BLOG CHARLY BUCHARI

Icon

Creative & Inovative for better life

maximize your brain!

oleh Charly Buchari

Sistem pendidikan kita, dan masyarakat modern pada umumnya, bersikap tidak adil terhadap separuh bagian otak. Dalam sistem pendidikan kita saat ini, perhatian yang diberikan kepada belahan otak kanan sangat minimal dibandingkan dengan pelatihan yang berlimpah terhadap belahan otak kiri.

(Roger Sperry, Penerima Hadiah Nobel Laureate Bidang Fisiologi dan Ilmu kedokteran)

Left Brain(Logical, Judging, Evaluating) Right brain(Creative, Idea-generating)
Deals with:

  • Language
  • Logic
  • Linearity (step-by-step approaches)
  • Numbers and sequence
  • Analysis
Deals with:

  • Images/imaginationColors/geometry
  • Pattern, face, and map recognition
  • Rhythm/music
  • Dimension
  • Parallel processing

Pada awal era 1970-an, Dr. Roger Sperry, seorang penerima Nobel untuk bidang fisiologi dan kedokteran, merintis riset yang melahirkan gagasan populer tetnang pemikiran “otak kiri” dan “otak kanan”. Beliau dan koleganya menyimpulkan bahwa kedua belahan otak cenderung mengkhususkan diri pada pemikiran tertentu. Otak kiri bertanggung jawab terutama untuk memproses hal-hal  yang berkait dengan logika, bahasa, perincian, pola pikir matematis dan analisis, sedangkan otak kanan memproses hal-hal yang terkait dengan ritme, warna, hubungan spasial, imajinasi, dan sintesis.Dengan sistem pendidikan yang “lebih” menekankan pada kegiatan “otak kiri” maka “kreativitas dan inovasi” terkubur dengan sendirinya. Sehingga di dunia kerjapun, keteraturan dan efisiensi sering kali mendapat penghargaan dengan mengorbankan imajinasi dan kreatifitas. Akibatnya kita mungkin menyikapi tugas pekerjaan sehari-hari dengan lebih berdasarkan bias “otak kiri” tanpa adanya daya kreatififitas untuk membuat inovasi dalam tugas pekerjaan tersebut.Tidak pernah ada kata “terlambat”, inovasi dan kreatifitas merupakan hal-hal yang tidak tabu untuk dilakukan, pembebasan dan implementasi pemikiran inovatif dan kreatif akan lebih membuat “sehat” pribadi personal secara psikologis dan memberikan manfaat jangka panjang bagi institusi dimana kita bekerja.Selamat berinovasi dan berkreatifitas!sumber:

  1. J. Gelb, Michael: Present Ourself!
  2. Alfaro-LeFevre: Critical Thinking and Clinical Judgment: A Pratical Approach

Filed under: Kreatifitas & Inovasi

miliki kreatifitas untuk menjadi inovatif!

oleh: charly buchari 

“Money never starts an idea; it is the idea that starts the money.”– William J. Cameron

“Imagination is more important than knowledge.”– Albert Einstein

“If you can dream it, you can do it.”– Walt Disney

“The best way to predict the future is to create it.”–Alan Kay

Budaya adalah Total gabungan dari nilai, norma, asumsi, kepercayaan dan cara hidup yang dikembangkan oleh sebuah kelompok orang dan ditransmisikan dari satu generasi ke generasi lainnya.

Inovasi adalah :

  • Adopsi sebuah praktek, proses, atau paradigma baru oleh sebuah komunitas – tidak hanya sebuah produk atau jasa baru.
  • Proses adaptasi, pengaturan atau percepatan dari hal yang telah ada dengan tujuan memberikan nilai tambah.

Kreatifitas adalah Usaha untuk membuat sesuatu menjadi ada dan bersifat unik dimana berasal dari orisinilitas pemikiran yang umumnya tidak muncul dengan cara yang biasa.

Banyak perusahaan yang berupaya untuk menciptakan budaya yang baik untuk mencapai visi dan misi-nya, salah satu budaya yang banyak dikembangkan oleh perusahaan adalah inovatif. Jika kita berada pada satu dari sekian banyak institusi pekerjaan yang salah satu budayanya adalah inovatif, maka bersyukurlah dan itu adalah berita bagus! Kalau ada berita bagus tentu ada berita buruknya, berita buruknya adalah banyak dari kita menginginkan budaya itu segera terwujud dalam satu malam saja!

Menurut pendapat berbagai ahli, proses inovasi lebih banyak ditentukan oleh bentuk kreatifitas. Jadi hal ini harus menjadi primary mainframe semua elemen dalam institusi yang ingin menumbukan budaya inovatif.

Memulai proses kreatifitas elemen krusial terkecil institusi—yaitu Sumber Daya Manusia-nya—merupakan langkah konkrit, memulai dengan menciptakan kreatifitas pada bidang kerja setiap hari pada akhirnya akan memberikan sebuah hasil efisien dan maksimal.

Pengungkapan ide kreatif pada suatu forum dan memberikan reward atas ide kreatif yang dinilai meningkatkan efektifitas kerja akan mendorong ide kreatif lain yang lebih kreatif tentunya!

Semoga bermanfaat dan selamat menjadi pribadi inovatif!

Pustaka:

1. Creating A Culture of Innovation dari www.ideachampion.com

2. Quote of The Day dari www.ideachampion.com

Filed under: Kreatifitas & Inovasi

culture : creativity booster!

oleh: Charly Buchari 

“What is now proved was once only imagined.” – William Blake

“Discovery is seeing what everybody else has seen, and thinking what nobody else has thought”. – Albert Szent-Gyorgi

 

Diyakini banyak orang bahwa kultur atau budaya merupakan hal penting untuk menciptakan sebuah kepribadian personal. Ada pepatah mengatakan: "Jika ingin jadi harimau, masuklah ke kandang harimau dan engkau akan mengaum!" Pola pikir dan kepribadian akan banyak ditempa oleh yang namanya lingkungan yang memiliki kultur tertentu.

Bagaimana dengan kreativitas? jika ingin punya kreatifitas dan inovasi tinggi tentunya kita harus berada pada sebuah lingkungan berkultur inovatif dan kreatif. Tapi bagaimana kita dapat mengidentifikasi lingkungan berkultur kreatif? Kreativitas tumbuh di lingkungan yang memiliki kultur yang tidak takut akan kesalahan atau dipandang aneh, karena kultur itulah yang menyuburkan timbulnya pertanyaan dan menghormati buah pikiran. Kreativitas subur di kultur yang punya rasa ingin tahu, penuh pertanyaan, menghargai buah pikiran dan ceria. Kreativitas selalu terjadi pada orang yang menatap ke depan nun di sebelah sananya tikungan jalan dan berupaya mengantisipasi kekurangan dan masalah yang dihadapi untuk mencapai satu visi/tujuan yang dicanangkan sebelumnya.

Sekecil apapun inovasi yang dihasilkan, semua itu tentu didorong oleh kultur. Contoh inovasi yang terkesan "remeh" namun berarti besar bagi orang lain dapat dilihat pada sebuah hotel. Ceritanya: Pada suatu pagi, seorang penghuni hotel harus check out sangat pagi sekali sebelum mendapat hidangan sarapan pagi. Pihak hotel-pun melalui resepsionis sudah menyiapkan bungkusan kecil yang dikemas cukup menarik yang berisi makanan ringan, setidaknya si penghuni hotel pun tidak kelaparan untuk sementara waktu, hingga dia menemukan toko makanan atau resto yang telah buka. Kesan dihargai/empati hotel bagi penghuni hotel adalah salah satu buah hasil inovasi kecil.

Mungkin kita bisa menyebutkan kebutuhan adalah ibu dari invention/penemuan dan inovasi tetapi kita juga dapat menyatakan bahwa ayah dari inovasi itu sendiri adalah rasa keingintahuan, absurditas, ketidakpuasan, keceriaan, pertimbangan, imajinasi atau kombinasi dari hal-hal tersebut.

Tips kreatif:

 

1. Ciptakan waktu untuk menjadi kreatif . Idealnya lakukan tiga bulan setahun, di luar kantor (di hotel di luar kota). Lakukan brainstorminhg . Cari tahu apa saja guna batu bata, katung teh, atau apa saja yang tidak berkaitan dengan yang kita lakukan di kantor. Hal ini diyakini akan membentuk suatu sikap yang dibutuhkan untuk terciptanya kreatifitas dan inovasi (seperti rasa ingin tahu). Jika sikap ini telah menjadi kebiasaan maka dapat diterapkan pada hal-hal yang kita hadapi di kantor. Suatu penyelesaian atas jawaban-jawaban itu tentunya tidak bersifat imajiner tetapi dapat dilakukan/diwujudkan( workable, doable ). 

 

2. Start an 'Idea of the Month Club.' Ajaklah seluruh karyawan mulai mempertanyakan dan memandang sesuatu dengan kritis dengan menanyakan: "Bagaimana membuat hal ini lebih baik? Bagaimana kita memperbaiki pengalaman buruk pelanggan? Bagaimana cara saya memberikan nilai tambah pada produk ini?" Ditambah dengan dukungan dan perhatian dari institusi kerja berupa reward untuk inovasi dan hasil kreatifitas yang dapat diwujudkan/diterapkan, akan membuat kultur itu akan mengental dan menstimulasi ide-ide kreatif dan inovatif lanjutan untuk mencapai visi/tujuan yang telah dicanangkan.

 

3. Berinvestasi dalam kreativitas . Di toko buku banyak terdapat buku dan yang lainnya yang baik untuk melepaskan diri Anda dan karyawan Anda dari keterikatan rutinitas keseharian kantor. Ada banyak mainan. Bersenang-senanglah! Karena diyakini bahwa imajinasi akan lebih tergambarkan dengan melakukan hal yang disenangi, ini berarti berinvestasi untuk kreativitas.

 

sumber:

1. Artikel: kreativitas subur di kultur yang tidak takut salah atau berbeda ( http://www.pasarinfo.com/artikelhtml/772/5516.asp)2. Quate of The Day (www.ideachampion.com)

Filed under: Kreatifitas & Inovasi

Psycho-Marketing

Oleh Charly Buchari 

“If you can dream it, you can do it.”– Walt Disney

“The best way to predict the future is to create it.”– Alan Kay

Berapa harga rata-rata satu porsi makanan cepat saji yang sering kita nikmati hampir setiap harinya, 5 ribu, 10 ribu, 20 ribu atau 50 ribu? Pergeseran nilaipun bergeser, nominal 5 ribu hingga 10 ribu pun sekarang menjadi nilai yang tidak besar lagi, bahkan di beberapa kalangan angka tersebut sebagai “uang receh.”

Mari kita jalan-jalan ke sebuah restoran pizza untuk sekedar “mengganjal” perut ini. Sudahlah jamak bagi kita kalau kita datang pada sebuah restoran cepat saji akan ditawarkan bermacam-macam paket makanan, mungkin saja namanya Pake Hemat 1, Paket Hemat 2, Paket Combo dan sebagainya. Jika kita memilih paket hemat 1 barangkali kita akan mendapatkan paket standar, paket hemat 2 mungkin makanan seperti yang di paket hemat 1 ditambah jenis lain, dan seterusnya.

Ada yang unik di sebuah restoran pizza, terdapat 2 paket menarik yang mereka tawarkan. Pertama paket A dimana terdapat pizza standar seharga Rp 5.000,00 dan konsumen dapat menambahkan jenis bahan lain dengan harga Rp 500,00 per jenis bahan tambahannya. Paket lainnya yang dinamakan pake B adalah paket full/lengkap seharga Rp. 10.000,00 dan konsumen juga memiliki hak untuk mengurangi jenis bahan yang tidak diinginkan dan harga pizza akan berkurang Rp 500,00 untuk setiap jenis bahan yang dikurangi. Timbul pertanyaan atas paket yang unik tersebut, mengapa restoran pizza tersebut menerapkan strategi ini dan paket mana yang paling laku.

Sorang ahli pemasaran Irwin Levin dan beberapa rekannya melakukan penelitian di beberapa negara termasuk negara asal pizza yaitu Italia, menemukan sebuah hasil fenomena yang unik, ternyata Paket B lebih menguntungkan dari Paket A bagi restoran pizza yang dijadikan sampel tersebut. Berdasarkan tulisan Harry Susianto, Pengajar Perilaku Ekonomi Fakultas Psikologi UI di Tabloid KONTAN No. 27 Tahun X edisi 10 April 2006, bahwa manusia lebih cenderung mempertahankan yang dikuasainya dari pada melepaskannya, terdapat sensasi “rugi” jika harus melepas banyak hal yang akan didapatkan walaupun dengan kompensasi membayar lebih.

Pada kasus pizza di atas, untuk konsumen yang memilih paket A, mereka lebih cenderung menambahkan jenis bahan yang lebih sedikit yang berarti menambahkan lebih sedikit, bentuk ekualitasnya, konsumen telah memiliki sebuah barang yang dianggap sesuai dengan standar mereka, dan memiliki kesempatan menambahkan hal-hal ekstra yang mereka fikir pada saat itu “tidak diperlukan” maka konsumen akan cenderung menambah sedikit saja atau bahkan tidak menambah sama sekali. Untuk konsumen yang memilih paket B, mereka cenderung mengurangi jenis bahan yang telah ada, secara umum, konsumen pada jenis ini telah menganggap hal tersebut sesuai dengan kebutuhannya atau dengan kata lain sesuai dengan standar mereka, dan mereka akan lebih cenderung mempertahankan standar tersebut dengan cara mengurangi fitur-fitur lebih sedikit atau bahkan tidak mengurangi sama sekali walaupun dengan kompensasi membayar lebih tinggi. Pada prakteknya dalam sistem pemasaran, penghasil barang atau jasa mengemas sebuah paket ultimate atas produk mereka yang memberikan fitur lebih dari standar dan memberikan pilihan konsumen untuk mengurangi fitur yang telah ada pada produk barang atau jasa tersebut dengan kompensasi pengurangan harga produk tersebut. Dengan pizza, teori tersebut sukses berat, mau mencoba untuk bidang produksi barang atau jasa kita sekarang?

Filed under: Manajemen

Multi-capacity vs Expert

oleh : Charly Buchari

“Hebat ya si Arsandi itu!” Puji Samsul.
“Iya, tidak salah lagi dia memang multi talenta! kita mau bertanya hal apa saja dia faham, dari masalah ekonomi, sosiologi, teknologi sampe teologi aja dia tahu.” Ujar Ardi lagi.
“Tapi sayang dia tidak seperti Burhan.” Timpal Firman datar.
“Maksudmu?” tanya kedua temannya hampir bersamaan.
“Walaupun Burhan tidak tahu banyak hal tapi dia tahu Teknologi Informasi sampai ke akar-akarnya, makanya dia dikenal sebagai seorang ahli dan berhasil di bidang itu!”
“Tapi Arsandi juga bisa dibilang berhasil, buktinya tulisan-tulisannya banyak beredar di surat kabar dan majalah terkenal.”
“Ya tapi dia hanya menulis dan tidak tahu mendalam seperti Burhan untuk semua bidang yang dia tahu.” kata Firman lagi.

Sewaktu kita menempatkan diri kita sebagai sebuah standar ukur atas prestasi, kita akan menemukan orang-orang yang di atas standar dan kebalikannya kita akan menemukan yang kurang dari kita. Seorang yang positif akan tidak segan memberikan pujian dan penghargaan atas prestasi yang dianggap lebih tersebut. Penggalan percakapan di atas merupakan sebuah manifestasi orang-orang positif terhadap prestasi rekan-rekannya, walaupun dengan cara pandang prestasi yang berbeda.

Menurut Motivator terkenal Tung Desem Waringin, manusia akan cenderung–secara sadar atau tidak–akan berusaha untuk mencapai apa yang dia inginkan ataupun orang lain harapkan atas dirinya. Dan beberapa orang akan termotivasi sangat besar di saat mereka sangat faham dan menyadari secara detail apa yang menjadi tujuannya, sehingga usaha mereka akan selalu fokus atas tujuan akhir tersebut.

Secara garis besar dengan melihat jumlah bidang yang dikuasai, kita dapat menggolongkan jenis prestasi menjadi dua kelompok, yaitu: multi-capacity dan expert. Apa sih yang membedakannya? Secara sederhana kita bisa menggunakan dua kata kunci yaitu “Paham” dan “Hal”. Mari kita definisikan dua kelompok tersebut dengan memanfaatkan dua kata kunci tersebut. Andi adalah multi-capacity, jadi Andi sedikit “paham” atas banyak “hal”, dan saat kita menggambarkan Andi banyak “paham” atas sedikit “hal” dan dia akan digolongkan pada kelompok expert. Semakin banyak hal yang dia pahami dengan kapasitas pengetahuan yang mencukupi maka dia akan mencapai predikat multi-capacity dan kebalikannya semakin sedikit yang dia ketahui dan mendalam maka dia akan disebut sebagai expert.

“What is our prefer?”
Sebuah pilihan memiliki sebuah sifat inheren yang kita sebut sebagai resiko, baik itu resiko yang kita anggap merugikan diri kita ataupun sebaliknya akan memberikan menguntungkan. Contohnya, Sewaktu kita lapar kita dihadapi dua pilihan yang memungkinkan yaitu makan atau tidak makan. Resiko jika kita makan adalah kita tidak lapar lagi tentunya, resiko jika tidak makan adalah kita akan tetap lapar tentunya. Bedanya resiko itu ada yang disukai dan tidak disukai.

Menjadi multi-capacity dan expert juga merupakan pilihan, siapapun dari kita memiliki hak untuk memilih apakah ingin menjadi multi-capacity atau menjadi expert tergantung kepada kita lebih “siap” dan “nyaman” di predikat apa, dan tentunya juga tergantung kepada kesesuaian dengan cita-cita kita. Siap berarti bersedia menanggung resiko yang diperkirakan ataupun tidak, menikmati seluruh proses untuk mencapai predikat multi-capacity ataupun expert menunjukkan kenyamanan dan diharapkan tentunya menunjang cita-cita tujuan kita seperti karir.

Multi-capacity
Secara kasat mata, seorang multi-capacity akan mampu melihat banyak hal dan menganalisanya sebagai sebuah pembelajaran dan proses pembentukan fakta dan kesimpulan, tentunya mereka memiliki kemampuan analisa yang sangat baik dan ini merupakan added value kelompok ini. Ciri kemampuan analisa mereka ditunjang oleh kemampuan teknik komprasi dan generalisasi yang luar biasa. Mereka mampu memandang banyak hal dan mengintisarikan ciri ataupun fitur yang serupa menjadi sebuah kelompok sehingga mampu memberikan penjelasan dan penyelesaian atas kelompok yang memiliki ciri yang sama.

Golongan multi-capacity walaupun tanpa pendidikan yang khusus, mereka mampu melakukan analisa terhadap hal-hal yang baru sekalipun, mereka hanya memerlukan “basic knowledge” atas bidang yang diamati dan mereka memiliki kemampuan untuk mengembangkan analisa mereka dengan teknik generalisasi dan komparasi berdasarkan basic knowledge tersebut.

Yang menjadi penghambat bagi orang-orang multi-capacity adalah basic knowledge itu sendiri, mereka perlu mengetahui lebih banyak basic knowledge yang beragam untuk memperkuat analisa terhadap sesuatu hal, semakin banyak berkubang dengan satu basic knowledge berarti menghilangkan kesempatan untuk mendapatkan basic knowledge bidang lain.

Expert
Dengan membalikkan keadaan multi-capacity, kita akan menemukan karakteristik kumpulan orang-orang ini. Mereka dengan bersahaja mampu menjelaskan dengan deskriptif tentang hal-hal yang berkaitan dengan bidang yang dikuasainya, mengetahui detail merupakan sebuah nilai tambah bagi diri mereka, hal-hal kecil tidak luput dari pandangan mereka. Golongan ini seakan-akan merasa tidak rela jika melewatkan setitik hal yang menyangkut bidang mereka, dan ini menjadi motivasi mereka untuk lebih mendalam mempelajari hal-hal yang bersinggungan dengan minat mereka. Dengan jalur inipun mereka akan mengetahui banyak hal, mereka akan melihat bermacam bidang dari sudut pandang bidang yang digelutinya seakan-akan mereka adalah bidang itu sendiri. Mereka menjadi rujukan banyak orang atas masalah ataupun kondisi yang menyangkut di bidang mereka, pada akhirnya mereka mampu memberikan dan menciptakan suatu teori dan forecast/ramalan.

Egoisme dan pemujaan atas diri sendiri dan bidang yang digeluti merupakan resiko siluman yang membayangi kelompok ini, individualistis adalah sebuah kesan yang dilontarkan masyarakat kepada orang yang ekstrim. Dengan perimbangan ilmu yang mereka kuasai mereka akan melihat hal-hal baru sebagai sebuah peluang untuk diamati melalui sudut pandang ilmu yang mereka miliki.

Unsur cita-cita merupakan sebuah muara sekaligus hulu bagi kehidupan kita, menjadi multi-capacity ataupun expert ditentukan oleh karakteristik cita-cita tersebut. Saat kita bercita-cita menjadi manajer umum, kita dituntut mengetahui banyak hal terhadap elemen-elemen divisi yang dipimpin, karakteristik multi-capacity lebih melekat pada posisi ini, dan di sinilah kita memulai langkah kita, membayangkan dan menggambarkan posisi manajer umum secara detail, melakukan usaha-usaha untuk menjadi multi-capacity dan akhirnya bermuara menjadi manajer umum pada kenyataannya. Saat anda berkeinginan menjadi seorang ilmuwan besar seperti Albert Enstein, anda memulai langkah awal anda dengan membayangkan secara detail dan lengkap anda sebagai ilmuwan, melakukan usah-usaha untuk memperdalam pengetahuan dan ilmu sebagai expert dan akhirnya menjadi seorang ilmuwan ataupun seorang teoritis.

Dan pada akhirnya semua di tangan anda, bagaimana anda menggambarkan diri anda dan mencari bagaimana anda bisa mencapai keinginan anda tersebut, dan tentunya diharapkan mencapai apa yang anda cita-citakan. Ingin menjadi multi-capacity ataupun expert merupakan pilihan, dan semua pilihan memiliki resiko. Jika anda lebih toleran pada resiko pada salah satu kelompok tersebut, maka pilihlah karena itu yang akan lebih menjamin diri anda lebih sukses. Jika anda setuju dengan penggambaran ini, untuk sementara kita dapat menimbang kembali cita-cita kita.

Filed under: Kreatifitas & Inovasi