oleh : Charly Buchari
“Hebat ya si Arsandi itu!” Puji Samsul.
“Iya, tidak salah lagi dia memang multi talenta! kita mau bertanya hal apa saja dia faham, dari masalah ekonomi, sosiologi, teknologi sampe teologi aja dia tahu.” Ujar Ardi lagi.
“Tapi sayang dia tidak seperti Burhan.” Timpal Firman datar.
“Maksudmu?” tanya kedua temannya hampir bersamaan.
“Walaupun Burhan tidak tahu banyak hal tapi dia tahu Teknologi Informasi sampai ke akar-akarnya, makanya dia dikenal sebagai seorang ahli dan berhasil di bidang itu!”
“Tapi Arsandi juga bisa dibilang berhasil, buktinya tulisan-tulisannya banyak beredar di surat kabar dan majalah terkenal.”
“Ya tapi dia hanya menulis dan tidak tahu mendalam seperti Burhan untuk semua bidang yang dia tahu.” kata Firman lagi.
Sewaktu kita menempatkan diri kita sebagai sebuah standar ukur atas prestasi, kita akan menemukan orang-orang yang di atas standar dan kebalikannya kita akan menemukan yang kurang dari kita. Seorang yang positif akan tidak segan memberikan pujian dan penghargaan atas prestasi yang dianggap lebih tersebut. Penggalan percakapan di atas merupakan sebuah manifestasi orang-orang positif terhadap prestasi rekan-rekannya, walaupun dengan cara pandang prestasi yang berbeda.
Menurut Motivator terkenal Tung Desem Waringin, manusia akan cenderung–secara sadar atau tidak–akan berusaha untuk mencapai apa yang dia inginkan ataupun orang lain harapkan atas dirinya. Dan beberapa orang akan termotivasi sangat besar di saat mereka sangat faham dan menyadari secara detail apa yang menjadi tujuannya, sehingga usaha mereka akan selalu fokus atas tujuan akhir tersebut.
Secara garis besar dengan melihat jumlah bidang yang dikuasai, kita dapat menggolongkan jenis prestasi menjadi dua kelompok, yaitu: multi-capacity dan expert. Apa sih yang membedakannya? Secara sederhana kita bisa menggunakan dua kata kunci yaitu “Paham” dan “Hal”. Mari kita definisikan dua kelompok tersebut dengan memanfaatkan dua kata kunci tersebut. Andi adalah multi-capacity, jadi Andi sedikit “paham” atas banyak “hal”, dan saat kita menggambarkan Andi banyak “paham” atas sedikit “hal” dan dia akan digolongkan pada kelompok expert. Semakin banyak hal yang dia pahami dengan kapasitas pengetahuan yang mencukupi maka dia akan mencapai predikat multi-capacity dan kebalikannya semakin sedikit yang dia ketahui dan mendalam maka dia akan disebut sebagai expert.
“What is our prefer?”
Sebuah pilihan memiliki sebuah sifat inheren yang kita sebut sebagai resiko, baik itu resiko yang kita anggap merugikan diri kita ataupun sebaliknya akan memberikan menguntungkan. Contohnya, Sewaktu kita lapar kita dihadapi dua pilihan yang memungkinkan yaitu makan atau tidak makan. Resiko jika kita makan adalah kita tidak lapar lagi tentunya, resiko jika tidak makan adalah kita akan tetap lapar tentunya. Bedanya resiko itu ada yang disukai dan tidak disukai.
Menjadi multi-capacity dan expert juga merupakan pilihan, siapapun dari kita memiliki hak untuk memilih apakah ingin menjadi multi-capacity atau menjadi expert tergantung kepada kita lebih “siap” dan “nyaman” di predikat apa, dan tentunya juga tergantung kepada kesesuaian dengan cita-cita kita. Siap berarti bersedia menanggung resiko yang diperkirakan ataupun tidak, menikmati seluruh proses untuk mencapai predikat multi-capacity ataupun expert menunjukkan kenyamanan dan diharapkan tentunya menunjang cita-cita tujuan kita seperti karir.
Multi-capacity
Secara kasat mata, seorang multi-capacity akan mampu melihat banyak hal dan menganalisanya sebagai sebuah pembelajaran dan proses pembentukan fakta dan kesimpulan, tentunya mereka memiliki kemampuan analisa yang sangat baik dan ini merupakan added value kelompok ini. Ciri kemampuan analisa mereka ditunjang oleh kemampuan teknik komprasi dan generalisasi yang luar biasa. Mereka mampu memandang banyak hal dan mengintisarikan ciri ataupun fitur yang serupa menjadi sebuah kelompok sehingga mampu memberikan penjelasan dan penyelesaian atas kelompok yang memiliki ciri yang sama.
Golongan multi-capacity walaupun tanpa pendidikan yang khusus, mereka mampu melakukan analisa terhadap hal-hal yang baru sekalipun, mereka hanya memerlukan “basic knowledge” atas bidang yang diamati dan mereka memiliki kemampuan untuk mengembangkan analisa mereka dengan teknik generalisasi dan komparasi berdasarkan basic knowledge tersebut.
Yang menjadi penghambat bagi orang-orang multi-capacity adalah basic knowledge itu sendiri, mereka perlu mengetahui lebih banyak basic knowledge yang beragam untuk memperkuat analisa terhadap sesuatu hal, semakin banyak berkubang dengan satu basic knowledge berarti menghilangkan kesempatan untuk mendapatkan basic knowledge bidang lain.
Expert
Dengan membalikkan keadaan multi-capacity, kita akan menemukan karakteristik kumpulan orang-orang ini. Mereka dengan bersahaja mampu menjelaskan dengan deskriptif tentang hal-hal yang berkaitan dengan bidang yang dikuasainya, mengetahui detail merupakan sebuah nilai tambah bagi diri mereka, hal-hal kecil tidak luput dari pandangan mereka. Golongan ini seakan-akan merasa tidak rela jika melewatkan setitik hal yang menyangkut bidang mereka, dan ini menjadi motivasi mereka untuk lebih mendalam mempelajari hal-hal yang bersinggungan dengan minat mereka. Dengan jalur inipun mereka akan mengetahui banyak hal, mereka akan melihat bermacam bidang dari sudut pandang bidang yang digelutinya seakan-akan mereka adalah bidang itu sendiri. Mereka menjadi rujukan banyak orang atas masalah ataupun kondisi yang menyangkut di bidang mereka, pada akhirnya mereka mampu memberikan dan menciptakan suatu teori dan forecast/ramalan.
Egoisme dan pemujaan atas diri sendiri dan bidang yang digeluti merupakan resiko siluman yang membayangi kelompok ini, individualistis adalah sebuah kesan yang dilontarkan masyarakat kepada orang yang ekstrim. Dengan perimbangan ilmu yang mereka kuasai mereka akan melihat hal-hal baru sebagai sebuah peluang untuk diamati melalui sudut pandang ilmu yang mereka miliki.
Unsur cita-cita merupakan sebuah muara sekaligus hulu bagi kehidupan kita, menjadi multi-capacity ataupun expert ditentukan oleh karakteristik cita-cita tersebut. Saat kita bercita-cita menjadi manajer umum, kita dituntut mengetahui banyak hal terhadap elemen-elemen divisi yang dipimpin, karakteristik multi-capacity lebih melekat pada posisi ini, dan di sinilah kita memulai langkah kita, membayangkan dan menggambarkan posisi manajer umum secara detail, melakukan usaha-usaha untuk menjadi multi-capacity dan akhirnya bermuara menjadi manajer umum pada kenyataannya. Saat anda berkeinginan menjadi seorang ilmuwan besar seperti Albert Enstein, anda memulai langkah awal anda dengan membayangkan secara detail dan lengkap anda sebagai ilmuwan, melakukan usah-usaha untuk memperdalam pengetahuan dan ilmu sebagai expert dan akhirnya menjadi seorang ilmuwan ataupun seorang teoritis.
Dan pada akhirnya semua di tangan anda, bagaimana anda menggambarkan diri anda dan mencari bagaimana anda bisa mencapai keinginan anda tersebut, dan tentunya diharapkan mencapai apa yang anda cita-citakan. Ingin menjadi multi-capacity ataupun expert merupakan pilihan, dan semua pilihan memiliki resiko. Jika anda lebih toleran pada resiko pada salah satu kelompok tersebut, maka pilihlah karena itu yang akan lebih menjamin diri anda lebih sukses. Jika anda setuju dengan penggambaran ini, untuk sementara kita dapat menimbang kembali cita-cita kita.
Komentar Terakhir