BLOG CHARLY BUCHARI

Icon

Creative & Inovative for better life

culture : creativity booster!

oleh: Charly Buchari 

“What is now proved was once only imagined.” – William Blake

“Discovery is seeing what everybody else has seen, and thinking what nobody else has thought”. – Albert Szent-Gyorgi

 

Diyakini banyak orang bahwa kultur atau budaya merupakan hal penting untuk menciptakan sebuah kepribadian personal. Ada pepatah mengatakan: "Jika ingin jadi harimau, masuklah ke kandang harimau dan engkau akan mengaum!" Pola pikir dan kepribadian akan banyak ditempa oleh yang namanya lingkungan yang memiliki kultur tertentu.

Bagaimana dengan kreativitas? jika ingin punya kreatifitas dan inovasi tinggi tentunya kita harus berada pada sebuah lingkungan berkultur inovatif dan kreatif. Tapi bagaimana kita dapat mengidentifikasi lingkungan berkultur kreatif? Kreativitas tumbuh di lingkungan yang memiliki kultur yang tidak takut akan kesalahan atau dipandang aneh, karena kultur itulah yang menyuburkan timbulnya pertanyaan dan menghormati buah pikiran. Kreativitas subur di kultur yang punya rasa ingin tahu, penuh pertanyaan, menghargai buah pikiran dan ceria. Kreativitas selalu terjadi pada orang yang menatap ke depan nun di sebelah sananya tikungan jalan dan berupaya mengantisipasi kekurangan dan masalah yang dihadapi untuk mencapai satu visi/tujuan yang dicanangkan sebelumnya.

Sekecil apapun inovasi yang dihasilkan, semua itu tentu didorong oleh kultur. Contoh inovasi yang terkesan "remeh" namun berarti besar bagi orang lain dapat dilihat pada sebuah hotel. Ceritanya: Pada suatu pagi, seorang penghuni hotel harus check out sangat pagi sekali sebelum mendapat hidangan sarapan pagi. Pihak hotel-pun melalui resepsionis sudah menyiapkan bungkusan kecil yang dikemas cukup menarik yang berisi makanan ringan, setidaknya si penghuni hotel pun tidak kelaparan untuk sementara waktu, hingga dia menemukan toko makanan atau resto yang telah buka. Kesan dihargai/empati hotel bagi penghuni hotel adalah salah satu buah hasil inovasi kecil.

Mungkin kita bisa menyebutkan kebutuhan adalah ibu dari invention/penemuan dan inovasi tetapi kita juga dapat menyatakan bahwa ayah dari inovasi itu sendiri adalah rasa keingintahuan, absurditas, ketidakpuasan, keceriaan, pertimbangan, imajinasi atau kombinasi dari hal-hal tersebut.

Tips kreatif:

 

1. Ciptakan waktu untuk menjadi kreatif . Idealnya lakukan tiga bulan setahun, di luar kantor (di hotel di luar kota). Lakukan brainstorminhg . Cari tahu apa saja guna batu bata, katung teh, atau apa saja yang tidak berkaitan dengan yang kita lakukan di kantor. Hal ini diyakini akan membentuk suatu sikap yang dibutuhkan untuk terciptanya kreatifitas dan inovasi (seperti rasa ingin tahu). Jika sikap ini telah menjadi kebiasaan maka dapat diterapkan pada hal-hal yang kita hadapi di kantor. Suatu penyelesaian atas jawaban-jawaban itu tentunya tidak bersifat imajiner tetapi dapat dilakukan/diwujudkan( workable, doable ). 

 

2. Start an 'Idea of the Month Club.' Ajaklah seluruh karyawan mulai mempertanyakan dan memandang sesuatu dengan kritis dengan menanyakan: "Bagaimana membuat hal ini lebih baik? Bagaimana kita memperbaiki pengalaman buruk pelanggan? Bagaimana cara saya memberikan nilai tambah pada produk ini?" Ditambah dengan dukungan dan perhatian dari institusi kerja berupa reward untuk inovasi dan hasil kreatifitas yang dapat diwujudkan/diterapkan, akan membuat kultur itu akan mengental dan menstimulasi ide-ide kreatif dan inovatif lanjutan untuk mencapai visi/tujuan yang telah dicanangkan.

 

3. Berinvestasi dalam kreativitas . Di toko buku banyak terdapat buku dan yang lainnya yang baik untuk melepaskan diri Anda dan karyawan Anda dari keterikatan rutinitas keseharian kantor. Ada banyak mainan. Bersenang-senanglah! Karena diyakini bahwa imajinasi akan lebih tergambarkan dengan melakukan hal yang disenangi, ini berarti berinvestasi untuk kreativitas.

 

sumber:

1. Artikel: kreativitas subur di kultur yang tidak takut salah atau berbeda ( http://www.pasarinfo.com/artikelhtml/772/5516.asp)2. Quate of The Day (www.ideachampion.com)

Filed under: Kreatifitas & Inovasi

Psycho-Marketing

Oleh Charly Buchari 

“If you can dream it, you can do it.”– Walt Disney

“The best way to predict the future is to create it.”– Alan Kay

Berapa harga rata-rata satu porsi makanan cepat saji yang sering kita nikmati hampir setiap harinya, 5 ribu, 10 ribu, 20 ribu atau 50 ribu? Pergeseran nilaipun bergeser, nominal 5 ribu hingga 10 ribu pun sekarang menjadi nilai yang tidak besar lagi, bahkan di beberapa kalangan angka tersebut sebagai “uang receh.”

Mari kita jalan-jalan ke sebuah restoran pizza untuk sekedar “mengganjal” perut ini. Sudahlah jamak bagi kita kalau kita datang pada sebuah restoran cepat saji akan ditawarkan bermacam-macam paket makanan, mungkin saja namanya Pake Hemat 1, Paket Hemat 2, Paket Combo dan sebagainya. Jika kita memilih paket hemat 1 barangkali kita akan mendapatkan paket standar, paket hemat 2 mungkin makanan seperti yang di paket hemat 1 ditambah jenis lain, dan seterusnya.

Ada yang unik di sebuah restoran pizza, terdapat 2 paket menarik yang mereka tawarkan. Pertama paket A dimana terdapat pizza standar seharga Rp 5.000,00 dan konsumen dapat menambahkan jenis bahan lain dengan harga Rp 500,00 per jenis bahan tambahannya. Paket lainnya yang dinamakan pake B adalah paket full/lengkap seharga Rp. 10.000,00 dan konsumen juga memiliki hak untuk mengurangi jenis bahan yang tidak diinginkan dan harga pizza akan berkurang Rp 500,00 untuk setiap jenis bahan yang dikurangi. Timbul pertanyaan atas paket yang unik tersebut, mengapa restoran pizza tersebut menerapkan strategi ini dan paket mana yang paling laku.

Sorang ahli pemasaran Irwin Levin dan beberapa rekannya melakukan penelitian di beberapa negara termasuk negara asal pizza yaitu Italia, menemukan sebuah hasil fenomena yang unik, ternyata Paket B lebih menguntungkan dari Paket A bagi restoran pizza yang dijadikan sampel tersebut. Berdasarkan tulisan Harry Susianto, Pengajar Perilaku Ekonomi Fakultas Psikologi UI di Tabloid KONTAN No. 27 Tahun X edisi 10 April 2006, bahwa manusia lebih cenderung mempertahankan yang dikuasainya dari pada melepaskannya, terdapat sensasi “rugi” jika harus melepas banyak hal yang akan didapatkan walaupun dengan kompensasi membayar lebih.

Pada kasus pizza di atas, untuk konsumen yang memilih paket A, mereka lebih cenderung menambahkan jenis bahan yang lebih sedikit yang berarti menambahkan lebih sedikit, bentuk ekualitasnya, konsumen telah memiliki sebuah barang yang dianggap sesuai dengan standar mereka, dan memiliki kesempatan menambahkan hal-hal ekstra yang mereka fikir pada saat itu “tidak diperlukan” maka konsumen akan cenderung menambah sedikit saja atau bahkan tidak menambah sama sekali. Untuk konsumen yang memilih paket B, mereka cenderung mengurangi jenis bahan yang telah ada, secara umum, konsumen pada jenis ini telah menganggap hal tersebut sesuai dengan kebutuhannya atau dengan kata lain sesuai dengan standar mereka, dan mereka akan lebih cenderung mempertahankan standar tersebut dengan cara mengurangi fitur-fitur lebih sedikit atau bahkan tidak mengurangi sama sekali walaupun dengan kompensasi membayar lebih tinggi. Pada prakteknya dalam sistem pemasaran, penghasil barang atau jasa mengemas sebuah paket ultimate atas produk mereka yang memberikan fitur lebih dari standar dan memberikan pilihan konsumen untuk mengurangi fitur yang telah ada pada produk barang atau jasa tersebut dengan kompensasi pengurangan harga produk tersebut. Dengan pizza, teori tersebut sukses berat, mau mencoba untuk bidang produksi barang atau jasa kita sekarang?

Filed under: Manajemen