menang? Mari kerja cerdas dengan shot on goal! Gooooooooll……….!

Belajar Nilai Sepak Bola = Belajar Nilai Keunggulan!

Rabu, 26 Juli, 2006

Oleh : Charly Buchari
“If you have always done it that way, it is probably wrong.” – Charles Kettering
“99 percent of success is built on failure.” – Charles Kettering

Putaran final Piala Dunia Jerman 2006 telah usai, tidak sedikit yang bergembira karena tim jagoan mereka keluar menjadi kampiun pemegang lambang supremasi internasional tertinggi tersebut. Namun, tidak sedikit pula yang bersedih karena jagoan yang dielu-elukan harus pulang lebih dulu sebelum mencapai babak final. Banyak hal yang bisa kita ambil dari ajang yang dikemas secara profesional tersebut. FIFA sebagai pemegang otoritas penuh atas penyelenggaraan ajang 4 tahunan tersebut cukup dapat dibilang sukses, FIFA mengemas setiap pertandingan sebagai sebuah momen yang sangat disayangkan untuk dilewatkan oleh penonton. Tidak itu saja, FIFA pun mengemas detail pertandingan dan menampilkan informasi dan update terbaru kondisi tim dan lainnya.
Tontonan menarik ini seakan menjadi sebuah sarana hiburan yang hampir tidak dilewati oleh penggemar bola, FIFA sendiri mengklaim piala dunia saat ini ditonton lebih dari 1 milyar pasang mata di seluruh dunia. Kegembiraan, kesedihan dan emosi para pemain seakan-akan menular kepada setiap penonton. Decak kagum dan teriakan histeris tidak lagi aneh saat terdengar di malam-malam yang biasanya hening itu.
Setelah ajang tersebut selesai, selain peristiwa selebrasi Italia sebagai Juara Dunia 2006 tidak ada lagi yang dapat kita rasakan selain rasa senang dan puas atas suguhan yang fenomenal tersebut. Betul kah tidak ada lagi yang bisa kita ambil dari ajang internasional tersebut untuk kehidupan pribadi kita? tentu saja masih ada! Bahkan kita dapat menempatkan nilai-nilai sepak bola tersebut pada sikap kita sehari-hari. Menarik ya?
Penulis telah mengumpulan beberapa data statistik resmi semua pertandingan yang dibuat oleh badan sepak bola dunia yaitu FIFA pada situs resminya yaitu di www.fifaworldcup.com dan mensarikan beberapa statistik menjadi sumber analogi atas kehidupan sehari-hari kita. Dalam kesempatan ini, penulis mengambil 3 komponen data statistik yang dianggap bisa mewakili analogi tersebut. Data tersebut adalah Shooting (Jumlah tembakan yang dilakukan), Shoot on Goal (Jumlah tembakan yang mengarah ke gawang lawan), dan Ball Possession (lamanya tim menguasai bola dalam pertandingan tersebut).
Dari 51 kemenangan di putaran final Piala Dunia 2006, berdasarkan statistik resmi milik FIFA tersebut didapat sebagai berikut:
 37 kemenangan (72,55%) didapat setelah melakukan tembakan lebih banyak dari lawan, 12 kemenangan (23,53%) didapat walaupun melakukan tembakan lebih sedikit dari lawan mereka sedangkan 2 kemenangan (3,92%) didapat walaupun melakukan tembakan sama dengan tembakan lawan.
 41 kemenangan (80,39%) didapat setelah melakukan tembakan terarah ke gawang lebih banyak dari lawan, 7 kemenangan (13,73%) diraih walaupun melakukan tembakan terarah ke gawang lebih sedikit dari lawan dan 3 kemenangan (5,88%) didapat setelah melakukan tembakan terarah ke gawang sama dengan lawan mereka.
 28 kemenangan (54,90%) didapat setelah menguasai bola lebih lama dari lawan, sedangkan 18 kemenangan (35,29%) didapat walaupun menguasai bola tidak lebih lama dari lawan dan 5 kemenangan (9,80%) didapat setelah menguasai bola sama lamanya dengan lawan.

Sebelum masuk ke data-data tersebut dan bagaimana implementasinya kepada sikap hidup kita, mari kita menggambarkan pertandingan itu sendiri dengan beberapa kondisi kehidupan kita. Pertama, pertandingan itu kita gambarkan sebagai sebuah kondisi kehidupan dimana kita dihadapkan pada sebuah keadaan dan permasalahan. Kita adalah sebuah tim yang harus menghadapi sebuah tim lawan. Tujuan kita adalah mengalahkan tim tersebut dengan mengimplementasikan strategi dan mengoptimalkan kemampuan kita. Dalam kehidupan kita, lawan adalah kondisi atau secara ekstrim sebagai masalah yang harus diselesaikan, dalam kurun waktu tertentu kita memiliki pilihan yaitu mengatasi masalah itu, tidak menyelesaikannya hingga berlarut-larut sehingga harus dibantu dan “dipaksakan” oleh kondisi lainnya (analogi untuk perpanjangan waktu dan pinalti) atau bahkan harus mengaku kalah tidak mampu menyelesaikannya.
Selanjutnya, shooting adalah penggambaran atas usaha kita melakukan penetrasi kepada masalah yang dihadapi, semakin banyak kita melakukan shooting berarti kita semakin banyak mencoba untuk melakukan berbagai cara untuk mengatasi masalah. Shoot on goal merupakan implementasi dari usaha yang efektif untuk menanggulangi masalah, kita berusaha melakukan penyelesaian dengan berfokus “langsung” ke arah sumber masalah yang diharapkan dapat segera mengatasi masalah. Dan terakhir, yaitu ball possession. Ini merupakan gambaran atas waktu yang diperlukan untuk mengimplementasikan strategi dan “menahan” efek-efek masalah tersebut pada implementasi strategi tersebut, semakin banyak kita memiliki waktu untuk menerapkan rencana penyelesaian kita maka diharapkan kita dapat lebih baik melakukan “serangan” langsung ke sumber masalah.

Penerapan Football Value
Kita kembali kepada data-data statistik tersebut, lebih dari 50% kemenangan itu ditentukan dan didapat jika kita menguasai ketiga elemen penting tersebut. Dari shooting, 72,55% kemenangan ditentukan oleh jumlah tembakan lebih banyak dari lawan, lalu 80,39% kemenangan didapat setelah melakukan tendangan ke arah gawang lebih banyak dan 54,90% kemenangan mencatatkan waktu penguasaan bola lebih lama dari lawan.
Jika kita menganalogikannya kepada sikap cara hidup manusia, lebih dari 50% jaminan atas kesuksesan dalam mengatasi keadaan buruk dan masalah terletak pada banyaknya usaha kita untuk melakukan bervariasi cara penyelesaian, melakukan lebih banyak cara efektif yang memang didasarkan atas tujuan mengatasi “sumber masalah” dan terakhir harus lebih banyak menguasai waktu yang tersedia untuk membuat rencana dan menerapkannya.
Memang, tidak semua keberhasilan mengatasi masalah ditentukan oleh faktor ini. Tetapi setidaknya saat kita dapat menguasai ketiga faktor ini minimal kita telah mencapai minimal 50% jalan untuk mengatasi setiap masalah dan keadaan buruk yang dapat menghadapi tujuan. Secara logika, kalau kita hanya berusaha dengan biasa-biasa saja, seperti halnya dengan statistik kemenangan di atas, potensi untuk menangnya pun tergolong kecil, hanya di bawah 10% saja. Jika kita hanya melakukan “serangan” yang biasa-biasa saja hanya 3,92% saja potensi kemenangan kita, dari segi penerapan cara efektif pun kita hanya berpeluang 5,88% saja untuk menang dan terakhir jika kita memberikan cukup waktu masalah tersebut berkembang sehingga hampir menyamai waktu kita, kesempatan untuk menang pun hanya 9,80% saja.
Kalau begitu, lebih baik kalah dari ketiga hal tersebut saja jika ingin memiliki kemungkinan untuk menang lebih besar, jika kita mengacu kepada data tersebut! Ada benarnya memang, walaupun potensi kemenangan akan tercapai lebih besar dari hanya melakukan yang “biasa-biasa” saja, jika kita tidak unggul sama sekali dari masalah dan kondisi tersebut, kita juga harus kembali melihat bahwa kemungkinan untuk berhasilnya pun masih di bawah 50% dan juga berarti potensi kekalahannya lebih besar dari 50%!
Dari hal tersebut, mungkin akan bijak bagi kita untuk selalu lebih unggul dari masalah yang kita hadapi dengan cara melakukan bervariasi penyelesaian dan implementasi strategi dan rencana lebih efektif. Belajar dari sepak bola pun terasa nikmat seperti memainkan dan menontonnya bukan? Mari belajar lebih banyak dari sepak bola, walaupun kita tidak dapat menjadi bintang sepakbola, kita bisa menjadi “bintang” di bidang kita dengan belajar dari sepak bola! “GOOOOOOOOLLLLLL……….!!!”