BLOG CHARLY BUCHARI

Icon

Creative & Inovative for better life

Ngomong Sendiri

Oleh : Charly Buchari
Pernah menonton film lawas Indonesia yang berjudul “Badut-Badut Kota”? Mungkin tidak banyak yang menontonnya. Secara garis besar film yang diperankan oleh Dede Yusuf ini menceritakan sepasang suami-istri yang hidup di bawah garis marjin kehidupan di kota Jakarta, sang suami berprofesi sebagai seorang badut. Suatu hari, dengan sikap jujurnya sang suami menemukan “segepok” dokumen dan uang milik seorang kaya dan mengembalikannya. Singkat cerita, saat ditawarkan sang orang kaya uang atas jasanya mengembalikan dokumen dan uang tersebut, sang suami menolak. Dia hanya ingin tahu ilmu yang membuat sang orang kaya menjadi makmur. Melihat kesungguhan sang suami, orang kaya tadipun membagikan ilmu wirausahanya kepadanya. Setelah mendapatkan ilmu sang orang kaya, pasangan suami-istri itu pun memutuskan membuka sebuah warung makan. Dengan bantuan modal sang orang kaya, disediakannyalah sebuah lokasi warung makan dan perangkat yang diperlukannya. Tetapi, tidak begitu banyak orang yang datang ke warung makan tersebut. Sang suami berjalan mengitari bangunan-bangunan besar di pusat kota sembari mempromosikan warung makannya, namun dirasa cukup tidak efektif mempromosikan ke satu-satu orang saja dengan media brosur kertas.
Hingga pada suatu saat, sang suami duduk di sebuah lobi gedung perkantoran di pusat kota. Beberapa orang berpakaian necis menghampiri meja announcer yang dijaga seorang wanita, setelah tidak beberapa lama sang wanita mengumumkan sebuah panggilan yang kira-kira berbunyi: “kepada driver Bapak Suhardi dari PT Rahayu Putra harap menuju lobi.” Tak lama sebuah kendaraan roda empat menghampiri pintu depan lobi, lelaki tadi pun naik mobil dan segera menghilang. Setelah memperhatikan beberapa fenomena tersebut, sang suami pemilik warung makan itu pun mencoba hal yang sama. Pesannya pun tidak jauh dari yang sudah-sudah, hanya mengganti namanya dan dari Rumah Makan miliknya. Jadi, dari saat itu sang suami tersebut hanya mengitari gedung-gedung perkantoran hanya menyampaikan pesan tersebut kepada announcer dan segera berpindah ke gedung perkantoran lainnya. Alhasil, rumah makannya pun semakin sering terdengar oleh orang-orang dan efeknya membuat rumah makannya semakin ramai, dan bisa disimpulkan sebagai happy ending.
Ide mempromosikan rumah makan seperti cerita film tersebut mungkin cukup unik, masih mengenai usaha mempromosikan rumah makan baru namun kali ini merupakan cara yang sudah menjadi rahasia umum namun tetap efektif. Sang pemilik rumah makan meminjam kendaraan roda empat milik kolega dan sahabatnya dan memarkirkannya di tempat parkir rumah makannya selama beberapa malam untuk memberikan kesan bahwa rumah makan tersebut selalu ramai dan dipenuhi oleh para pengujung. Hasilnya pun cukup luar biasa, banyak orang yang lewat di depan rumah makan tersebut menjadi penasaran dan mampir untuk mencoba masakan rumah makan tersebut, biaya iklan? Tidak ada sama sekali! Cerdik ya.
Itu di Indonesia, usaha sejenis pun juga dianut oleh pemasar di luar negeri. Kita dapat ambil contoh perusahaan London’s Cake Creative Consultancy di Newcastle, mereka mengumpulkan kaleng-kaleng kosong Kratingdaeng, lalu kaleng-kaleng kosong tersebut ditempatkan di berbagai tong sampah dekat dengan bar dan pub di penjuru negeri. Hal ini mengesankan bahwa Kratingdaeng sangat diminati oleh banyak orang. Efeknya dalam waktu singkat Kratingdaeng pun menjadi populer di Eropa.
Gaya pemasaran ini cukup efektif, secara kasat mata calon konsumen terpengaruh dengan fakta bahwa produk tersebut cukup baik karena “terlihat” memang begitu. Pengaruh “fakta yang terlihat” ini sungguh menjadi daya tarik tersendiri bagi calon konsumen baru untuk mencoba produk yang ditawarkan tersebut. Kesan dan fakta yang “berkata” tersebut sebenarnya merupakan advertising yang murah dan elegan, para pemasar hanya perlu mencari kesan atau keadaan yang bagaimana yang dapat menunjukkan bahwa produk mereka adalah baik dan sedang digandrungi oleh target konsumen mereka. Setelah menemukan kesan atau keadaan tersebut, tinggal dikondisikan dan dikomunikasikan secara wajar kepada target konsumen dan sim salabim! Hasilnya pun luar biasa! Seakan berkebalikan dengan pemasaran umumnya dimana berupaya “meneriakkan dengan kencang” mengenai produk yang ditawarkan kepada target konsumennya, semakin sering dan kencang meneriakkannya maka diharapkan banyak target konsumen yang segera “terpengaruh” untuk mencoba dan tujuan akhirnya sebagai konsumen mereka. Namun, semakin sering dan kencang meneriakkannya berarti semakin deras pula budget yang perlu dianggarkan. Semakin sering mengiklankan produk di media massa seperti televisi dan media cetak berarti memperbesar pendanaan terhadapnya, yang sangat disayangkan bahwa karena terlalu banyak produk yang menggunakan cara ini, konsumen pun cenderung “mengacuhkan” teriakan-teriakan yang ada walaupun masih ada kemungkinan sub conscious/bawah sadar konsumen terpengaruh oleh seringnya gempuran iklan tersebut.
Dengan berpedoman prinsip diversifikasi cara pemasaran, sebagai pendamping kegiatan teriakan lantang, menciptakan kesan dan fakta yang bisa ngomong sendiri tidaklah salah untuk dimanfaatkan. Mari bersiap dan berinovasi!

Filed under: Manajemen

Angkringan

Oleh : Charly Buchari
Setiap ingin bersantai sejenak untuk melepaskan kepenatan kerja di Jakarta dan memiliki waktu libur cukup panjang seperti akhir pekan, saya memilih untuk mengunjungi Jogja tempat saya pernah menuntut ilmu. Dan, malam hari adalah waktu paling tepat bagi saya untuk mengarungi kota yang begitu indah dengan kerlipan lampu dan keramaian khas Jogja. Selain meyakini kota Jogja sebagai kota budaya dan pendidikan, saya menyebut kota ini sebagai kota makanan. Bermacam jenis makanan, dari yang tradisional hingga makanan wong londo (orang barat) pun tersedia. Jika saya di Jogja malam hari, makan di angkringan tidak pernah saya lewatkan. Secara sederhana, angkringan bisa digambarkan sebagai sebuah tempat makan dimana gerobak makan disulap sekalian sebagai meja makan dan dilengkapi dengan bangku panjang. Hidangannya beragam, dari sayur, gorengan, sate dan minuman hangat seperti teh, jahe, jeruk, susu dan lainnya.
Warung angkringan ini selalu penuh oleh berbagai kalangan, dari pelajar hingga eksekutif kantoran. Biasanya konsumen selalu berinteraksi satu dengan yang lain. Ada saja yang dibicarakan, dari keadaan sekitar hingga politik negara. Selain itu, konsumen dengan mudah memilih makanan dan minuman yang disediakan, dan tidaklah diharamkan untuk melakukan eksperimen dengan “membuat” sesuatu yang baru. Saya sendiri pernah meminta kepada penjual untuk membuat minuman susu jahe dingin, dari namanya bisa dibayangkan minuman itu terdiri dari susu cair biasa ditambah jahe yang cukup pedas dan ditambah dengan es batu. Setelah dicoba minuman ini pun menjadi favorit saya jika datang ke angkringan. Sate telur puyuh yang sudah digoreng dengan kuah semur manis pun sering diminta oleh konsumen untuk dibakar atau dipanggang dulu di bara api tempat memasak air sebelum dihidangkan. Banyak bentuk yang tidak biasa jika kita amati perilaku konsumen atas makanan mereka.
Suasana akrab antar konsumen dengan penjual sebagai “moderator” perbincangan berubah menjadi sebuah forum diskusi dan tukar-fikiran yang cukup hangat, walaupun konsumen yang ada belumlah saling kenal sebelumnya. Selagi berinteraksi, tetap saja makanan menjadi sasaran para konsumen sesaat giliran berbicara mereka sedang digunakan oleh konsumen lainnya. Tidak jarang para konsumen meninggalkan warung angkringan tersebut setelah menghabiskan waktu hingga 1 hingga 2 jam lamanya, dengan resiko membayar harga makanan cukup banyak.
Konsep community dan customization yang ditempuh oleh banyak para penjual warung angkringan ini terbukti efektif menarik banyak konsumen untuk kembali datang ke warung mereka di masa mendatang. Loyalitas konsumen terbentuk dengan sendirinya karena didukung oleh budaya customization di sana, setiap konsumen diperbolehkan memilih dan mencoba untuk melakukan suatu hal baru dari bahan makanan dan minuman yang tersedia, dan juga memiliki kesempatan yang sama dengan yang lain untuk mengungkapkan sebuah topik pembicaraan dan mengutarakan pendapatnya masing-masing. Komunitas pun terbentuk dan tentunya tetap menjadi pelanggan setia bagi warung angkringan tersebut, selama komunitas tersebut memiliki kesempatan untuk “melakukan” apa yang diinginkan dan merasa nyaman atas keadaan di sana, maka aliran keuntungan pun tetap mengalir.
Adaptasi konsep angkringan ini oleh para pemain bisnis yang lebih modern bisa kita lihat kepada usaha pabrikan mobil Mercedes Benz, yang menyediakan jasa customization atas keinginan mobil dari para konsumen mereka, dan pabrikan mobil Jerman ini pun tidak segan-segan memberikan dukungan penuh kepada kelompok komunitas pengguna produk mereka berupa memberikan akses penuh untuk mengungkapkan keinginan mereka dan mimpi mereka atas produk Mercedez Benz ke depannya. Pabrikan ponsel dengan market share terbesar di Indonesia yaitu NOKIA pun melakukan hal yang sama untuk produk premium mereka. Communicator adalah produk NOKIA yang ditujukan kepada pengguna dari kalangan eksekutif dan profesional, NOKIA memberikan akses kepada komunitas pengguna produk communicator ini untuk mencoba produk ataupun software baru khusus bagi anggota komunitas ini, mereka bebas memberikan masukan dan testimonial atas produk tersebut. Customization pun menjadi senjata andalan NOKIA untuk memberikan kepuasan dan meningkatkan loyalitas konsumen mereka.
Dalam dunia asuransi pun ini bukan hal baru. Kita mengenal dengan taylor product dimana tertanggung memiliki kesempatan untuk mengajukan benefit dan/atau jaminan atas resiko yang ingin dialihkan kepada penanggung. Secara mendasar, rasio kecukupan bilangan besar memang harus dipenuhi untuk memenuhi konsep customization tersebut, sebagai alternatif banyak perusahaan asuransi yang memberikan konsep limited customization dimana calon tertanggung diberikan hak untuk memilih beberapa resiko perluasan yang ingin dipertanggungkan selain resiko dasar. Dengan memperhatikan kondisi industri perasuransian di Indonesia yang sedang berkembang ini, diharapakan konsep customization ini menjadi sebagai salah satu senjata penting untuk lebih menggalakkan perindustrian asuransi. Dengan didukung oleh akses cukup luas bagi komunitas pengguna jasa asuransi ini akan mempertinggi loyalitas konsumen yang telah ada dan diharapkan akan menjadi “agen rahasia” kepada calon tertanggung lainnya. Tugas para praktisi perasuransian tinggal mencari langkah aplikatif untuk menerapkan konsep community dan customization ini kepada pasarnya. Mari bersiap dan berinovasi!

Filed under: Manajemen

Sepuluh (10) Kepribadian Orang Sukses

oleh Charly Buchari

“The best way to predict the future is to create it.” – Alan Kay 

Suatu kesuksesan memiliki banyak definisi dan variasi tolok ukur. Beberapa dari kita meyakini, bahwa kesuksesan berarti mencapai posisi tertinggi di kantor, variasi lainnya bermakna memiliki kecukupan finansial tertentu. Ada sebagian lagi mewujudkan kesuksesan sebagai sebuah predikat penghargaan dari kolega dan khalayak atas prestasinya. Dari bermacam definisi dan tolok ukur itu, satu hal yang dapat disimpulkan bahwa kesuksesan merupakan pencapaian impian melalui sebuah proses terstruktur dan terencana. Contohnya, si A mendefinisikan sukses jika dia mampu mencapai manajer pemasaran di tempat kerjanya. Usaha untuk “memuluskan” kesuksesan tersebut, A memutuskan untuk belajar kembali di institusi pendidikan S2 dan mengikuti beberapa seminar pemasaran. Tentu saja, banyak hal yang perlu dipersiapkan, baik itu material dan sikap pribadinya. Bentuk material berupa dana dan waktu merupakan hal yang pasti harus dipersiapkan, lalu perlu juga ditunjang dengan sikap pribadi dalam menyikapi proses pencapaian kesuksesan itu sendiri. 

Merujuk kepada Jennie S. Bev yaitu seorang konsultan, entrepreneur, penulis dan edukator bertempat tinggal di San Francisco Bay Area dan merupakan seorang Indonesia yang “sukses” berkompetisi pada iklim “ketat” Amerika. Beliau mengedepankan 10 unsur kepribadian seorang sukses (baik dari segi keuangan dan prestasi) yang berdasarkan pada komunikasi dan pergaulannya dengan para billionaire dan beberapa pengusaha sukses. Sepuluh sikap itu adalah sebagai berikut: 

Satu, keberanian untuk berinisiatif. Kekuatan yang sebenarnya tidak lagi menjadi rahasia atas kesuksesan orang-orang terknenal yaitu mereka selalu punya ide-ide cemerlang! Seorang Donald Trump yang “mendunia” karena superioritasnya di bidang Real Estate awalnya berproses dari status bangkrut dan akhirnya berpredikat Raja Real Estate, adalah contoh dari seorang yang jenius dan berani berinisiatif. Kita tentu mengenal serial TV The Apprentice, kontes Miss Universe, Online University bernama TrumpUniversity.com, bahkan di negara asalnya boneka Donald adalah sebuah icon dan produk laris selain buku-buku bestseller-nya. Dan inisiatif adalah kekayaan semua orang, tinggal orang itu mau atau tidak untuk berinisiatif mengemukakan ide-idenya. 

Dua, tepat waktu. Sebuah hal yang pasti untuk semua orang di dunia ini tanpa terkecuali adalah bahwa kita memiliki jumlah waktu yang sama yaitu 24 jam sehari. Seorang yang menepati janji dan tepat waktu menunjukkan bahwa dia adalah seorang yang memiliki kemampuan mengatur/manage sesuatu yang paling terbatas tersebut. Kemampuan untuk hadir sesuai janji adalah kunci dari semua keberhasilan, terutama keberhasilan berbisnis dan berinteraksi. Memberikan perhatian lebih terhadap waktu merupakan pencerminan dari respek terhadap diri sendiri dan kolega dan mitra kita. 

Tiga, senang melayani dan memberi. Sebuah rumus sukses dari banyak orang sukses adalah mampu memimpin, namun sebuah additional attribute dari sikap kepemimpinan adalah kebiasaan melayani dan memberi. The more you give to others, the more respect you get in return. Dan, keikhlasan adalah kunci untuk sifat ini. Kebaikan lain akan terus mengalir tanpa henti saat kita mampu memberi dan melayani dengan ikhlas. Ini mungkin bisa dibilang sebagai bonus saja! Tetapi, setidaknnya dengan memberi dan melayani berarti menunjukkan kepada teman, kolega serta rekan kita betapa suksesnya diri kita sehingga membuat orang lebih yakin bermitra dan bergaul dengan diri kita.  

Empat, membuka diri terlebih dahulu. Barangkali kita pernah bertemu orang yang selalu mau tahu tentang hal pribadi orang lain namun dia terus menutup diri agar jati dirinya tidak terbuka. Mereka biasanya hidup dalam ketakutan dan kecurigaan, dan selalu berprasangka buruk kepada siapa saja yang dijumpainya. Sikap ini adalah unsur yang tidak dimiliki banyak orang sukses. Rasa percaya dan kebesaran hati untuk membuka diri terhadap lawan bicara merupakan cermin bahwa kita nyaman dengan diri sendiri, lantas tidak ada yang perlu ditutupi, itulah yang dicari oleh para partner sejati dan sebagian besar dari kita akan setuju bahwa tidak banyak orang yang mau bekerja sama dengan orang yang misterius, betul kan? 

Lima, senang bekerja sama dan membina hubungan baik. Kemampuan bekerja sama dalam tim adalah salah satu kunci keberhasilan utama. Kembali kita mengambil contoh Donald Trump. Dalam serial TV The Apprentice, Trump memiliki tim yang loyal dan menjadi perpanjangan tangan dirinya dalam menemukan para calon “orang kepercayaan” yang baru. Pada akhirnya, Trump akan memiliki sebuah tim yang sangat loyal dan bervisi sama dengan menciptakan jaringan kerja yang baik, sehingga jalan menuju sukses itu semakin terbuka lebar. 

Enam, senang mempelajari hal-hal baru. Ciputra dan Aburizal Bakrie adalah seorang yang bisa dikatakan sebagai orang sukses dalam bidangnya yaitu commerce. Tapi saat mereka mendirikan universitas, apakah mereka beralih sebagai seorang pendidik? Atau mereka sendiri sebenarnya adalah profesor? Jelas tidak, mereka tetap seorang entrepreneur, namun dengan kegemarannya mencari hal-hal baru serta langsung menerapkannya, maka dunia bisnis semakin terbuka luas baginya. Dunia bisnis ibarat sebagai tempat bermain yang laus dan tidak terbatas. Jadi senang belajar dan mencari hal baru adalah sebuah sikap kesuksesan. 

Tujuh, jarang mengeluh, profesionalisme adalah yang paling utama. Lance Armstrong pernah berkata, “There are two kinds of days: good days and great days.” Hanya ada dua macam hari: hari yang baik dan hari yang sangat baik. Adalah baik jika kita tidak pernah mengeluh, walaupun suatu hari mungkin kita akan jatuh dan gagal. Mengapa? Karena setiap kali gagal, itu adalah kesempatan bagi diri kita untuk belajar mengatasi kegagalan itu sendiri sehingga tidak terulang lagi di kemudian hari. Hari di mana kita gagal tetap sebagai a good day (hari yang baik). 

Delapan, berani menanggung resiko. Jelas, tanpa ini tidak ada kesempatan sama sekali untuk menuju sukses. Sebenarnya setiap hari kita menanggung resiko, walaupun tidak disadari penuh. Resiko hanyalah akan berakibat dua macam: be a good or a great day. Jadi, jadi tidak perlu dikhawatirkan lagi bukan? Kegagalan pun hanyalah kesempatan belajar untuk tidak mengulangi hal yang sama di kemudian hari dan tentunya ambang kepada kesuksesan akan lebih dekat. 

Sembilan, tidak menunjukkan kekhawatiran (berpikir positif setiap saat). Berpikir positif adalah environment atau default state di mana keseluruhan eksistensi kita berada. Jika kita gunakan pikiran negatif sebagai default state, maka semua perbuatan kita akan berdasarkan ini (kekhawatiran atau cemas). Dengan pikiran positif, maka perbuatan kita akan didasarkan oleh getaran positif, sehingga hal positif akan semakin besar kemungkinannya. Semakin positif kita menyikapi hambatan, semakin besar kesempatan kita menemukan penyelesaian atas hambatan tersebut. 

Sepuluh, “comfortable in their own skinMenutup-nutupi sesuatu maupun supaya tampak “lebih” dari lawan bicaranya. Pernah bertemu dengan orang sukses yang rendah diri alias tidak nyaman dengan diri mereka sendiri? Tidak ada tentunya. Kenyamanan menjadi diri sendiri tidak perlu ditutup-tutupi supaya lawan bicara tidak tersinggung karena setiap orang mempunyai tempat tersendiri di dunia yang tidak bisa digantikan oleh orang lain. Saya adalah saya, mereka adalah mereka. Dengan menjadi diri saya sendiri, saya tidak akan mengusik keberadaan mereka. Jika mereka merasa tidak nyaman, itu bukan karena kepribadian saya, namun karena mindset yang berbeda dan kekurangmampuan mereka dalam mencapai kenyamanan dengan diri sendiri. Sikap dasar orang sukses tersebut di atas barangkali dapat menjadi cerminan dan memuluskan langkah kita untuk mencapai kesuksesan yang kita impikan, tinggal kita yang memutuskan. Siap untuk sukses? Sampai bertemu lagi di puncak gunung kesuksesan!

Filed under: Manajemen

Word Of Mouth/Buzz Marketing

Beberapa dekade belakangan ini, cukup banyak inovasi dan sistem baru pemasaran yang digunakan beberapa institusi ataupun perorangan. Inti dari pemasaran yang ada adalah bagaimana membuat barang atau jasa yang dijual dapat diketahui oleh target pasar, dan sangat jamak banyak produsen barang atau jasa mengiklankan dan mempromosikan di media yang dapat dilihat secara massal seperti televisi, radio, koran, majalah dan lainnya. Produsen “berharap” banyak orang yang melihat dan memperhatikan “ajakan” tersebut, dengan penuh-sesaknya iklan menuntut mereka untuk menghasilkan sebuah iklan yang eye-catching yang pada akhirnya mengajak target pasar mereka untuk membeli atau memanfaatkan produk mereka.Tulisan advetorial atau article-like advertisement adalah sebuah metode lain yang belakangan muncul. Sering kali kita membaca sebuah media dimana terdapat sebuah kolom yang berupa artikel dimana menjelaskan sebuah fenomena yang sedang trend ataupun sebuah cara hidup yang baik dan pada ujung-ujungnya dengan jelas menyebutkan bahwa produk atau jasa merekalah yang memenuhi kriteria tersebut. Tidak eye-catching? Tidak juga. Buktinya karena judul yang menarik dan terlihat sebagai sebuah berita atau artikel, banyak pembaca yang “terhanyut” kepada artikel tersebut. Ini juga didukung oleh rasa “bosan” dengan iklan-iklan yang terus muncul di setiap halaman dan membuat pembaca mengabaikan iklan-iklan tersebut dan memfokuskan kepada artikel atau kolom tertentu saja. 

Make a buzz!Di Yogyakarta, foto copy merupakan sebuah jasa yang cukup ramai apalagi jika berada di lingkungan kampus, seperti halnya mahasiswa lain saya pernah memfoto-copy materi di sebuah agen foto copy di dekat kampus. Sembari menunggu, saya memperhatikan tulisan-tulisan ataupun gambar yang menempel di dinding ruang kerja foto copy tersebut. Di sebuah tulisan yang cukup besar di satu sisi dinding menuliskan: “Jika anda puas katakan kepada orang lain, dan jika anda tidak puas katakan kepada kami.” Sederhana ya, mungkin kita juga sering melihatnya ya. Dari rangkaian kata-kata tersebut banyak interpretasi orang terhadapnya tetapi secara sederhana dan paling umum juga diinginkan oleh penyedia jasa adalah katakanlah kepada orang lain bahwa jasa foto copy kami lebih baik dari yang lain, jika anda tidak merasa sama atau lebih buruk dari yang lain maka beritahu kepada kami apa yang kurang.Ini adalah metode luar biasa! Selain konsumen berperan sebagai penikmat jasa atau produk, tetapi juga menjadi seorang agen pengiklan dan tenaga marketing gratis bagi jasa mereka. Selain itu mereka juga menjadi seorang free-of-charge advisor yang tentunya mempermudah produsen mengetahui kekurangan jasa atau produk mereka di mata pelanggan. Konsep ini diadopsi oleh industri-industri barang atau jasa yang lebih besar untuk memasarkan produk atau jasa mereka, yang tentunya dengan inovasi dan ide-ide yang lebih brilian.Hampir semua industri tidak menampikkan untuk mengimplementasikan konsep tersebut, dan menempatkannya sebagai salah satu metode marketing mereka selain metode lainnya. Dan tidak jarang menyebutkan bahwa ini adalah metode utama mereka. Pernah mendengar J.CO donuts and Coffee, Dapur Cokelat, Burger Blenger dan Roti Boy? Awal “kebesaran” mereka adalah word of mouth atau buzz marketing. Pelanggan menjadi advisor dan juga pemasar bagi calon konsumen lainnya. Setiap produk atau jasa yang diberikan dikemas dalam sebuah cerita! Betul hanya sebuah cerita! Cerita bahwa produk ini unik dan pantas dan cocok bagi target pasar. Mungkin kita mendengar cerita bahwa Burger Blenger dikemas dengan harga yang “pas” dan lebih lagi nyaman di lidah dan perut, J.Co donuts adalah donat premium yang tidak sama dengan donat lainnya, Starbucks adalah tempat yang nyaman dan ekslusif untuk minum kopi, Circle-K adalah toko 24 jam yang memberikan kenyamanan bagi siapa saja, Ayam Ny Suharti dengan resep nenek-moyang dan banyak cerita lainnya. Cerita-cerita ini begitu hebat dan membuat konsumen tertarik untuk mencoba bahkan “terperangkap” atas cerita itu sendiri.Sebuah artikel di majalan MIX edisi 07/III/20 Juli-20 Agustus 2006 menyampaikan beberapa kiat sederhana untuk menunjang sistem pemasaran word of mouth atau buzz marketing ini, ada tiga langkah utama untuk menerapkan sistem pemasaran ini yaitu sebagai berikut:·        Create a story. Syarat utama untuk membuat produk kita menjadi pembicaraan adalah bagaimana menciptakan sebuah cerita yang menarik tentang produk atau usaha kita. Cerita menarik tersebut bisa berupa tentang sejarah dan ide munculnya produk, proses pembuatan produk, sang pembuat produk atau pemilik dan atau keunikan produk.·        Share the story. Cerita yang menarik akan menjadi percuma saat tidak bisa didengar dan diketahui oleh banyak orang. Untuk itu, buat beberapa medium yang memungkinkan pelanggan yang mengetahui cerita tersebut untuk menceritakannya kepada orang lain. Contoh sederhana adalah dengan membuat kemasan, kantong plastik, goody bag dan sebagainya yang bisa digunakan pelanggan berulang-ulang dan menarik perhatian.·        The best buzzer is your employee. Jangan lupakan karyawan sebagai pelanggan pertama yang paling berpotensi dan dipercaya. Ingatkan selalu kepada karyawan untuk menceritakan tentang produk dan merek yang dijual kemanapun mereka pergi. Cara sederhana adalah dengan membekali mereka seragam, tas, dan berbagai peralatan yang bisa membuat mereka menjadi iklan berjalan. 

Konsistensi dan disiplin memang kunci dari segala banyak keberhasilan dan kesuksesan, tidak terkecuali untuk sistem pemasaran ini. Dengan menyandingkan beberapa sistem peasaran dengan sistem ini, diharapkan dapat memberikan hasil maksimal bagi produsen dan tentunya juga tidak “mengacuhkan” kebutuhan konsumen. Bbbbbuuuuuuuzzzzzzzzzzzzzzzzzz….. prepare your buzz!

Filed under: Manajemen

Shoot, Shoot on Goal atau Ball Possession?

Oleh: Charly Buchari

Any change, even a change for the better, is always accompanied by drawbacks and discomforts Arnold BennetIf we don’t change, we don’t grow. If we don’t grow, we aren’t really living – Gail Shenny

Sebagaimana dengan diskusi sebelumnya, kita telah melihat bahwa kemenangan sebuah tim pada ajang Piala Dunia 2006 di Jerman kemarin—secara statistika—umumnya ditentukan oleh banyaknya shoot, shoot on goal dan ball possession. Setelah melihat kembali, muncul sebuah pertanyaan iseng namun cukup bermanfaat jika ditinjau lagi yaitu tentang elemen apa yang paling menentukan kemenangan tim dari ketiga elemen tersebut, apakah shoot, shoot on goal atau ball possession? Mungkin implementasi kepada kehidupan kita adalah sikap apa yang paling perlu kita tonjolkan untuk memperbesar peluang kita untuk mengatasi masalah dan keadaan buruk yang menunggu di depan kita, apakah kita harus memposisikan lebih banyak mencoba dengan cara apa saja, memperbanyak cara “cerdas” atau menyediakan waktu lebih lama untuk “menguasai” permasalahan?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, penulis telah melakukan sebuah uji statistika yaitu bernama uji korelasi nonparametrik dengan memanfaatkan metode Kendall’s tau-b dengan menggunakan aplikasi SPSS ver 13.0 terhadap 51 pertandingan yang menghasilkan hasil ekstrim yaitu menang dan kalah, jadi tidak memasukkan pertandingan yang berhasil akhir seri. Dari 51 pertandingan tersebut, dicatat seluruh shoot, shoot on goal, dan ball possession apakah lebih banyak, sama atau lebih sedikit untuk setiap status yaitu menang dan kalah. Dengan kata lain, untuk status tim menang dicatat apakah shoot, shoot on goal dan ball possession tim menang lebih banyak, sama atau lebih sedikit jika dibandingkan dengan tim kalah. Demikian juga untuk perlakuan tim yang kalah atau status kalah dibandingkan dengan tim menang. Untuk summary hasil uji statistika dan penjelasan angka pada uji tersebut dapat dilihat berikut ini:

Nonparametric Correlations

shoot Shoot on goal Ball possession status
Kendall’s tau_b Shoot Correlation coeff

Sig. (2-tailed)

N

1

.000

.102

.711

.000

102

.478

.000

102

.492

.000

102

Shoot on goal Correlation coeff

Sig. (2-tailed)

N

.711

.000

102

1

.000.

102

.339

.000

102

.671

.000

102

Ball Possession Correlation coeff

Sig. (2-tailed)

N

.478

.000

102

.339

.000

102

1

.000

.102

.199

.038

102

Status Correlation coeff

Sig. (2-tailed)

N

.492

.000

102

.671

.000

102

.199

.038

102

1

.000.

102

· Angka korelasi antara status dengan shoot adalah +0,492 dengan signifikansi 0,000. Ini berarti menang atau kalah sebuah tim bergantung kepada jumlah shoot yang dilakukan, jika lebih banyak shoot yang dilakukan berarti kemungkinan menang akan lebih banyak. Signifikansi 0,000 yang lebih kecil daripada 0,05 berarti hubungan tersebut benar-benar signifikan. Sedangkan angka korelasi 0,492 merupakan nilai kekuatan korelasinya, karena nilainya hampir mendekati 0,5 berarti korelasinya cukup.

· Angka korelasi antara status dengan shoot on goal adalah +0,671 dengan signifikansi 0,000. Ini berarti menang dan kalah sebuah tim sangat bergantung kepada jumlah shoot on goal yang dilakukan. Semakin banyak shoot on goal yang terjadi semakin besar kemungkinan menang sebuah tim. Angka korelasi 0,671 yang lebih besar dari 0,5 berarti memiliki kekuatan korelasi kuat dan angka signifikansi 0,000 yang masih dibawah 0,05 berarti angka tersebut benar-benar signifikan.

· Angka korelasi antara status dengan ball possession adalah +0,199 dengan signifikansi 0,038. Ini berarti menang dan kalah sebuah tim bergantung pada lamanya tim ”memegang” bola, Semakin lama berarti semakin memperbesar peluang menang. Angka korelasi 0,199 jauh lebih kecil dari 0,5 berarti kekuatan korelasinya tidaklah begitu besar sedangkan angka signifikansi 0,038 yang masih di bawah 0,05 menunjukkan kekuatan korelasi tersebut ada namun tidak begitu signifikan.

Kesimpulan dari uji tersebut menunjukkan bahwa shoot on goal menempati korelasi paling besar atas kemenangan sebuah tim. Dengan memperbesar peluang shoot on goal berarti peluang kemenangan akan lebih besar, dan sebaliknya jika peluang ini lebih rendah mengindikasikan kemenangan akan tidak lebih mudah untuk didapatkan.

Kerja Cerdas itu lebih baik

Statistika menunjukkan shoot, shoot on goal dan ball possession dapat memiliki hubungan positif untuk meningkatkan peluang kemenangan sebuah tim. Jika ditilik lebih lanjut, ternyata shoot on goal merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap menang-kalahnya sebuah tim jika dibandingkan dengan 2 faktor lainnya. Posisi kedua ditentukan oleh shoot dan terakhir oleh ball possession. Secara analogis kita bisa melihat bahwa menerapkan penyelesaian yang mengarah ke sumber “masalah” merupakan sebuah langkah paling efektif untuk memperbesar kemungkinan mengatasi masalah, selanjutnya diikuti dengan banyaknya cara yang dilakukan tanpa melihat apakah itu mengena kepada sumber masalah atau tidak dan yang terakhir bergantung kepada waktu yang diperlukan untuk “menguasai” dan dipakai untuk mengatasi masalah.Aha! Rupanya cukup sederhana untuk menyelesaikan masalah ya, kita seyogyanya harus menemukan apa yang menjadi “sumber” utama atas hambatan yang dihadapi dalam mencapai tujuan kita. Analisa SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, Treat) mungkin salah satu tool paling umum yang kita jumpai untuk menganalisa primary source of problem.Setelah mampu menganalisa dan menentukan sumber masalah, kita perlu untuk menyusun bermacam alternatif cara efektif dan mengarah kepada sumber masalah tersebut. Semakin banyak alternatif cara efektif diharapkan akan memperbesar peluang keberhasilan. Analisa SWOT diri dan sumber daya diri (resources) akan juga banyak membantu dalam menerapkan cara ini.Semua langkah ini merupakan gambaran umum dan makro atas manifestasi kerja cerdas, sesuai dengan falsafah sepakbola “tidak ada yang pasti di dalam sepakbola.” Banyak hal yang mempengaruhi sebuah keberhasilan dan kemenangan, tetapi setidaknya faktor tersebut merupakan umumnya yang menentukan sebuah kemenangan, jadi dengan belajar kepada sepakbola bahwa kerja cerdas merupakan faktor yang umumnya menentukan sebuah keberhasilan menghadapi masalah dan situasi buruk dan tentunya ditunjang faktor penentu lainnya. Siap untuk menang? Mari kerja cerdas dengan shot on goal! Gooooooooll……….!

Filed under: Kreatifitas & Inovasi

Belajar Nilai Sepak Bola = Belajar Nilai Keunggulan!

Oleh : Charly Buchari
“If you have always done it that way, it is probably wrong.” – Charles Kettering
“99 percent of success is built on failure.” – Charles Kettering

Putaran final Piala Dunia Jerman 2006 telah usai, tidak sedikit yang bergembira karena tim jagoan mereka keluar menjadi kampiun pemegang lambang supremasi internasional tertinggi tersebut. Namun, tidak sedikit pula yang bersedih karena jagoan yang dielu-elukan harus pulang lebih dulu sebelum mencapai babak final. Banyak hal yang bisa kita ambil dari ajang yang dikemas secara profesional tersebut. FIFA sebagai pemegang otoritas penuh atas penyelenggaraan ajang 4 tahunan tersebut cukup dapat dibilang sukses, FIFA mengemas setiap pertandingan sebagai sebuah momen yang sangat disayangkan untuk dilewatkan oleh penonton. Tidak itu saja, FIFA pun mengemas detail pertandingan dan menampilkan informasi dan update terbaru kondisi tim dan lainnya.
Tontonan menarik ini seakan menjadi sebuah sarana hiburan yang hampir tidak dilewati oleh penggemar bola, FIFA sendiri mengklaim piala dunia saat ini ditonton lebih dari 1 milyar pasang mata di seluruh dunia. Kegembiraan, kesedihan dan emosi para pemain seakan-akan menular kepada setiap penonton. Decak kagum dan teriakan histeris tidak lagi aneh saat terdengar di malam-malam yang biasanya hening itu.
Setelah ajang tersebut selesai, selain peristiwa selebrasi Italia sebagai Juara Dunia 2006 tidak ada lagi yang dapat kita rasakan selain rasa senang dan puas atas suguhan yang fenomenal tersebut. Betul kah tidak ada lagi yang bisa kita ambil dari ajang internasional tersebut untuk kehidupan pribadi kita? tentu saja masih ada! Bahkan kita dapat menempatkan nilai-nilai sepak bola tersebut pada sikap kita sehari-hari. Menarik ya?
Penulis telah mengumpulan beberapa data statistik resmi semua pertandingan yang dibuat oleh badan sepak bola dunia yaitu FIFA pada situs resminya yaitu di www.fifaworldcup.com dan mensarikan beberapa statistik menjadi sumber analogi atas kehidupan sehari-hari kita. Dalam kesempatan ini, penulis mengambil 3 komponen data statistik yang dianggap bisa mewakili analogi tersebut. Data tersebut adalah Shooting (Jumlah tembakan yang dilakukan), Shoot on Goal (Jumlah tembakan yang mengarah ke gawang lawan), dan Ball Possession (lamanya tim menguasai bola dalam pertandingan tersebut).
Dari 51 kemenangan di putaran final Piala Dunia 2006, berdasarkan statistik resmi milik FIFA tersebut didapat sebagai berikut:
 37 kemenangan (72,55%) didapat setelah melakukan tembakan lebih banyak dari lawan, 12 kemenangan (23,53%) didapat walaupun melakukan tembakan lebih sedikit dari lawan mereka sedangkan 2 kemenangan (3,92%) didapat walaupun melakukan tembakan sama dengan tembakan lawan.
 41 kemenangan (80,39%) didapat setelah melakukan tembakan terarah ke gawang lebih banyak dari lawan, 7 kemenangan (13,73%) diraih walaupun melakukan tembakan terarah ke gawang lebih sedikit dari lawan dan 3 kemenangan (5,88%) didapat setelah melakukan tembakan terarah ke gawang sama dengan lawan mereka.
 28 kemenangan (54,90%) didapat setelah menguasai bola lebih lama dari lawan, sedangkan 18 kemenangan (35,29%) didapat walaupun menguasai bola tidak lebih lama dari lawan dan 5 kemenangan (9,80%) didapat setelah menguasai bola sama lamanya dengan lawan.

Sebelum masuk ke data-data tersebut dan bagaimana implementasinya kepada sikap hidup kita, mari kita menggambarkan pertandingan itu sendiri dengan beberapa kondisi kehidupan kita. Pertama, pertandingan itu kita gambarkan sebagai sebuah kondisi kehidupan dimana kita dihadapkan pada sebuah keadaan dan permasalahan. Kita adalah sebuah tim yang harus menghadapi sebuah tim lawan. Tujuan kita adalah mengalahkan tim tersebut dengan mengimplementasikan strategi dan mengoptimalkan kemampuan kita. Dalam kehidupan kita, lawan adalah kondisi atau secara ekstrim sebagai masalah yang harus diselesaikan, dalam kurun waktu tertentu kita memiliki pilihan yaitu mengatasi masalah itu, tidak menyelesaikannya hingga berlarut-larut sehingga harus dibantu dan “dipaksakan” oleh kondisi lainnya (analogi untuk perpanjangan waktu dan pinalti) atau bahkan harus mengaku kalah tidak mampu menyelesaikannya.
Selanjutnya, shooting adalah penggambaran atas usaha kita melakukan penetrasi kepada masalah yang dihadapi, semakin banyak kita melakukan shooting berarti kita semakin banyak mencoba untuk melakukan berbagai cara untuk mengatasi masalah. Shoot on goal merupakan implementasi dari usaha yang efektif untuk menanggulangi masalah, kita berusaha melakukan penyelesaian dengan berfokus “langsung” ke arah sumber masalah yang diharapkan dapat segera mengatasi masalah. Dan terakhir, yaitu ball possession. Ini merupakan gambaran atas waktu yang diperlukan untuk mengimplementasikan strategi dan “menahan” efek-efek masalah tersebut pada implementasi strategi tersebut, semakin banyak kita memiliki waktu untuk menerapkan rencana penyelesaian kita maka diharapkan kita dapat lebih baik melakukan “serangan” langsung ke sumber masalah.

Penerapan Football Value
Kita kembali kepada data-data statistik tersebut, lebih dari 50% kemenangan itu ditentukan dan didapat jika kita menguasai ketiga elemen penting tersebut. Dari shooting, 72,55% kemenangan ditentukan oleh jumlah tembakan lebih banyak dari lawan, lalu 80,39% kemenangan didapat setelah melakukan tendangan ke arah gawang lebih banyak dan 54,90% kemenangan mencatatkan waktu penguasaan bola lebih lama dari lawan.
Jika kita menganalogikannya kepada sikap cara hidup manusia, lebih dari 50% jaminan atas kesuksesan dalam mengatasi keadaan buruk dan masalah terletak pada banyaknya usaha kita untuk melakukan bervariasi cara penyelesaian, melakukan lebih banyak cara efektif yang memang didasarkan atas tujuan mengatasi “sumber masalah” dan terakhir harus lebih banyak menguasai waktu yang tersedia untuk membuat rencana dan menerapkannya.
Memang, tidak semua keberhasilan mengatasi masalah ditentukan oleh faktor ini. Tetapi setidaknya saat kita dapat menguasai ketiga faktor ini minimal kita telah mencapai minimal 50% jalan untuk mengatasi setiap masalah dan keadaan buruk yang dapat menghadapi tujuan. Secara logika, kalau kita hanya berusaha dengan biasa-biasa saja, seperti halnya dengan statistik kemenangan di atas, potensi untuk menangnya pun tergolong kecil, hanya di bawah 10% saja. Jika kita hanya melakukan “serangan” yang biasa-biasa saja hanya 3,92% saja potensi kemenangan kita, dari segi penerapan cara efektif pun kita hanya berpeluang 5,88% saja untuk menang dan terakhir jika kita memberikan cukup waktu masalah tersebut berkembang sehingga hampir menyamai waktu kita, kesempatan untuk menang pun hanya 9,80% saja.
Kalau begitu, lebih baik kalah dari ketiga hal tersebut saja jika ingin memiliki kemungkinan untuk menang lebih besar, jika kita mengacu kepada data tersebut! Ada benarnya memang, walaupun potensi kemenangan akan tercapai lebih besar dari hanya melakukan yang “biasa-biasa” saja, jika kita tidak unggul sama sekali dari masalah dan kondisi tersebut, kita juga harus kembali melihat bahwa kemungkinan untuk berhasilnya pun masih di bawah 50% dan juga berarti potensi kekalahannya lebih besar dari 50%!
Dari hal tersebut, mungkin akan bijak bagi kita untuk selalu lebih unggul dari masalah yang kita hadapi dengan cara melakukan bervariasi penyelesaian dan implementasi strategi dan rencana lebih efektif. Belajar dari sepak bola pun terasa nikmat seperti memainkan dan menontonnya bukan? Mari belajar lebih banyak dari sepak bola, walaupun kita tidak dapat menjadi bintang sepakbola, kita bisa menjadi “bintang” di bidang kita dengan belajar dari sepak bola! “GOOOOOOOOLLLLLL……….!!!”

Filed under: Kreatifitas & Inovasi

maximize your brain!

oleh Charly Buchari

Sistem pendidikan kita, dan masyarakat modern pada umumnya, bersikap tidak adil terhadap separuh bagian otak. Dalam sistem pendidikan kita saat ini, perhatian yang diberikan kepada belahan otak kanan sangat minimal dibandingkan dengan pelatihan yang berlimpah terhadap belahan otak kiri.

(Roger Sperry, Penerima Hadiah Nobel Laureate Bidang Fisiologi dan Ilmu kedokteran)

Left Brain(Logical, Judging, Evaluating) Right brain(Creative, Idea-generating)
Deals with:

  • Language
  • Logic
  • Linearity (step-by-step approaches)
  • Numbers and sequence
  • Analysis
Deals with:

  • Images/imaginationColors/geometry
  • Pattern, face, and map recognition
  • Rhythm/music
  • Dimension
  • Parallel processing

Pada awal era 1970-an, Dr. Roger Sperry, seorang penerima Nobel untuk bidang fisiologi dan kedokteran, merintis riset yang melahirkan gagasan populer tetnang pemikiran “otak kiri” dan “otak kanan”. Beliau dan koleganya menyimpulkan bahwa kedua belahan otak cenderung mengkhususkan diri pada pemikiran tertentu. Otak kiri bertanggung jawab terutama untuk memproses hal-hal  yang berkait dengan logika, bahasa, perincian, pola pikir matematis dan analisis, sedangkan otak kanan memproses hal-hal yang terkait dengan ritme, warna, hubungan spasial, imajinasi, dan sintesis.Dengan sistem pendidikan yang “lebih” menekankan pada kegiatan “otak kiri” maka “kreativitas dan inovasi” terkubur dengan sendirinya. Sehingga di dunia kerjapun, keteraturan dan efisiensi sering kali mendapat penghargaan dengan mengorbankan imajinasi dan kreatifitas. Akibatnya kita mungkin menyikapi tugas pekerjaan sehari-hari dengan lebih berdasarkan bias “otak kiri” tanpa adanya daya kreatififitas untuk membuat inovasi dalam tugas pekerjaan tersebut.Tidak pernah ada kata “terlambat”, inovasi dan kreatifitas merupakan hal-hal yang tidak tabu untuk dilakukan, pembebasan dan implementasi pemikiran inovatif dan kreatif akan lebih membuat “sehat” pribadi personal secara psikologis dan memberikan manfaat jangka panjang bagi institusi dimana kita bekerja.Selamat berinovasi dan berkreatifitas!sumber:

  1. J. Gelb, Michael: Present Ourself!
  2. Alfaro-LeFevre: Critical Thinking and Clinical Judgment: A Pratical Approach

Filed under: Kreatifitas & Inovasi

miliki kreatifitas untuk menjadi inovatif!

oleh: charly buchari 

“Money never starts an idea; it is the idea that starts the money.”– William J. Cameron

“Imagination is more important than knowledge.”– Albert Einstein

“If you can dream it, you can do it.”– Walt Disney

“The best way to predict the future is to create it.”–Alan Kay

Budaya adalah Total gabungan dari nilai, norma, asumsi, kepercayaan dan cara hidup yang dikembangkan oleh sebuah kelompok orang dan ditransmisikan dari satu generasi ke generasi lainnya.

Inovasi adalah :

  • Adopsi sebuah praktek, proses, atau paradigma baru oleh sebuah komunitas – tidak hanya sebuah produk atau jasa baru.
  • Proses adaptasi, pengaturan atau percepatan dari hal yang telah ada dengan tujuan memberikan nilai tambah.

Kreatifitas adalah Usaha untuk membuat sesuatu menjadi ada dan bersifat unik dimana berasal dari orisinilitas pemikiran yang umumnya tidak muncul dengan cara yang biasa.

Banyak perusahaan yang berupaya untuk menciptakan budaya yang baik untuk mencapai visi dan misi-nya, salah satu budaya yang banyak dikembangkan oleh perusahaan adalah inovatif. Jika kita berada pada satu dari sekian banyak institusi pekerjaan yang salah satu budayanya adalah inovatif, maka bersyukurlah dan itu adalah berita bagus! Kalau ada berita bagus tentu ada berita buruknya, berita buruknya adalah banyak dari kita menginginkan budaya itu segera terwujud dalam satu malam saja!

Menurut pendapat berbagai ahli, proses inovasi lebih banyak ditentukan oleh bentuk kreatifitas. Jadi hal ini harus menjadi primary mainframe semua elemen dalam institusi yang ingin menumbukan budaya inovatif.

Memulai proses kreatifitas elemen krusial terkecil institusi—yaitu Sumber Daya Manusia-nya—merupakan langkah konkrit, memulai dengan menciptakan kreatifitas pada bidang kerja setiap hari pada akhirnya akan memberikan sebuah hasil efisien dan maksimal.

Pengungkapan ide kreatif pada suatu forum dan memberikan reward atas ide kreatif yang dinilai meningkatkan efektifitas kerja akan mendorong ide kreatif lain yang lebih kreatif tentunya!

Semoga bermanfaat dan selamat menjadi pribadi inovatif!

Pustaka:

1. Creating A Culture of Innovation dari www.ideachampion.com

2. Quote of The Day dari www.ideachampion.com

Filed under: Kreatifitas & Inovasi

culture : creativity booster!

oleh: Charly Buchari 

“What is now proved was once only imagined.” – William Blake

“Discovery is seeing what everybody else has seen, and thinking what nobody else has thought”. – Albert Szent-Gyorgi

 

Diyakini banyak orang bahwa kultur atau budaya merupakan hal penting untuk menciptakan sebuah kepribadian personal. Ada pepatah mengatakan: "Jika ingin jadi harimau, masuklah ke kandang harimau dan engkau akan mengaum!" Pola pikir dan kepribadian akan banyak ditempa oleh yang namanya lingkungan yang memiliki kultur tertentu.

Bagaimana dengan kreativitas? jika ingin punya kreatifitas dan inovasi tinggi tentunya kita harus berada pada sebuah lingkungan berkultur inovatif dan kreatif. Tapi bagaimana kita dapat mengidentifikasi lingkungan berkultur kreatif? Kreativitas tumbuh di lingkungan yang memiliki kultur yang tidak takut akan kesalahan atau dipandang aneh, karena kultur itulah yang menyuburkan timbulnya pertanyaan dan menghormati buah pikiran. Kreativitas subur di kultur yang punya rasa ingin tahu, penuh pertanyaan, menghargai buah pikiran dan ceria. Kreativitas selalu terjadi pada orang yang menatap ke depan nun di sebelah sananya tikungan jalan dan berupaya mengantisipasi kekurangan dan masalah yang dihadapi untuk mencapai satu visi/tujuan yang dicanangkan sebelumnya.

Sekecil apapun inovasi yang dihasilkan, semua itu tentu didorong oleh kultur. Contoh inovasi yang terkesan "remeh" namun berarti besar bagi orang lain dapat dilihat pada sebuah hotel. Ceritanya: Pada suatu pagi, seorang penghuni hotel harus check out sangat pagi sekali sebelum mendapat hidangan sarapan pagi. Pihak hotel-pun melalui resepsionis sudah menyiapkan bungkusan kecil yang dikemas cukup menarik yang berisi makanan ringan, setidaknya si penghuni hotel pun tidak kelaparan untuk sementara waktu, hingga dia menemukan toko makanan atau resto yang telah buka. Kesan dihargai/empati hotel bagi penghuni hotel adalah salah satu buah hasil inovasi kecil.

Mungkin kita bisa menyebutkan kebutuhan adalah ibu dari invention/penemuan dan inovasi tetapi kita juga dapat menyatakan bahwa ayah dari inovasi itu sendiri adalah rasa keingintahuan, absurditas, ketidakpuasan, keceriaan, pertimbangan, imajinasi atau kombinasi dari hal-hal tersebut.

Tips kreatif:

 

1. Ciptakan waktu untuk menjadi kreatif . Idealnya lakukan tiga bulan setahun, di luar kantor (di hotel di luar kota). Lakukan brainstorminhg . Cari tahu apa saja guna batu bata, katung teh, atau apa saja yang tidak berkaitan dengan yang kita lakukan di kantor. Hal ini diyakini akan membentuk suatu sikap yang dibutuhkan untuk terciptanya kreatifitas dan inovasi (seperti rasa ingin tahu). Jika sikap ini telah menjadi kebiasaan maka dapat diterapkan pada hal-hal yang kita hadapi di kantor. Suatu penyelesaian atas jawaban-jawaban itu tentunya tidak bersifat imajiner tetapi dapat dilakukan/diwujudkan( workable, doable ). 

 

2. Start an 'Idea of the Month Club.' Ajaklah seluruh karyawan mulai mempertanyakan dan memandang sesuatu dengan kritis dengan menanyakan: "Bagaimana membuat hal ini lebih baik? Bagaimana kita memperbaiki pengalaman buruk pelanggan? Bagaimana cara saya memberikan nilai tambah pada produk ini?" Ditambah dengan dukungan dan perhatian dari institusi kerja berupa reward untuk inovasi dan hasil kreatifitas yang dapat diwujudkan/diterapkan, akan membuat kultur itu akan mengental dan menstimulasi ide-ide kreatif dan inovatif lanjutan untuk mencapai visi/tujuan yang telah dicanangkan.

 

3. Berinvestasi dalam kreativitas . Di toko buku banyak terdapat buku dan yang lainnya yang baik untuk melepaskan diri Anda dan karyawan Anda dari keterikatan rutinitas keseharian kantor. Ada banyak mainan. Bersenang-senanglah! Karena diyakini bahwa imajinasi akan lebih tergambarkan dengan melakukan hal yang disenangi, ini berarti berinvestasi untuk kreativitas.

 

sumber:

1. Artikel: kreativitas subur di kultur yang tidak takut salah atau berbeda ( http://www.pasarinfo.com/artikelhtml/772/5516.asp)2. Quate of The Day (www.ideachampion.com)

Filed under: Kreatifitas & Inovasi

Psycho-Marketing

Oleh Charly Buchari 

“If you can dream it, you can do it.”– Walt Disney

“The best way to predict the future is to create it.”– Alan Kay

Berapa harga rata-rata satu porsi makanan cepat saji yang sering kita nikmati hampir setiap harinya, 5 ribu, 10 ribu, 20 ribu atau 50 ribu? Pergeseran nilaipun bergeser, nominal 5 ribu hingga 10 ribu pun sekarang menjadi nilai yang tidak besar lagi, bahkan di beberapa kalangan angka tersebut sebagai “uang receh.”

Mari kita jalan-jalan ke sebuah restoran pizza untuk sekedar “mengganjal” perut ini. Sudahlah jamak bagi kita kalau kita datang pada sebuah restoran cepat saji akan ditawarkan bermacam-macam paket makanan, mungkin saja namanya Pake Hemat 1, Paket Hemat 2, Paket Combo dan sebagainya. Jika kita memilih paket hemat 1 barangkali kita akan mendapatkan paket standar, paket hemat 2 mungkin makanan seperti yang di paket hemat 1 ditambah jenis lain, dan seterusnya.

Ada yang unik di sebuah restoran pizza, terdapat 2 paket menarik yang mereka tawarkan. Pertama paket A dimana terdapat pizza standar seharga Rp 5.000,00 dan konsumen dapat menambahkan jenis bahan lain dengan harga Rp 500,00 per jenis bahan tambahannya. Paket lainnya yang dinamakan pake B adalah paket full/lengkap seharga Rp. 10.000,00 dan konsumen juga memiliki hak untuk mengurangi jenis bahan yang tidak diinginkan dan harga pizza akan berkurang Rp 500,00 untuk setiap jenis bahan yang dikurangi. Timbul pertanyaan atas paket yang unik tersebut, mengapa restoran pizza tersebut menerapkan strategi ini dan paket mana yang paling laku.

Sorang ahli pemasaran Irwin Levin dan beberapa rekannya melakukan penelitian di beberapa negara termasuk negara asal pizza yaitu Italia, menemukan sebuah hasil fenomena yang unik, ternyata Paket B lebih menguntungkan dari Paket A bagi restoran pizza yang dijadikan sampel tersebut. Berdasarkan tulisan Harry Susianto, Pengajar Perilaku Ekonomi Fakultas Psikologi UI di Tabloid KONTAN No. 27 Tahun X edisi 10 April 2006, bahwa manusia lebih cenderung mempertahankan yang dikuasainya dari pada melepaskannya, terdapat sensasi “rugi” jika harus melepas banyak hal yang akan didapatkan walaupun dengan kompensasi membayar lebih.

Pada kasus pizza di atas, untuk konsumen yang memilih paket A, mereka lebih cenderung menambahkan jenis bahan yang lebih sedikit yang berarti menambahkan lebih sedikit, bentuk ekualitasnya, konsumen telah memiliki sebuah barang yang dianggap sesuai dengan standar mereka, dan memiliki kesempatan menambahkan hal-hal ekstra yang mereka fikir pada saat itu “tidak diperlukan” maka konsumen akan cenderung menambah sedikit saja atau bahkan tidak menambah sama sekali. Untuk konsumen yang memilih paket B, mereka cenderung mengurangi jenis bahan yang telah ada, secara umum, konsumen pada jenis ini telah menganggap hal tersebut sesuai dengan kebutuhannya atau dengan kata lain sesuai dengan standar mereka, dan mereka akan lebih cenderung mempertahankan standar tersebut dengan cara mengurangi fitur-fitur lebih sedikit atau bahkan tidak mengurangi sama sekali walaupun dengan kompensasi membayar lebih tinggi. Pada prakteknya dalam sistem pemasaran, penghasil barang atau jasa mengemas sebuah paket ultimate atas produk mereka yang memberikan fitur lebih dari standar dan memberikan pilihan konsumen untuk mengurangi fitur yang telah ada pada produk barang atau jasa tersebut dengan kompensasi pengurangan harga produk tersebut. Dengan pizza, teori tersebut sukses berat, mau mencoba untuk bidang produksi barang atau jasa kita sekarang?

Filed under: Manajemen

Blog Stats

  • 38,466 hits

 

November 2009
S S R K J S M
« Sep    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Klik tertinggi

  • Tidak ada