culture : creativity booster!

Jumat, 12 Mei, 2006

oleh: Charly Buchari 

“What is now proved was once only imagined.” – William Blake

“Discovery is seeing what everybody else has seen, and thinking what nobody else has thought”. – Albert Szent-Gyorgi

 

Diyakini banyak orang bahwa kultur atau budaya merupakan hal penting untuk menciptakan sebuah kepribadian personal. Ada pepatah mengatakan: "Jika ingin jadi harimau, masuklah ke kandang harimau dan engkau akan mengaum!" Pola pikir dan kepribadian akan banyak ditempa oleh yang namanya lingkungan yang memiliki kultur tertentu.

Bagaimana dengan kreativitas? jika ingin punya kreatifitas dan inovasi tinggi tentunya kita harus berada pada sebuah lingkungan berkultur inovatif dan kreatif. Tapi bagaimana kita dapat mengidentifikasi lingkungan berkultur kreatif? Kreativitas tumbuh di lingkungan yang memiliki kultur yang tidak takut akan kesalahan atau dipandang aneh, karena kultur itulah yang menyuburkan timbulnya pertanyaan dan menghormati buah pikiran. Kreativitas subur di kultur yang punya rasa ingin tahu, penuh pertanyaan, menghargai buah pikiran dan ceria. Kreativitas selalu terjadi pada orang yang menatap ke depan nun di sebelah sananya tikungan jalan dan berupaya mengantisipasi kekurangan dan masalah yang dihadapi untuk mencapai satu visi/tujuan yang dicanangkan sebelumnya.

Sekecil apapun inovasi yang dihasilkan, semua itu tentu didorong oleh kultur. Contoh inovasi yang terkesan "remeh" namun berarti besar bagi orang lain dapat dilihat pada sebuah hotel. Ceritanya: Pada suatu pagi, seorang penghuni hotel harus check out sangat pagi sekali sebelum mendapat hidangan sarapan pagi. Pihak hotel-pun melalui resepsionis sudah menyiapkan bungkusan kecil yang dikemas cukup menarik yang berisi makanan ringan, setidaknya si penghuni hotel pun tidak kelaparan untuk sementara waktu, hingga dia menemukan toko makanan atau resto yang telah buka. Kesan dihargai/empati hotel bagi penghuni hotel adalah salah satu buah hasil inovasi kecil.

Mungkin kita bisa menyebutkan kebutuhan adalah ibu dari invention/penemuan dan inovasi tetapi kita juga dapat menyatakan bahwa ayah dari inovasi itu sendiri adalah rasa keingintahuan, absurditas, ketidakpuasan, keceriaan, pertimbangan, imajinasi atau kombinasi dari hal-hal tersebut.

Tips kreatif:

 

1. Ciptakan waktu untuk menjadi kreatif . Idealnya lakukan tiga bulan setahun, di luar kantor (di hotel di luar kota). Lakukan brainstorminhg . Cari tahu apa saja guna batu bata, katung teh, atau apa saja yang tidak berkaitan dengan yang kita lakukan di kantor. Hal ini diyakini akan membentuk suatu sikap yang dibutuhkan untuk terciptanya kreatifitas dan inovasi (seperti rasa ingin tahu). Jika sikap ini telah menjadi kebiasaan maka dapat diterapkan pada hal-hal yang kita hadapi di kantor. Suatu penyelesaian atas jawaban-jawaban itu tentunya tidak bersifat imajiner tetapi dapat dilakukan/diwujudkan( workable, doable ). 

 

2. Start an 'Idea of the Month Club.' Ajaklah seluruh karyawan mulai mempertanyakan dan memandang sesuatu dengan kritis dengan menanyakan: "Bagaimana membuat hal ini lebih baik? Bagaimana kita memperbaiki pengalaman buruk pelanggan? Bagaimana cara saya memberikan nilai tambah pada produk ini?" Ditambah dengan dukungan dan perhatian dari institusi kerja berupa reward untuk inovasi dan hasil kreatifitas yang dapat diwujudkan/diterapkan, akan membuat kultur itu akan mengental dan menstimulasi ide-ide kreatif dan inovatif lanjutan untuk mencapai visi/tujuan yang telah dicanangkan.

 

3. Berinvestasi dalam kreativitas . Di toko buku banyak terdapat buku dan yang lainnya yang baik untuk melepaskan diri Anda dan karyawan Anda dari keterikatan rutinitas keseharian kantor. Ada banyak mainan. Bersenang-senanglah! Karena diyakini bahwa imajinasi akan lebih tergambarkan dengan melakukan hal yang disenangi, ini berarti berinvestasi untuk kreativitas.

 

sumber:

1. Artikel: kreativitas subur di kultur yang tidak takut salah atau berbeda ( http://www.pasarinfo.com/artikelhtml/772/5516.asp)2. Quate of The Day (www.ideachampion.com)

Tinggalkan Balasan